Ini agar Tidak Kualat dengan NU

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Ini agar Tidak Kualat dengan NU

Sabtu, 06 April 2019

Beberapa orang muncul dengan keangkuhannya mengaku ingin menyelamatkan Nahdlatul Ulama. Mereka berdalih dengan beragam argumentasi yang dibuat-buat bahwa NU telah menyimpang dari garis yang ditetapkan oleh pendirinya, yakni Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.

Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai bahwa orang-orang tersebut belum pernah bersitatap dengan cermin.

"Orang yang katanya ini menyelematkan NU ini orang gak pernah berkaca ini orang yang gak tahu ukuran kepalanya sendiri," katanya saat menjadi narasumber pada Halaqoh Cinta di GOR Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (4/4).

Melihat fenomena itu, Gus Yahya, begitu ia akrab disapa, mengingatkan agar jangan sampai kualat sendiri. Satu hal agar kualat tidak terjadi.

"Satu yang penting menjadikan kualat, jangan menyelisihi assawadul a’dham min (golongan besar dari) ulama NU," ujar anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu.

Gus Yahya menegaskan bahwa kualat tidak peduli orang tersebut bernasab tinggi, atau berilmu luas. Jika menyelisihi golongan besar ulama NU, maka ngobos (fungsinya tidak berjalan).

"Kalau gak mau ngobos, ikut NU!" Tandas Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu.

Halaqoh Cinta ini digelar dalam rangka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Selain Gus Yahya, kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU Sabrang Damar Mowo Panuluh atau yang dikenal Noe Letto.

(Syakir NF)