Wong Buntet Pesantren ning Jerman : Belajar dari Konflik Afghanistan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Wong Buntet Pesantren ning Jerman : Belajar dari Konflik Afghanistan

Sabtu, 25 Februari 2017
Mas Dede (berkacamata) bersama Parwiz Habib di Jerman, Rabu (22/2/2017)
Tiga hari lalu, Muhammad Abdullah Syukri Kriyani yang saat ini sedang melanjutkan studi S2 di Jerman mengadakan diskusi daring melalui aplikasi live streaming Facebook, Rabu, (22/02/2017).
 
Bersama dengan rekannya, Parwiz Habib, konsultan untuk pemerintah Afghanistan, Mas Dede, panggilan akrab Muhammad Abdullah Syukri, membincang secara khusus konflik yang terjadi di Afghanistan. Bincang dua warga beda kebangsaan itu juga diselingi topik ringan seperti budaya dan hal-hal unik dari negara tersebut.
 
Ada tiga poin penting yang dicatat Mas Dede dari diskusi sepanjang satu jam delapan belas menit itu.
 
Pertama, Kang Abdullah Syukri mengimbau agar kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Jangan sampai kelompok radikal menguasai Indonesia. Hal ini merujuk dari kasus yang terjadi di Afghanistan kala kelompok Taliban mengganggu stabilitas negara dan menghancurkan situs-situs bersejarah di Afghanistan.
 
Kedua, konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah bukan konflik agama, tetapi konflik multi dimensi yang utamanya memperebutkan sumber daya alam dan keterlibatan negara-negara asing dalam perang yang terjadi.
 
Ketiga, Parwiz juga menjelaskan tentang langkah-langkah recovery dari pemerintah untuk membangun Afghanistan pascaperang.
 
Diskusi daring ini menarik banyak perhatian. Sampai saat ini, sudah lebih dari 1000 penonton. Saat live, lebih dari 500 akun menyaksikan diskusi tersebut secara langsung.
 
Selengkapnya silakan simak melalui rekaman videonya berikut.