Membangun Mimpi di Tanah Sendiri

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Membangun Mimpi di Tanah Sendiri

Selasa, 08 Desember 2015
Aaf Iffatunnafsi sedang bercerita di depan anak-anak yang berkunjung ke TBM yang didirikannya (7/12)
Di saat teman-temannya yang masih di ibukota dengan penghasilan yang lumayan, ia rela memilih pulang demi tugas membangun desa. Meski beberapa kampus elit ibukota telah memanggilnya untuk menjadi tenaga baru. Tapi, ia bersikukuh dengan pendiriannya yang mengharuskan pulang ke kampungnya. Tawaran penghasilan yang menggiurkan tidak mematahkan keputusannya untuk kembali ke tanah kelahiran.

Di Cirebon, ia kembali. Tak peduli dengan apa yang tersebut sebagai gaji. Ia sudah tidak lagi memikirkan itu. Karena satu yang muncul di benaknya adalah bakti. Ia pulang untuk mengurusi orang tuanya yang sudah tidak lagi seperti dulu.

Di tanah berkah itu, ia kembali. Selain bakti pada orang tuanya yang sudah menginjak setengah abada lebih usianya, mengasuh anak bangsa juga ia lakukan wujud bakti terhadap negeri.

Ia dengan inisiatifnya, mengajak teman-teman sebayanya yang dulu saat masih kecil bermain bersama, untuk membangun mimpinya. Mimpi yang terus didengungkan oleh salah satu dosennya ketika kuliah. Hingga terus terngiang di telinganya. Sampai pun ketika ia telah kembali ke kota ibu.

Di saat teman-temannya sibuk mengurus kelanjutan studinya, di tengah teman-temannya yang sudah menikmati penghasilannya, ia masih berlari mengejar mimpinya. Mimpi yang sangat sederhana. Mimpi yang mungkin tidak termimpikan oleh pemimpi-pemimpi lain. Untung, teman-teman dan saudaranya mendukung penuh mimpinya itu. Tidak ada yang menghalangi. Adik-adik putri tetangganya yang masih sekolah juga dengan sukarela membantunya dengan niat sambil belajar.

Di tengah kobaran semangatnya, tetiba ada air yang ingin memadamkannya.

"Untuk apa sih kamu capek-capek membuat itu dengan biaya sendiri lagi dan kamu gak dapet pemasukan lagi?! Malah tekor iya." begitulah air kotor itu ingin mematikan semangatnya.

Dia seolah tutup telinga. Pura-pura tidak mendengarnya. Dia menjawabnya dengan bercerita ke orang lain.

"Budaya baca masyarakat kita sangat rendah. Masyarakat kita juga belum mampu membeli bahan bacaan karena untuk makan sehari-hari saja sudah untung"

"Saya hanya ingin ilmu yang selama ini saya pelajari itu bermanfaat untuk orang lain. Salah satunya, saya harus mempraktikkan di lapangan tentang apa yang telah saya pelajari selama kuliah di ibukota"

"Dan lapangan itu ya desa saya"

Saat ini, di dekat rumahnya, telah dibuka Taman Baca Masyarakat. Selain mempersilakan siapa saja untuk membaca dan meminjam koleksinya dengan syarat mendaftar sebagai anggota, Taman Baca Masyarakat yang didirikannya juga mengadakan story telling. Ia mendongeng untuk anak-anak TK dan SD. Koleksinya meliputi banyak bidang; sastra, sejarah, bacaan anak, sains, pendidikan, dan sebagainya.

Kini, ia semakin mantap tinggal di kota ibu setelah ia dipercaya bersama teman-teman sebayanya yang lain untuk membangun Perpustakaan Umum Buntet Pesantren.

"Mari memulai gerakan membaca," begitulah mottonya.

Tetaplah berjuang membangun negeri. Hasil tidak akan membohongi proses.