Siswa MAN 3 Cirebon Ajak Santri Lanjutkan Perjuangan Kiai dengan Teater

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Siswa MAN 3 Cirebon Ajak Santri Lanjutkan Perjuangan Kiai dengan Teater

Jumat, 06 April 2018


Tim Kreatif Seni Alif (TKSA) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kabupaten Cirebon menampilkan teatrikal peristiwa perang 10 November 1945 pada Halaqah Kebudayaan yang digelar di GOR Mbah Muqoyyim, Kamis (5/4/2018).

Penampilan ini dibuka dengan lantunan ayat suci Alquran Surat Arrahman. Usai lantunan ayat suci, penampilan itu dilanjutkan dengan kemunculan pasukan pembawa bendera TKSA, Merah Putih, NU, dan IPNU IPPNU Komisariat MAN 3 Kabupaten Cirebon.

Dalam aksi peran itu, juga juga dibacakan puisi resolusi jihad.

“Namun, kami bangsa Indonesia tidak rela kembali dijajah. Indonesia setelah merdekat tetap merdeka dan harus tetap meredeka,” ucapnya dengan intonasi yang diatur sedemikian rupa.

“Merdeka atau mati?! Sekali merdeka atau merdeka!”

Ulama sepuh Hadratussyaikh merasa berat atas penderitaan umat. Karena penjajahan masih berlangsung, Mbah Hasyim mengumpulkan ulama se-Jawa Madura. Mereka membahas hal tersebut dan menghasilkan resolusi jihad.

Cerita yang dikisahkan melalui puisi itu disambut gegap gempita.

“Dan bahkan maut pun menjadi kecil,” ujar pembaca puisi itu.

“Tidak ada alasan untuk tidak mencintai tanah air kita, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia. Indonesia adalah sajadah kita,” katanya.

Pasukan pembawa bendera pun kembali ke belakang panggung bersama pembaca puisi.

Penyerangan

Saat warga tengah sibuk dengan pekerjaannya di ladang. Belanda menyerang tiba-tiba. Sontak mereka lari. Tapi seorang berbadan gempal belum sempat berlari sudah dihadang lima prajurit Belanda. Dengan sekali hentakan, lima orang itu mental.

Peristiwa tersebut sontak mengundang tawa para penonton. Tak terkecuali Sujiwo Tejo dan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani yang melepaskan tawanya.

Ketika Kiai Abbas hendak memimpin jamaah Subuh, orang berbadan gempal itu datang memberitahu Kiai Abbas. Jamaah pun seketika bubar karena Belanda telah datang.

Peritiwa penyerangan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Tejo. Ia mengabadikan momen tersebut dengan ponsel pribadinya.

Dua jamaah berhasil menaklukkan dua prajurit yang menyerbu. Sementara dua jamaah lainnya kalah beradu.

Sementara pria gempal tadi terus membuntut di belakang Kiai Abbas. Saat Kiai Abbas hendak ditembak oleh tentara Belanda itu, pria gempal itu datang menghalau dan dia gugur seketika. Kiai Abbas pun langsung mengambil kesempatan untuk menyerang dengan memukul tangan prajurit itu sehingga senjatanya lepas. Lalu, Kiai Abbas melanjutkan dengan pukulan berikutnya. Puncaknya, prajurit  itu tersungkur jatuh dengan kibasan sorbannya.

“Bahwa wajib hukumnya membela kemerdekaan. Siapapun mereka yang berperang membela kemerdekaan, mereka syahid di jalan Allah.”

Dengan mengenakan sarung dan berjas, Kiai Abbas itu mengibaskan sorbannya kepada koloni yang menyerangnya hingga penjajah itu jatuh tersungkur.

Penampilan ini ditutup dengan menyanyikan lagu Tanah Airku. Puncaknya, salah seorang pemain mengatakan, “Perjuangan santri tidak berhenti sampai di sini. Teruskanlah perjuangan para kiai. Bangkitlah santri!”

Syakir NF