Buntet Pesantren atau Pesantren Buntet?

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Buntet Pesantren atau Pesantren Buntet?

Minggu, 03 Desember 2017
Masjid Agung Buntet Pesantren Cirebon

Tak sedikit orang bertanya-tanya perihal penyebutan Buntet Pesantren. “Kok Buntet Pesantren, bukan Pesantren Buntet?

Masyarakat Buntet Pesantren menyebutnya Buntet Pesantren, bukan Pesantren Buntet. Hal tersebut bukan sekadar perbedaan penyebutan dengan nirmakna, tetapi dengan beberapa alasan.
Jika dilihat dari bentuknya, frasa, dua kata tersebut memiliki hubungan frasa endosentrik atributif. Buntet merupakan unsur pusatnya (UP), sedangkan pesantren merupakan unsur atributif (Atr). 

Keduanya berkategori nomina, sehingga gabungan dua kata ini disebut sebagai frasa nominal. Jika kita kiaskan ke bahasa Arab, dua kata tersebut termasuk kategori tarkib idlofi. Buntet sebagai mudlof, sedangkan mudlof ilaih-nya adalah pesantren.

Melihat hal tersebut, nampaknya, orang Buntet Pesantren ingin lebih menunjukkan nama daerahnya ketimbang kepesantrenannya. Hal ini pula yang menjadi gambaran, betapa orang pesantren sangat cinta akan daerahnya.

Lain halnya dengan pandangan KH Ade Nasihul Umam. Beliau mengiaskan hubungan dua kata itu dengan susunan tarkib mazji atau kata majemuk, yakni dua kata yang menyatu menjadi satu kata yang melahirkan makna baru.

Buntet Pesantren sudah membentuk dirinya sebagai sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Dua kata tersebut sudah secara sima’i, begitu Kiai Ade menyebutnya, sebagai sebuah nama wilayah yang di dalamnya terdapat pelajar yang turut tinggal guna mempelajari ilmu agama, dan tokoh-tokoh agama, serta masjid sebagai pusat studinya. Artinya, dua kata itu terus menerus disebut-sebut dan diperdengarkan sehingga membuahkan ijmak sukuti, begitu bahasa Fikihnya. Masyarakat sepakat, dalam arti tidak ada penolakan, akan dua kata dengan susunan begitu sebagai nama daerahnya.

Hal ini bahkan terucap, entah sengaja atau tidak, oleh K.H. Hasanuddin Kriyani, salah satu kiai sepuh di Buntet Pesantren. Saat memberikan mauidzoh hasanah pada Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw 1439 H, Kamis (30/11/2017), di Masjid Agung Buntet Pesantren, mengatakan, “Saya berharap kalian semuanya bisa untuk mengamalkan apa yang telah kalian pelajari, kalian dapat dari Pesantren Buntet Pesantren ini.” (Lihat dan simak pada link berikut di menit 59)

Dua alasan (frasa dan kata majemuk) ditambah dengan dawuh kiai sepuh setidaknya sudah menguatkan penyebutan Buntet Pesantren atas wilayah yang termasuk ke dalam tiga desa itu, yakni Mertapada Kulon, Munjul, dan Buntet.


Syakirnf