Empat Sudut Kupat

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Empat Sudut Kupat

Selasa, 18 Agustus 2015
Dr. K.H. Manarul Hidayat, M.A.
Sumber: assalafiebabakan.or.id
Dalam kesempatan mauidzoh hasanahnya pada Halal Bi Halal Iklab Buntet Pesantren Cirebon yang diadakan di Pondok Pesantren Fathul Khoir, Harjamukti, Depok (16/8), Dr. K.H. Manarul Hidayat, M.A., menyampaikan empat makna yang terkandung dalam empat sudut kupat.
Banyak yang menyatakan bahwa kupat itu akronim dari ngaku lepat (mengakui kesalahannya). Dalam hal ini, Kiai yang juga Ketua Majlis Pembina Iklab Pusat menyatakan bahwa kupat itu akronim dari laku sing papat (empat perlakuan).
“(Kupat) iku  singkatan laku sing papat”, ungkapnya.
Apa saja sih empat perlakuan itu, berikut penjelasan Kiai Manarul.
“Yang pertama Lebar (pepet). Selesai satu bulan (puasa) alhamdulillah kita lebaran”, ujarnya mengawali penjelasan empat perlakuan tersebut.
Setelah kita berpuasa selama sebulan penuh, kita diberi kebahagiaan. Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan, yakni bahagia berbuka dan bahagia bertemu Tuhannya.
“L yang kedua Lebur. Dosa kita lebur gara-gara puasa kita sebulan”, lanjutnya.
“(pertama) Lebar, (kedua) Lebur, (ketiga) Luber pahala kita”
“L yang keempat Labur”

Setelah pahala kita bertambah dan dosa kita lebur, maka kemudian kita dilabur (dihias) dengan cahaya. Makanya Kiai Manarul menyatakan bahwa bungkus dari kupat itu adalah janur yang berasal dari bahasa Arab, yakni jaa nur (cahaya telah tiba).