Menambah Ketaqwaan kepada Yang Maha Agung Melalui Ciptaan-Nya

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Menambah Ketaqwaan kepada Yang Maha Agung Melalui Ciptaan-Nya

Jumat, 20 Februari 2009
Oleh Kholid Nurul Alam (juara II)

Hakekat Masalah
Seiring
perkembangan zaman yang semakin modern, umat manusia semakin terbuai
oleh teknologi, mereka di manjakan dengan fasilitas teknologi dan
berbagai produk teknologi yang membuat mereka lupa akan kebesaran Sang
Khalik.
Ada dua teori perubahan sosial dan sosiologi. Pertama,
proses perubahan yang di mulai pada diri manusia secara individu
(perorangan), kemudian di lanjutkan pada perubahan sosial pada level
masyarakat dan kemudian diakhiri pada proses perubahan pada level
sistem sains dan teknologi. Kedua, proses perubahan sosial yang dimulai
dari perubahan sistem sains dan teknologi, kemudian merambat pada
perubahan level masyarakat, dan diakhiri perubahan pada level
individual.
Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 berbunyi sebagai berikut :

“Wahai
orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerkjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At tahrim : 6)

Berdasarkan
ayat diatas Islam menganut teori perubahan sosial pertama. Adanya
kewajiban memperbaiki kualitas kepribadian di mulai dari dirinya
terlebih dahulu, yaitu perintah “Jagalah dirimu” dan kemudian di susul
dengan kata “dan keluargamu”, menjadi petunjuk bahwa dalam Islam
perubahan-perubahan kearah yang positif di mulai dari level individu
(diri sendiri) dan kemudian disusul pada masyarakat (teori pertama).
Bila
di jabarkan lebih jelas, ayat di atas menggunakan teori perubahan
sosial yang perttama, dapat dipahami bahwa perubahan pada diri manusia
(secara individual) mencakup keimanan, akhlak, pengetahuan dan perilaku
(merupakan factor-faktor yang bisa menyelamatkan manusia dari api
neraka). Kemudian perubahan pada level hubungan antara anggota
masyarakat berdasarkan faktor-faktor yang telah dimiliki pada level
individual tadi.
Setelah terbentuk sistem kemasyarakatan tersebut,
barulah perubahan di arahkan pada perubahan sistem sains dan teknologi
yang berupa metode-metode untuk meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat.
Berbeda dengan Islam, negara-negara
Barat menganut pada teori perubahan sosial yang kedua. Di mulai pada
perubahan-perubahan (pengembangan) sains dan teknologi, kemudian
mengubah sistem kemasyarakatan dengan menyesuaikan pada perubahan yang
terjadi dalam bidang sains dan teknologi, dan kemudian diakhiri dengan
mengubah sistem perseorangan yang juga menyesuaikan dengan perkembangan
sains dan teknologi.
Apa akibat dari pengaruh kedua teori
tersebut? Pada teori pertama, perkembangan sains dan teknologi (IPTEK)
akan berlangsung dengan cara-cara yang manusiawi, hal ini karena
perkembangan IPTEK itu dikendalikan oleh individu dan sistem
kemasyarakatan yang sudah memiliki kepribadian, bahkan sains dan
teknologi lebih bersifat sebagai sarana.
Sementara pada teori yang
kedua, sebagaimana dianut Negara Barat, karena titik awal perubahan
dimuali dari perkembangan IPTEK, sedangkan perubahan pada level
masyarakat dan level individual menyusul kemudian dengan menyesuaikan
pada perkembangan IPTEK, maka IPTEK-lah yang mengendalikan manusia.
Disinilah, kemudian terjadi proses yang mengabaikan nila-nilai
kemanusiaan, manusia kehilangan jati dirinya, dan manusia asing dengan
dirinya sendiri. Inilah yang menimpa negara-negara industri modern,
bahkan ironisnya keterasingan sudah merambah pada negara timur bahkan
Indonesia.
Sekarang kita lupakan masalah diatas sejenak, mari kita
kembali pada masalah yang kita bahas. Ketika mereka mengambil buah
hasil karya para ilmuan-ilmuan dan mereka sangat menikmatinya, Namun
ketika mereka ditanya “Dari kalangan mana saja ilmuan yang pertama kali
melakukan penelitian masalah ilmu pengetahuan dan teknologi?,dan dasar
apa yang para ilmuan gunakan ketika melakukan penelitian?”Fakta
membuktikan bahwa sebagian besar dari mereka tidak banyak mengetahui
awal perkembangan ilmu pengetahuan dan dasar yang di gunakan oleh para
peneliti. Mereka kebanyakan menjawab bahwa para ilmuan yang meneliti
pada waktu itu adalah kebanyakan dilakukan oleh kalangan para ilmuan
Eropa dan dasar yang digunakannya, kebanyakan dari mereka tidak
mengetahuinya. Sungguh ini sangat ironis,mengapa bisa demikian?untuk
menjawab pertanyaan tersebut mari kita bahas bersama.

Perlu
diketahui sekitar abad ke7 Islam mengalami kejayaan atau merupakan masa
keemasan Islam. Pada saat itu muncul ilmuan-ilmuan Islam yang berperan
banyak bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia ini. Dengan hanya
bermodal Al-Qur’an mereka dengan teliti menterjemahkan maksud dari
ayat-ayat tersebut. Dari ayat-ayat Al-Qur’an inilah mereka para ilmuan
Islam menggambarkan tentang maksud ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
Islam
merupakan agama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu
pengetahuan di muka bumi. Ini tidak terlepas dari sumber agama Islam
itu sendiri yaitu Al-Qur’an.
Al-Qur’an melalui ayat-ayatnya telah
berepengaruh besar bagi perkembangan ilmu pengetahuaan dan teknologi
yang ada di bumi ini. Kekayaan yang terkandung dalam Al-Qur’an ini
telah mendorong penemuan-penemuan ilmiah di dunia Islam pada abad ke7
hingga abad ke14 masehi yang memberi sumbangan terhadap perkembangan
ilmu di Eropa.
Al-Qur’an mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dan
wahyu adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak akan terpisahkan.
Keduanya merupakan aspek kebenaran yang sama. Terbukti wahyu yang Allah
turunkan kepeda Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW adalah
perintah untuk menuntut ilmu dan pentingnya arti belajar dalam
kehidupan umat manusia. Khususnya Islam. (QS Al-Alaq : 1-5).
Al-Qur’an
mengajarkan bahwa kemajuan keberagaman ilmu pengetahuan dan teknologi
di capai dengan perantaraan belajar. Al-Qur,an sangat menekankan
pentingnya proses belajar. Bahkan kenyataannya, seluruh filosofi
Al-Qur’an didasarkan pada pembelajaran yang pada gilirannya akan
mengangkat derajat manusia.
Tanpa pengetahuan manusia tidak dapat
mengenal Tuhan dan rahasia kekuasaan-Nya, Firman Allah dalam surat
Al-‘Alaq jelas menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki agar manusia
mengenal-Nya melalui manifestasi dan keajaiban-Nya dalam alam semesta
ini. Kemudian ia diajari rahasia nama-nama yang terdapat dalam ciptaan
Tuhannya, sedangkan mahluk ciptaan-Nya yang lain disuruh tunduk dan
bekerja dalam segala hal yang ia inginkan
Pada saat yang bersamaan
jika kita menimba ilmu pengetahuan tanpa di barengi dengan do’a maka
yang akan di rasakan adalah ketidaksempurnaan dalam belajarnya. Di
tegaskan pula menurut Al-Qur’an hanya orang yang berilmu, akan dapat
derajat yang tinggi karena mereka akan mengetahui betapa besarnya
mukjizat yang allah berikan kepada uamat-Nya. Di dalam Al-Qur’an di
jelaskan pula bahwa seluruh yang ada di alam semesta di penuhi dengan
tanda-tanda kekuassaan-Nya yang di sadari hanya orang yang berilmu
saja.
Manusia sebagai insan yang berpotensi untuk mengetahui dan
menguasai ilmu pengetahuan dan Allah-lah yang mengajari tentang apa
yang tidak manusia ketahui.

“dan Allah mengajarkan pada manusia apa yang tidak di ketahuianya.”

Dalam
mendorong umat Islam untuk bekerja sungguh-sungguh dalam pencarian ilmu
harus terus di sosialisasikan karena masa mendatang akan lebih
berkembang.
Pada waktu bersamaan Allah memperingatkan kepada manusia
bahwa dalam bekerja karas untuk memperjuangkan kehidupan seharusnya
tidak melupakan tujuan dari penciptaannya adalah ketika mengambil
manfaat alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhannya tidak melupakan
satu hal. Ia wajib ingat bahwa hidup itu sementara ia jangan sampai
larut oleh kekayaan dunia fana ini
Kitabuallah mengatakan bahwa pengetahuan dan pengajaran yang sejati hanya dapat diperoleh melalui utusan Allah:

Kemudian
Kami jadikan kamu berada diatas semua syariat (peraturan) dari urusan
(agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan jangnlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka
sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari
(siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian
mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan allah adalah
pelindung orang-orang yang bertakwa. Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi
manusia, petunjuk rohmat bagi kaum yang meyakini.(QS Al-Jaksiyah:18-20).
Orang-orang
yang beriman itu berkata : “ Hai kaumku, ikutlah aku, aku akan
menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, bagaimanakah kamu,
aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?
(Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan
mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak ku ketahui padahal aku
menyeru kamu( beriman) kepada yang mha perkasa lagi maha pengampun?”.
(QS Al-Mukmin : 38,41-42). (www.Google.com)

Ayat-ayat di atas
dengan sangat jelas bahwa ilmu pengetahuan yang benar adalah datang
dari para utusan-Nya. Sumber-sumber yang datang dari selain Allah SWT
hanyalah dugaan belaka dan tidak ada manfaatnya bagi alam semesta.
Al-Qur’an menjelaskan (QS Yunus:36).
Melalui ayatnya, Al-Qur’an
memberi dorongan kepada para ilmuan-ilmuan untuk melakukan beragam
macam penelitian dalam pendidikan. Banyak sekali ilmu-ilmu yang
disebutkan dalam Al-Qur’an yang manfaat dari ilmu tersebut bisa kita
rasakan sampai saat ini seperti ilmu Astronomi yang manfaatnya adalah
untuk mengetahui bagaimana keadaan-keadaan tentang planet atau benda
luar angkasa yang mana gunanya untuk membantu kegiatan perhitungan
tentang luar angkasa, matematika gunanya untuk menghitung yang
aplikasinya banyak digunakan untuk menjaga keseimbangan suatu benda,
kedokteran : bukti teknologi, adanya alat-alat yang digunakan untuk
operasi, dan sebagainya yang hikmah mempelajari ilmu-ilmu tersebut
adalah untuk mengetahui betapa besarnya Allah SWT menciptakan alam
semesta raya ini, berikut dijelaskan sebagian ilmu tersebut :

1. Astronomi
Astronomi adalah ilmu penegtahuan yang berkaitan dengan gerakan penyebaran dan karakteristik benda-benda langit.
Pendapat lain, ilmu astronomi adalah ilmu yang membahas kemajemukan langit dan bumi.
Semua
yang berhubungan dengan alam semsta ini banyak sekali di jelaskan dalam
Al-Qur’an yang mengacu pada suatu kesan keharmonisan dan kesetimbangan
yang sangat menakjubkan diantara gerakan benda-benda langit. Itu
menunjukkan bahwa mereka sedemikian taatnya kepada Sang Pengatur alam
jagat raya ini. Semuanya diatur dan di kendalikan oleh Allah SWT
sehingga keteraturan dan keseimbangan yang ditunjukkan oleh alam jagat
raya ini menjadi tanda akan kebesaran Allah SWT.
Banyak sekali
ayat-ayat alqur’an yang memberikan gambaran tentang banyaknya jumlah
langit dan bumi. Al-qur’an menuntun manusia untuk memperhatikan langit
:

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada
diatas mereka? Bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan
langit-langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?” (QS Qaf : 6).

Pengaturan
dan pengendalian benda-benda langit itu sedemikian menakjubkan.
Al-qur’an menjelaskan keteraturan dan keseimbangan yang mengagumkan ini
dengan firman berikut :

“Katakanlah: “Siapa Yang Empunya
langit yang tujuh dan Ynag Empunya ‘Arasy yang besar?” mereka akan
menjawab: “Kepunyaan Allah,”Katakanlah: ”maka apakah kamu tidak
bertakwa? Katakanlah: “Siapa yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas
segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat
dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”(QS Al-Mu’minun : 86-88).

Tujuan gerakan matahari dan bulan di gambarkan sebagai berikut :

“Dia
menyingsikan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan
(menjadikan )matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan
Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui.” (QS AL-Anam:96).

Adapun hikmah di balik pergerakan bintang-bintang, di jelaskan Allah di dalam firman –Nya :

“Dan
Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya
pentunjuk dalam ke gelapan di darat dan di laut sesungguhnya Kami telah
menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) pada orang-orang yang kami
ketahui”

Kemudian Al-Qur’an menagrahkan perhatian manusia pada keteraturan, disiplin, ketat, dan gerakan-gerakan yang menakjubkan.
Ayat-ayat
Al-Qur’an itu sungguh mendorong pengembangan penelitian ilmih dan study
tentang astronomi untuk mengungkap banyak lagi informasi tentang
ciptaan Allah Yang Maha Esa tentang karakteristik dan perilaku
benda-benda langit, sifat, dan pengaruh gerakannya terhadap fenomena
alam. Semakin kita berfikir tantang tanda-tanda kebesaran Allah yang
terhampar di langit dan di bumi,semakin dekatlah kita kepada Sang
Pencipta alam semesta

2. Matematika
Sebagaimana sumber ilmu pengetahuan lainnya dalam Islam, konsep kajian kajian matematika adalah tauhid, yaitu keesaan Allah.
Bilangan
mempunyai peranan yang sangat penting dalam kajian matematika pada masa
permulaan sejarah Islam. Dimensi kualitatif dan sepiritual dari
angka-angka segera mengislamisasikan konsep bilangan ala pitagoras
menjadi sebuah bentuk yang sering di sebut sebagai “Pitagoras Ibrahimi
“yang amat tersohor. Ini adalah sebuah paham bahwa peranan angka-angka
dan bilangan sangat menonjol karena di sinari oleh pesan dari Yang Maha
Esa.
Jalaslah bahwa mempelajari bilangan-bilangan dan angka-angka
memperoleh dorongan kuat dari Al-Qur’an sehingga membuka cakrawala
belajar baru dalam bidang matematika. Kebodohan manusia di ganti dengan
ilmu pengetahuan, kemiskinan di ganti dengan kekayaan.
Berkat
study Al-Qur’an kaum muslimin mencapai keberhasilan besar dalam ilmu
pengetahuan tentang angka-angka dan bilangan dan kemudian berlanjut
pada ilmu hitung. Al-Qur’an menyebutkan angka-angka dalam berbagai
konteks, misalnya

“Maka kami tutup telinga mereka beberapa
tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar kami
mengetahui manakah di antara golongan itu yang lebih tepat dalam
menghituing dalam beberap lamanya mereka tinggal (dalam gua).” (QS-
Al-kahfi:11-12).
“Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu
tinggal dibumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau
setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang
menghitung.”Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi), melainkan
sebentar saja, jika kamu sunggu-sungguh mengetahui.” (QS
Al-Mu’minun:112-114). (www.google.com)

Masih banyak lagi
ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang telah memberikan bahan pemikiran dan
dimensi kepada para ahli matematika agar mereka lebih dalam lagi
memasuki dunia angka dan bilangan dan menemukan metode dan teknik baru
dalam mencari jawaban yang tepat terhadap masalah yang diajukan.
Al-Qur’an
memang benar-benar memberikan dorongan kepada para ilmuan Islam untuk
melakukan penelitian dalam bidang matematika yang pada gilirannya
memungkinkan para ilmuan muslim menemukan teknik-teknik baru dalam
bidang ini.

3. Kedokteran
Kemajuan di bidang kedokteran juga
dilatar belakangi oleh penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para
ahli kedokteran di masa yang lalu dengan merujuk pada sumber ilmu
didunia yaitu Al-Qur’an. Prinsip yang ada dalam Al-Qur’an dengan
mengutamakan keseimbangan dan keselarasan hidup manusia, ini merupakan
sumber inspirasi terbesar dalam pengembangan semua disiplin ilmu
pengetahuan dalam Islam. Semua aturan syariat Islam yang ada pada
Al-Qur’an mengarah pada kehidupan yang sehat dan kebersihan rohani,
lingkungan yang bersih yang aman bagi kelancaran hidup manusia itu
sendiri
Faktor awal yang mendorong umat Islam mempelajari ilmu
kedokteran adalah tubuh manusia itu sendiri.Selanjutnya kajian
Al-Qur’an juga mendorong pengkajian terhadap tubuh manusia karena ia
mengatakan bahwa tubuh manusia merupakan tanda kebesaran Sang Khalik.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaaan Allah) bagi orang orang yang yakin.” (QS Al-Dzariat : 20).
“Dan
diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari
tanah kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.”
(QS Al-Rum:20).

Dari sinilah bisa di katakan bahwa awal
perkembangan ilmu kedokteran adalah berawal dari Al-Quran yang
tujuannya tidak lain adalah untuk menunjukkan betapa agungnya Allah
Sang Maha Pencipta.
Sebagian ilmu yang dijelaskan di atas adalah
merupakan sebagian kecil ilmu yang telah di jelaskan oleh Allah melalui
firman-Nya. Masih banyak lagi cabang ilmu yang mungkin tidak bisa
penulis jabarkan namun manfaat dari ilmu tersebut bisa kita rasakan
sampai sekarang. Ilmu-ilmu yang berkembang saat ini merupakan
perkembangan penelitian yang di lakukan oleh pakar ataupun ahli-ahli
dalam bidangnya yang berasal dari kalangan Islam yang kemudian di pakai
hingga sampai sekarang ini.
Jelas sudah bahwa perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi berasal dari orang Islam, pendapat yang
mengatakan perkembangan IPTEK dilakukan atau diteliti oleh orang-orang
Barat (Eropa) di bantah dengan tegas melalui ayat-ayat Al-Qur’an
diatas. Serta para ilmuan ketika melakukan peneltian selalu menggunakan
dasar yaitu Al-Qur’an sehingga jelas bahwa antara Islam dengan
perkembangan ilmu teknologi sangat berkaitan erat karena sumber Islam
itu sendiri yaitu Al-Qur’an. Dengan ini kita dapat menambah pengetahuan
kita semua serta menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT bahwa Allah
telah menciptakan pedoman hidup bagi manusia yang begitu lengkapnya.