Indonesia dudu bangsa Kacung

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Indonesia dudu bangsa Kacung

Rabu, 25 Februari 2009


Oleh Wong Munjul 

Ning arepe ewonan santri-santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Prabowo Subianto ngomong tegas ari Indonesia kuh dudu bangsa kacung lan dudu bangsa kang mlarat. Sebab lamon pertanian diseriusi  Indonesia bakale bangkit sing sektor pertanian.

Ngapa sebabe melarat kuh, jare deweke  sebabe Indoensia mlarat karena Indoensia nerapakene kuh sistem ekonomi neoliberalisme. Maksude system kang dianut kue nitik berateken ning pasar bebas 

Seperti yang sering ditampilkan di layar televisi,  Prabowo  mengatakan ekonomi yang diterapkan sistem ekonomi neoliberalisme dan sistem pasar bebas terkendali. "Padahal, para pendahulu negeri ini meletakkan dasar ekonomi kita ekonomi kekeluargaan ekonomi gotong royong," katanya.

Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah tetapi tidak bisa dinikmati bangsa sendiri. Kekuatan ekonomi Indonesia seharusnya dikembalikan pada sektor pertanian karena lebih 60 persen bangsa ini petani. Namun, para elite penguasa dan perencana pembangunan justru tidak memprioritaskan sektor pertanian. Hal itu tecermin setidaknya dari APBN, dari Rp 1.000 triliun untuk pertanian hanya Rp 16 triliun. "Artinya ini hanya 1,6 persen dari APBN digunakan untuk 60 persen penduduk yang berprofesi petani," kata Prabowo.

Kebijakan lain, kata Prabowo, pembangunan pasar modern seperti hipermarket, mal bisa mencapai Rp 50 triliun. "Katanya itu untuk menyerap 350.000 tenaga kerja. Seharusnya Rp 40 triliun saja digunakan untuk membuka lahan pertanian baru cukup untuk satu juta hektar bisa menyerap 6 juta tenaga kerja," katanya kepada lebih dari 1.000 hadirin.

Indonesia kaya aren dan sawit yang semestinya bisa diolah menjadi bahan bakar berupa etanol. "Sayang sekali kita kalah dengan Kolombia dan Tanzania. Pemerintahan mereka mengirim tenaga riset ke Indonesia, lalu mengkloning aren. Kini bisa mengembangkan 40 hektar lahan aren," katanya.