Puasa di Jerman Menantang

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Puasa di Jerman Menantang

Minggu, 27 Mei 2018


Mas Dede saat di jalanan Kota Koln, Jerman

Butuh waktu 19 jam untuk berpuasa di Jerman. Pukul 10 malam muslim di sana baru bisa menikmati buka setelah terakhir menikmati sahur pada pukul tiga pagi. Tokoh muda Buntet Pesantren Muhammad Abdullah Syukri yang sempat menempuh studi di sana menyatakan hal itu sebagai tantangan.

“Menantang. Tapi bisa kok. Yang penting niat,” katanya diiringi tawa kepada Media Buntet Pesantren pada Ahad (20/5).

Pada awal-awal ia memang merasa lemas. Tapi setelahnya, biasa. Bahkan, kata pria yang akrab disapa Mas Dede oleh masyarakat Buntet Pesantren itu, puasa seperti tak berasa setelah ia sudah kembali tinggal di Indonesia lagi saat ini.

“Malah pas pulang ke Indonesia tidak terasa puasa,” kata alumnus Universitas Duisber Essen itu.

Mas Dede menuturkan bahwa masyarakat asli Jerman heran ada orang bisa menahan lapar dan dahaga seharian penuh. “Aneh, katanya, kok bisa gak makan seharian full,” kata pria yang pernah tinggal di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, itu.

Pengurus PB PMII itu menceritakan bahwa tarawih di masjid Jerman tak berbeda dengan yang ia temui di Indonesia, yakni 23 rakaat dengan witir. Bangsa Turki dan Arab yang banyak membangun masjid di sana, katanya.

Masjid di sana, cerita Mas Dede, setiap hari memberikan takjil untuk jamaahnya. Namun, jamaah tidak setiap hari mendapatkan makan. “Di masjid hari-hari tertentu ada bukber. Tapi tidak gak setiap hari,” pungkasnya.

Syakir NF