Mesti Ekstra Sabar Puasa di Pakistan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Mesti Ekstra Sabar Puasa di Pakistan

Senin, 11 Juni 2018


Nadya Hidayah (kiri) saat dikukuhkan sebagai pengibar bendera oleh KBRI Islamabad (2016)

Es buah dan kolak menjadi dua hal yang paling dirindukan oleh Nadya Hidayah tatkala berpuasa di Pakistan. Pasalnya, ia tak bebas menemukan dua makanan itu sebagaimana di Indonesia.

Nadya juga tak menemukan makanan khusus yang hanya atau sering disediakan di bulan Ramadhan. “Enggak ada makanan khas. Makanan biasa dimakan tiap hari,” ujarnya kepada Media Buntet Pesantren, Kamis (31/5).

Masakan di sana, menurut Nadya, kebanyakan kari dan kebab. Chicken karahi dan qema adalah dua di antaranya.

Kesabaran ekstra memang harus diemban masyarakat Indonesia di sana. Selain karena faktor di atas, hal lain yang mengharuskan kesabaran yang ekstra adalah puasanya yang tiga jam lebih lama dari puasa di Indonesia, tepatnya 15 jam. Demikian itu diperparah dengan suhu yang mendekati 50 derajat celsius.

“Musim panas di sana panas sekali. Suhu nya sampai 40° lebih,” katanya kepada Media Buntet Pesantren, Jumat (1/6).

Nadya menceritakan bahwa masyarakat Pakistan saban sore juga ngabuburit dengan mencari makanan. Tetapi, katanya, mereka tidak berbuka bersama di tempat tertentu seperti di Indonesia. Mereka lebih gemar berbuka di rumah. Sementara ia setiap minggu buka bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

“Kalo saya tiap minggu ada bukber di KBRI bareng orang-orang Indonesia yang tinggal di sana,” kata alumni Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Buntet Pesantren, Cirebon, itu.

Setiap tahun, kata Nadya, KBRI mengundang pelajar dan masyarakat Indonesia yang berada di Pakistan untuk buka bersama. Menurutnya, itu dilakukan untuk meningkatkan kebersamaan.

Nadya Hidayah bersama rekan-rekannya di Masjid Faisal
Di sana, perempuan yang pernah mengenyam studi di ASAS International School Islamabad itu bertarawih sebanyak 20 rakaat ditambah witir tiga rakaat setiap malamnya. Perempuan di sana hampir tidak ada yang berjamaah di masjid. Hanya Masjid Faisal, masjid yang dibangun oleh Raja Faisal Arab Saudi (1968), yang menerima jamaah perempuan.

Para pelajar dan masyarakat Indonesia, terang Nadya, biasanya beriktikaf di masjid KBRI untuk menghabiskan 10 hari terakhir Ramadhannya.

(Syakir NF)