Sejarah Tilawatil Quran

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Sejarah Tilawatil Quran

Selasa, 13 Juni 2017

KH Muhadditsir Rifa'i (tengah) bersama santri-santrinya usai Khatmil Quran Riwayat Khalaf dan Qolun



Tilawatil Quran sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Ini didasarkan pada ayat, yatlu alaihim...

KH Muhadditsir Rifai menjelaskan bahwa kata yatlu mengandung dua penafsiran. Pertama, ulama berpendapat bahwa kata tersebut mengandung makna membaca, memahami, dan mengamalkan. Golongan ulama kedua menyatakan bahwa diksi yatlu bermakna membaca bittaghonni, dengan lagu. Pendapat kedua ini juga mengandung dua penafsiran. Lagu yang dimaksud adalah dengan mengindahkan tajwidnya.

"Tajwid itu kan untuk mengindahkan bacaan Alquran," ujar ketua dewan hakim MTQ Kabupaten Cirebon cabang Qiroat Sab'ah tersebut.

Pendapat kedua, bittaghonni yang dimaksud adalah lagu-lagu yang seperti kita dengar saat ini, ada bayati, saba, nahawan, ras, sika, jiharkah, dan Hijaz. Lagu-lagu tersebut menurut Kang Hadis, panggilan akrab KH Muhadditsir Rifai, kali pertama dikenalkan di Indonesia oleh KH Bashori Alwi Sidogiri.

Salah satu bukti sejak zaman Nabi sudah ada tilawatil quran bittaghonni adalah adanya kisah Sahabat Ibnu Mas'ud. Setiap bakda Subuh, Rasulullah mendengarkan Ibnu Mas'ud melantunkan Alquran. Diceritakan dalam berbagai kitab, saking indahnya lantunan Ibnu Mas'ud membaca Alquran, angin sampai berhenti. Sahabat Nabi yang satu ini memang dikenal memiliki suara emasnya Nabi Daud As.


Selanjutnya, tilawatil quran semakin berkembang dengan diadakannya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Perhelatan tahunan itu pertama kali dimusabaqahkan sekitar tahun 1970-an oleh Nahdlatul Ulama yang kemudian pada tahun berikutnya diadopsi oleh pemerintah sebagai ajang tahunan.

KH Fuad Zen Buntet Pesantren adalah qori pertama yang menjadi juara pada MTQ yang digelar pertama kali. Kiai Fuad juga berhasil menjuarai pada tingkat internasional. Gelaran tahunan itu kedua kali dijuarai oleh KH Ahmad Syahid pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Cicalengka Bandung. Salah satu dewan hakim pada MTQ tingkat nasional pada tahun 1975 di Palembang adalah KH Jawahir Dahlan Buntet Pesantren.