Haul Bukan Mengkultuskan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Haul Bukan Mengkultuskan

Senin, 11 April 2016
KH. Nahdudin Royandi Abbas, meski duduk di kursi, gestur tubuhnya begitu menunjukkan ketawaduan beliau
Bapak Drs. Lukman Hakim Saifudin, seorang menteri namun rela duduk di bawah demi ta'dzim dan takrim pada Kiai Nahdudin
Dokumentasi Ahmad Rofahan
Karena merasa dirinya tidak bisa dipisahkan dari pesantren, Menteri Agama Republik Indonesia K.H. Lukman Hakim Saifuddin rela meninggalkan muktamar partainya demi menghadiri Haul Buntet, Sabtu (9/4/16). "Kehadiran saya di sini menunjukkan bahwa saya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pesantren" ujar Putra KH. Saifudin Zuhri, seorang ulama yang pernah menjadi pengurus PBNU dan Menteri Agama
Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan bahwa haul bukanlah upaya untuk mengkultuskan tapi sebagai sarana untuk meneladani para kiai. Selain itu juga untuk mendoakan mereka.

"Bukan untuk Mengkultuskan, tapi untuk meneladani," ujarnya.

Menteri Agama tengah memberikan sambutan
Dokumentasi Ahmad Rofahan

Haul Buntet Pesantren dimulai sekitar 106 tahun yang lalu, menurut keterangan dari K.H. Adib Rofiuddin. Saat itu, K.H. Abdul Jamil pertama kali menghauli ayahandanya, K.H. Mutaad. Beliau menghauli ayahnya itu empat kali.

"Pertama kali Haul Buntet adalah ketika K.H. Abdul Jamil menghauli K.H. Mutaad. Sekitar 106 tahun dan beliau menghauli 4 kali," tutur Kiai Adib dalam sambutannya sebagai Ketua YLPI Buntet Pesantren.

Sepeninggal beliau, haul dilanjutkan oleh putranya K.H. Abbas dibantu dengan adik-adiknya K.H. Anas, K.H. Ilyas, K.H. Akyas dan K.H. Ahmad Zahid. Dan sampai saat ini, haul tetap dan akan terus dilestarikan sebagai tradisi Buntet Pesantren.
KH. Adib Rofiuddin Izza tengah memberikan sambutan
Dokumentasi Ahmad Rofahan