Hirarki Kewalian

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Hirarki Kewalian

Selasa, 16 Desember 2008


Oleh : Hamba Allah








Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub,
mengatakan bahwa wali Akhyar sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang,
wali Abrar sebanyak 7 orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak
3 orang dan wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut
Syaikhul Akbar Muhyiddin ibnu `Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah
membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak,
ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan,
secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:



1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam
semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali
Quthub lainnya yang menggantikan.



2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat.
Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas
menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas
menyaksikan alam malaikat.



3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang
masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kaabah. Kadang
dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim,
Abdul Qadir dan Abdul Murid.



4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu
tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang,
yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus
Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu 'Arabi) mengaku pernah melihat dan
bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.



Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu 'Arabi bertemu Wali Abdal bernama
Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu 'Arabi yang bernama Abdul Majid bin
Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ'az bin al-Asyrash.
Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia
menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan
diri dari keramaian.



5. Wali Nuqobaa
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka
tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap
semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki
seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh,
orang baik atau tidak.



6. Wali Nujabaa
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.



7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang
membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi
Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada
Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.



 



8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah
mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling
mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap
awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka
berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat
kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya
perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan
peristiwa ghaib.



 



Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap
berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3
hari baru bisa berbicara. 



Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia
akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan
kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.



9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali
Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd
saw.



Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang
mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan
ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini
menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.
Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu 'Arabi (menurut beliau muncul
dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas,
sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti
muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang
lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah.
Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu 'Arabi), kami telah
melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya
tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan
Sufi, ada 6 lapisan para Auliya, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A'immah,
Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.



 Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya
sebagaimana gelar Khatamun Nubuwwah yang disandang oleh Nabi Muhammad saw?.



Ibnu Araby menjawab :
Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup
Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Nabi Isa Alaihissalaam.
Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini,
dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada
Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari'at dan
Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Penutup Kenabian,
dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih
turun seperti Nabi Isa, sebagai salah satu dari Ulul 'Azmi dari para Rasul dan
Nabi mulia. Maka turunnya Nabi Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya,
tetapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad saw, bergabung dengan para Wali
dari ummat Nabi Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.
Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam as. Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Nabi
Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Nabi Isa kekal di hari
mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita,
dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.
Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (zaman Muhyiddin ibnu 'Arabi)
ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal di
tahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta'ala
pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga
saya melihatnya sebagai Penutup Kewalian Muhammadiyah darinya. Dan Allah telah
mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah
dalam sirr-nya.
Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga
Allah menutup Kewalian Muhammadi, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan
diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa,
dan Nabi Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul
Auliya’ Muhammadi, dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad saw.
Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah
Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Nabi Isa Alaissalam. Dan
kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Nabi Isa As, dan
sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Dilain tempat, Ibnu 'Arabi mengatakan bahwa dirinyalah yang menjadi Segel
(Penutup) Kewalian Muhammad.



Beberapa wali yang pernah mencapai derajat
wali Quthub al-Aqthab (Quthub al-Ghaus) pada masanya



Sayyid Hasan ibnu Ali ibnu Abi Thalib
Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz
Syaikh Yusuf al-Hamadani
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Syaikh Ahmad al-Rifa'i
Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy
Syaikh Ahmad Badawi
Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Syaikh Muhyiddin ibnu Arabi
Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi
Syaikh Ibrahim Addusuqi
Syaikh Jalaluddin Rumi



 



Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Beliau pernah berkata Kakiku ada diatas kepala seluruh wali. Menurut Abdul
Rahman Jami dalam kitabnya yang berjudul Nafahat Al-Uns, bahwa beberapa wali
terkemuka diberbagai abad sungguh-sungguh meletakkan kepala mereka dibawah kaki
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.



 



Syaikh Ahmad al-Rifa'i
Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw,
maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau
pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan
oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang
muridnya berkata :
“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu
daripada Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya: “Sucikan
syakmu daripada Ghausiyah”.
Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Syaikh
Ahmad al-Rifa'i telah melampaui “Maqamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts
itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan
sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah
untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, Aku telah di janji oleh
Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih
dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya,
beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya
para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau
dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi
Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya
kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan.
Hingga ada yang tanya, Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana
ya kanjeng syaikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum.
Beliau menjawab, Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan
pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha
Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua
tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian
mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit
menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah
yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12
Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.



 



Syaikh Ahmad Badawi
Setiap hari, dari pagi hingga sore, beliau menatap matahari, sehingga kornea
matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya
hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang
sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat
puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam
dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang.
Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.
Pada usia dini beliau telah hafal Al-Quran, untuk memperdalam ilmu agama ia
berguru kepada syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan syaikh Ahmad Rifai. Suatu
hari, ketika beliau telah sampai ketingkatannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani,
menawarkan kepadanya: “Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq
atau Maghrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh
gurunya Syaikh Ahmad Rifai, dengan lembut, dan karna menjaga tatakrama murid
kepada gurunya, ia menjawab; Aku tak mengambil kunci kecuali dari al-Fattah
(Allah ).
Peninggalan syaikh Ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan shalawat
badawiyah sughro dan shalawat badawiyah kubro.  



Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan
nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk
mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan
amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang
disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak
menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shiddiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di
atas air dan sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah
swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai
sifat-sifat-Nya.



 



Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya.
Kemudian beliau menjawab, Guruku adalah Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy, akan
tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari
bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Usman bin
Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat
Jibril, Mika'il, Isrofil, Izro'il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata,
Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat,
yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka.
Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu
tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat. Syekh Abu
Abdillah Asy-Syathibi berkata, Aku setiap malam banyak membaca Radiyallahu'an
Asy-Syekh Abul Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa
yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku. Lalu aku
bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, Ya Rasulallah,
kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ˜An Asy-Syaikh Abu
Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swt, apa yang menjadi kebutuhanku
lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?. Lalu
Nabi saw menjawab, Abu Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak
terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawassul kepada Abu Hasan,
maka berarti dia sama saja bertawassul kepadaku.



 



Peninggalan syaikh Abu Hasan asy-Syazili yang sangat utama, yaitu Hizib
Nashr dan Hizib Bahar. Orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah,
akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang
bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat
luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan
menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus
melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Hizib
Bahar ditulis syaikh Abu Hasan asy-Syazili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut
yang membelah Asia dan Afrika itu syaikh Abu Hasan asy-Syazili pernah berlayar
menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak
bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh
al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira. Lalu, menuntun
syaikh Abu Hasan asy-Syazili melafazkan doa-doa. Usai syaikh Abu Hasan
asy-Syazili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.




 



 



 



KONSEP WALI DALAM ISLAM



Oleh: Prof. Dr. Syafiq A. Mughni,
MA.



Sumber : Jurnal IAIN Sunan Ampel
1999



 



I.
Pendahuluan



Di
dalam kajian tentang Islam, kata-kata wali telah digunakan secara luas, baik di
kalangan para teolog maupun ilmuwan sosial. Orang yang menyandang gelar wali
mendapatkan kedudukan yang penting dalam sistem kemasyarakatan Islam, baik
karena kualitas spiritual mereka maupun karena peran sosial yang mereka
mainkan. Namun demikian, wali tetap menjadi bahan studi yang menarik, karena
para ahli Islam menggunakan pendekatan yang berbeda, yang kemudian menghasilkan
pengertian yang berbeda pula. Dalam konteks ini, tampaknya perlu disadari
adanya dua pendekatan yang berbeda. Pertama ialah pendekatan
antropologis, yang melihat wali sebagai realitas sosial, yang bisa diamati
dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, di Jawa dikenal Wali Sanga, yakni mereka
yang telah memiliki jasa besar dalam islamisasi Jawa. Demikian juga dalam
masyarakat tradisional kontemporer, beberapa orang telah dikenal sebagai wali
karena sifat-sifat dan perilaku yang tampak dalam kehidupan mereka. Dalam
kajian antropologis khususnya, mereka disebut wali karena masyarakat telah
menyebut mereka "wali." Mereka identik dengan orang suci (the
sacred men).



Kecuali
pendekatan antropologis itu, ada pendekatan teologis yang menggunakan
beberapa indikator seperti yang ditunjukkan oleh ajaran Islam. Dalam hal ini,
indikator yang digunakan adalah kualitas spiritual yang tidak mungkin dideteksi
secara empiris, sehingga tidak mungkin kita bisa mengetahui secara pasti apakah
sesorang tertentu termasuk dalam kategori wali. Dengan kata lain, wali berada
pada posisi sedemikian spiritual sehingga peluang kekeliruan dalam penilaian
lahiriyah menjadi sangat besar. Makalah ini akan lebih menggunakan pendekatan
teologis, dengan melihat sejauh mana para teolog Islam berdiskusi tentang makna
wali, suatu kata yang sesungguhnya tercantum dalam al-Qur’an tetapi berkembang
sedemikian rupa terutama di dalam tradisi pemikiran sufi.



Di
dalam al-Qur’an kata-kata waliy (jamak: awliya’; diindonesiakan
menjadi wali) muncul di beberapa tempat dan dengan demikian memiliki beberapa
arti yang berbeda. Kata tersebut digunakan bukan saja dalam hubungannya dengan
Allah, tetapi juga dengan beberapa hal lain, bahkan setan, jenis makhluk yang
memiliki sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah. Secara
etimologis, wali dapat berarti penjaga, pelindung, penyumbang, teman, pengurus,
dan juga digunakan dengan arti keluarga dekat.



Dinyatakan
dalam al-Qur’an bahwa, Allah sendiri adalah wali bagi semua mukmin, yang
berarti bahwa Ia menjadi pelindung mereka. Dalam Surat al-Baqarah dikatakan,
"Allah adalah wali bagi orang-orang beriman. Ia membawa mereka dari
kegelapan ke cahaya terang." Juga dalam surat al-Jatsiyah, Allah
menyatakan dirinya sebagai wali bagi orang-orang yang bertakwa. Lebih lanjut,
Allah adalah patron bukan saja di dunia ini, tetapi juga di akhirat nanti
ketika tak seorang pun akan menandingi kekuasaan Tuhan. Dalam surat al-An’am,
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memberi tahu orang-orang yang meragukan
ketentuan-Nya bahwa mereka tidak akan mempunyai wali atau pemberi syafa’at di
sisi Allah, karena itu mereka harus menjaga diri mereka dari dosa. Bahkan dalam
ayat-ayat lain, Allah menyatakan bahwa Allah sendiri adalah satu-satunya wali
dalam hidup ini dan di akhirat nanti, di langit dan di bumi. Dalam surat
al-Baqarah, Allah mengingatkan manusia agar mengakui kekuasaan-Nya, dengan
mengatakan, "Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah berkuasa atas
segala-galanya? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa milik Allah-lah segala
kerajaan langit dan bumi, dan bahwa tak seorang pun selain Allah yang menjadi
wali atau penolongmu?"



Namun
demikian, muncul beberapa kali dalam al-Qur’an bahwa bukan hanya Allah saja
yang menjadi wali bagi orang-orang yang beriman. Di samping Allah, Rasul dan
orang-orang yang beriman lainnya adalah wali bagi orang-orang beriman. Dalam
surat al-Ma’idah, misalnya, Allah menyatakan kepada orang-orang yang beriman,
"Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada
Allah). Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman menjadi
walinya, maka sesungguhnya pengikut Allah itulah yang pasti menang."
Demikian juga, Allah menyatakan dalam surat al-Tawbah, "Dan orang-orang
yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian
yang lain. Mereka menyuruh yang baik, dan mencegah dari yang mungkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan
Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." Dalam ayat-ayat tadi tampak bahwa wali
digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang secara harfiah bisa diartikan teman.



Dengan
makna yang hampir sama, wali juga digunakan dalam konteks yang negatif ketika
Allah melarang orang-orang beriman untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai
wali. Misalnya, dalam surat Al ‘Imran, Allah berkata, "Janganlah
orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan
orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari
pertolongan Allah, kecuali karena siasat memelihara diri dari mereka. Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kamu
kembali." Allah juga berfirman dalam surat al-Nisa’, "Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan
meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata
bagi Allah (untuk menyiksamu) ?" Di tempat lain, bahkan Allah berkata
kepada orang-orang munafik dalam surat al-Nisa’, "Kabarkanlah kepada
orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih; yaitu
orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan
orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu?
Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah." Dalam konteks itu, wali
tampaknya lebih tepat diartikan sebagai teman atau pemimpin.



Begitu
pula, Allah menyebut mereka yang melanggar hukum-Nya sebagai wali setan, dan
demikian juga menyebut setan wali mereka. Orang-orang yang beriman tidak
boleh menjadikan setan atau wali mereka (setan) sebagai teman atau pemimpin.
Dalam konteks ini, wali berarti teman atau pendukung. Hal ini dijelaskan dalam
surat al-Nisa’, bahwa orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan
orang-orang kafir berperang di jalan thaghut. Sebab itu, perangilah
kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan adalah lemah. Dalam
surat al-An’am dinyatakan, "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun
mereka semuanya, (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya
kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan mereka
dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah
dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu
yang telah engkau tentukan bagi kami." Allah juga memperingatkan,
"Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka
sesungguhnya ia telah menderita kerugian yang nyata." Maka, jelaslah bahwa
awliya’ al-syaithan dan mereka yang menjadikan setan sebagai awliya’ mereka
adalah musuh orang-orang yang beriman.



Selain
itu, wali juga digunakan dalam al-Qur’an untuk dua arti yang
tidak berkaitan dengan masalah-masalah teologis. Pertama, ia digunakan
dalam masalah yang muncul ketika terjadi pembunuhan; keluarga yang berduka cita
bertindak sebagai ahli waris yang menentukan apa yang akan terjadi pada
pembunuh, apakah ia akan dikenakan denda atau akan dimaafkan. Allah berfirman
dalam surat al-Isra’, "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (untuk membunuhnya), melainkan dengan suatu alasan yang benar. Dan
barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami memberi kuasa kepada
walinya, tetapi janganlah kamu melampaui batas dalam membunuh (membalas).
Sesungguhnya ia adalah orang yang ditolong." Kedua, ia digunakan
dalam perwalian orang Islam atas al-Masjid al-Haram. Allah menyatakan dalam
surat al-Anfal, bahwa "Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka
menghalangi orang untuk (mendatangi) al-Masjid al-Haram dan mereka bukanlah awliya’
(orang-orang yang berhak menguasainya)? Orang-orang yang berhak
menguasainya hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui."



Di
samping itu, dalam al-Qur’an istilah awliya’ juga digunakan untuk
menunjuk status atau karakter khusus dari orang-orang beriman. Istilah ini
menjadi penting karena ia menjelaskan atribut tertentu dalam dua ayat yang
berurutan, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak memiliki
kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati; yaitu, orang-orang yang
beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi
janji-janji Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar."
Istilah awliya’ Allah dalam ayat-ayat itu telah diberi beberapa arti
yang berbeda, masing-masing dengan argumen yang panjang lebar. Meskipun
beberapa ahli telah mengartikannya dengan teman-teman atau kekasih Allah,
penafsiran itu sendiri masih jauh melampaui arti literalnya. Beberapa hadis
telah dipakai untuk mencari makna yang tepat, namun perdebatan muncul karena
sebagian ulama lebih menyukai beberapa hadis tertentu dari yang lain. Ini
bahkan dijumpai dalam tradisi sufi bahwa syakh al-thariqah, pemimpin
persudaraan sufi, diberi gelar awliya’, yang secara pasti diderivasikan
dari ayat-ayat tersebut di atas. Karenanya, penafsiran yang bermacam-macam
tentang awliya’ dan keistimewaan mereka: busyra (kabar gembira),
ilm (pengetahuan) dan karamah (kemulyaan, penghormatan) menjadi
sangat penting untuk dibahas.



 



 



II.
Arti Wali Allah



Wali
Allah (biasa juga ditulis Waliyyullah) seperti yang disebut dalam
al-Qur’an telah diberikan makna khusus oleh berbagai ulama’. Menurut al-Jurjani
(w. 816/1413) dalam bukunya Kitab al-Ta’rifat, istilah wali ditujukan
kepada orang yang mengetahui Allah dan sifat-sifat-Nya (al-’arif bi’llah wa
shifatih)
, yang berjalan dalam ketaatan yang konstan, menghindari kekerasan
dan membebaskan fikirannya dari belenggu/kungkungan kesenangan materi dan nafsu
seksual. Al-Jurjani hanya memberikan penafsiran secara normatif dan tidak
memberikan penjelasan lebih detil tentang ciri-ciri mereka dan tidak pula
membatasi kelompok manusia tertentu sebagai wali. Dia menegaskan bahwa istilah
itu harus dipahami dalam artinya yang luas.



Beberapa
ahli tafsir cenderung menyandarkan diri pada hadis dalam menafsirkan arti wali.
Dalam tafsirnya, Jami’ al-Bayan, al-Thabari secara ringkas mengutip dua
hadis yang berbeda yang telah dinyatakan sebagai penafsiran kata itu, tanpa
menjelaskan mana dari dua itu yang lebih tepat. Pertama, dalam sebuah
hadis Nabi dikatakan bahwa awliya’ adalah mereka yang begitu mengagumkan
kualitasnya, sehingga siapa saja yang melihatnya pasti akan menyebut nama Allah.
Dengan kata lain, awliya’ memiliki tingkat kesalehan dan kebaikan yang
sangat tinggi. Penafsiran ini pula dianut oleh dua mufassir (ahli
tafsir) terkenal, al-Zamakhsyari (w. 538/1143) dan Ibn Katsir (w. 774 H/1372). Kedua,
dalam hadis lain dinyatakan bahwa wali adalah mereka yang memiliki derajat
paling tinggi. Al-Thabari menyebutkan bahwa ketika Nabi ditanya tentang makna awliya’,
ia menjawab bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang dicemburui oleh para
Nabi dan syuhada’ (orang-orang yang mati dalam jihad); mereka saling
mencintai tanpa memperhatikan faktor-faktor kekayaan dan keturunan, wajah
mereka tampak bersinar dan bercahaya ketika berada di atas mimbar; mereka tidak
khawatir ketika orang lain merasa khawatir, dan tidak sedih ketika orang lain merasa
sedih. Penjelasan al-Thabari ini tampaknya dianut oleh dua mufassir kemudian,
yakni al-Zamakhsyari yang bermazhab Mu’tazilah dan Ibn Katsir yang bermazhab
Ahl al-Sunnah dengan menyebut dua hadis yang sama dalam kitab tafsir mereka.



Beberapa
penafsir lain menggunakan hadis yang berbeda untuk menjelaskan arti awliya’.
Seorang ‘alim besar dari Mazhab Syi’ah, al-Thusi (w. 460/1068),
berpendapat bahwa awliya’ adalah mereka yang berhak mendapatkan pahala,
penghargaan dan kemuliaan dari Allah. Lebih jauh, dia mengutip, dalam kitabnya al-Tibyan,
sebuah hadis yang dinisbatkan kepada al-Husayn ibn ‘Ali, yang mengatakan bahwa awliya’
adalah mereka yang mengikuti perintah-perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya,
menjauhi larangan-laragangan, meninggalkan kesenangan dunia, berjuang di jalan
Allah, berjuang untuk kehidupan yang terbaik, tidak mencari nama dan mengejar
kemewahan yang berlebih, dan mereka membayar apa yang menjadi kewajiban mereka.
Hadis ini juga digunakan oleh al-Thabathaba’i, seorang mufassir Syi’i
kontemporer dalam tafsirnya al-Mizan. Lebih dari itu, ia menambahkan
beberapa hadis lain, yang salah satunya, barangkali paling penting, dinisbatkan
kepada ‘Ali ibn Abi Thalib, diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas: "Ketika ‘Ali
ditanya tentang arti awliya’, ia menjawab bahwa mereka adalah
orang-orang yang sangat tulus dalam menyembah Allah, melihat segi batin (esoteric)
dari segala sesuatu, sementara orang lain melihat segi lahirnya (exoteric);
mereka memiliki kesabaran untuk menunggu, tidak pernah tertipu oleh kesementaraan;
mereka meninggalkan apa yang tidak akan abadi dan menghancurkan apa yang akan
menghancurkan mereka. Dari apa yang mereka sebutkan, kita perlu memberikan
tekanan secara khusus terhadap ciri pemikiran Syi’ah mereka, yaitu pentingnya
hal-hal yang bersifat batin dan penantian terhadap kedatangan imam al-mahdiy.



Di
samping itu, dua penafsiran lain yang berbeda diberikan oleh al-Qurthubi (w.
671/1272) dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an dan al-Alusi (w.1251/1835)
dalam Ruh al-Ma’ani. Penafsiran al-Qurthubi didasarkan pada pendapat
‘Ali ibn Abi Thalib yang mengatakan bahwa awliya’ adalah mereka yang
wajahnya pucat karena mereka kurang tidur, mata mereka sayu karena banyak
menangis, perut mereka kosong karena kurang makan, bibir mereka kering karena
banyak berzikir. Selain itu, penafsiran al-Alusi didasarkan pada hadis qudsi,
di mana Allah berkata, "Di antara hamba-hambaku adalah dia yang selalu
dekat Aku dengan mengerjakan nawafil (ibadah sunnah), hingga Aku
mencintainya. Sekali Aku mencintainya, Aku menjadi telinganya yang ia gunakan
untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia
gunakan untuk meraba dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan." Dengan
kata lain, hadis ini menyatakan bahwa karena cinta-Nya yang dalam Allah selalu
membimbing pikiran dan tindakannya agar terhindar dari maksiat dan kejahatan.



Penulis
Islam yang lain membawa istilah awliya’ kepada arti yang lebih luas dari
pada sekedar membatasinya dengan memberikan karakteristik tertentu. Dalam
menafsirkan kata itu, mereka tidak menggunakan hadis-hadis, tetapi lebih
membukanya untuk dipahami sebagai orang Islam yang saleh. Di antara mereka
adalah Ibn Taymiyyah (w.728/1328) yang berpendapat dalam kitabnya al-Furqan
bayna Awliya’ al-Rahman wa Awliya’ al-Syaythan
bahwa wali adalah orang yang
selalu mengikuti ajaran Allah; dengan demikian, jika melanggar hukum-Nya, dia
tidak disebut sebagai wali Allah tetapi wali setan. Dalam pengertian ini, Ibn
Taymiyyah menegaskan bahwa para nabi adalah awliya’ yang paling baik,
karena dalam kehidupan mereka terdapat teladan paling utama dalam mematuhi
ajaran Allah. Dengan penjelasan ini, tampaknya Ibn Taymiyyah tidak menggunakan
hadis yang mengatakan bahwa para nabi dan syuhada’ sungguh cemburu
terhadap kedudukan yang dinikmati oleh awliya’.



 



III.
Keistimewaan Awliya’: al-Busyra



Diyakini
bahwa sekalipun ditafsirkan berbeda-beda, awliya’ akan mendapatkan
keistimewaan yang salah satu bentuknya ialah al-busyra (kabar
kegembiraan). Dalam surat Yunus, ayat 64, awliya’ dianugerahi oleh Allah
al-busyra di dunia dan di akhirat. Al-Thabari mengatakan bahwa al-busyra
adalah impian, baik yang dilihat oleh seorang muslim di dunia maupun di surga,
yang diberikan di akhirat. Berdasarkan suatu hadis, al-Thabari juga mengatakan
bahwa itu akan merupakan kabar gembira bagi seorang muslim menjelang ajal.
Tampaknya, al-Thabathaba’i sependapat dengan panfsiran busyra itu, dan
hanya beberbeda pendapat dalam hal saat kapan ia akan diberikan di akhirat. Dia
berpendapat bahwa hal itu akan diberikan saat kebangkitan dari kubur. Di
samping itu, ia memberikan penafsiran lebih jauh yang didasarkan pada hadis
Nabi bahwa busyra adalah bagian dari kenabian yang tidak berhenti pada
Nabi Muhammad saja, tetapi akan terus berlanjut pada masa-masa sesudahnya.
Penafsiran seperti ini juga diberikan oleh al-Qurthubi dan Ibn Katsir. Tetapi
Muhammad ‘Abduh dalam al-Manar, mencoba memberikan penafsiran yang lain.
Dia mengatakan bahwa busyra adalah kabar gembira bahwa awliya’ akan
menang dan berkuasa di dunia, sepanjang mereka melaksanakan syariat Allah,
sunnah Rasul dan berjuang di jalan Islam. Dalam caranya menafsirkan, ‘Abduh
tampaknya menggunakan penalaran ketimbang hadis, seperti biasanya ditunjukkan
oleh mufassir tradisional. Ini dapat dipahami karena dia mengatakan bahwa
sebagian besar hadis yang berkaitan dengan arti awliya’ adalah lemah (dla’if).



 



IV.
Keistimewaan Awliya’ : ‘Ilm dan Karamah



Di
samping busyra yang secara jelas disebutkan dalam al-Qur’an, ada dua
privelej lain, yang menurut keyakinan beberapa teolog, diberikan oleh Allah
kepada awliya’, yakni ‘ilm (pengetahuan) dan karamah (kemulyaan,
penghargaan). Menurut Ibn ‘Arabi (w. 638/1240), awliya’ diberi kedudukan
tertinggi dalam sistem ‘ilm (pengetahuan). Ada tiga tipe pengetahuan
yang disusun menurut cara bagaimana memperolehnya dan sejauhmana pengetahuan
itu bisa dipercaya. Yang paling rendah, kata Ibn ‘Arabi, ialah ‘ilm al-’aql,
yang diperoleh dengan menggunakan akal pikiran, dan karena itu bisa benar atau
salah. Selanjutnya adalah ‘ilm ahwal, pengetahuan faktual, yang tidak
bisa diperoleh kecuali dengan perasaan atau pengalaman. Misalnya, manisnya
madu, beratnya kesabaran, nikmatnya cinta dan rindu hanya bisa diperoleh
melalui pengalaman. Dua macam pengetahuan ini bisa didapat oleh orang awam.
Sedangkan yang paling tinggi ialah ‘ilm al-asrar, pengetahuan rahasia,
yang hanya bisa diperoleh para nabi dan awliya’, karena hal tersebut
diluar jangkauan akal pikiran, dan diwahyukan oleh ruh suci (al-quds)
atau malaikat. Tipe pengetahuan ini, kata Ibn ‘Arabi, dapat menyerupai tipe pertama,
tetapi yang unik adalah bahwa ilm al-asrar tidak didapatkan lewat akal
tetapi lewat wahyu, sebagaimana juga bisa menyerupai yang kedua tetapi ia lebih
tinggi. Lebih jauh, ‘ulum al-asrar pasti benar karena diturunkan dari
Tuhan, seperti halnya wahyu para nabi. Wahyu para nabi adalah nubuwwat
al-tasyri’
, kenabian syari’at, tetapi wahyu awliya’ adalah al-nubuwwat
al-’ammah
, kenabian umum, yang tidak berhenti pada nabi terakhir Muhammad.



Teori
Ibn ‘Arabi disangkal oleh para teolog, di antaranya ialah Ibn Taymiyyah. Untuk
mengkualifikasikan lebih jauh awliya’ sebagai orang yang dianugerahi
pengetahuan rahasia dan yang mampu berbicara dengan Tuhan, kata Ibn Taymiyyah,
merupakan suatu penafsiran bid’ah. Arti itu tidak ada dalam hadis. Kata Ibn
Taymiyyah, ini tidak berarti mengingkari bahwa kadangkala cinta manusia yang
sangat mendalam kepada Tuhannya di satu pihak dan kecintaan serta kasih sayang
Tuhan di pihak lain akan mengantarkan, dan bahkan mungkin secara nyata
mendatangkan suatu bentuk komunikasi dan hubungan. Tetapi manusia seperti itu
dalam istilah teknis, menurut syari’ah, adalah muhaddats (yang diajak
bicara) bukan wali. Lebih jauh, anugerah kemampuan berbicara dengan Tuhan tidak
dengan sendirinya memberikan kepada muhaddats kelebihan atas orang lain,
apalagi nabi. Demikian juga, orang yang mengaku mendapatkan pengetahuan yang
diturunkan melalui komunikasi seperti itu tidak serta-merta dapat dipastikan
kebenarannya. Seorang wali adalah seperti semua manusia yang lain. Memberinya
tempat yang lebih tinggi dari nabi adalah bertentangan dengan struktur hirarki
berdasrkan kesalehan dalam Islam. Dalam hirarki atas dasar kesalehan, manusia
biasa berada di bawah nabi, tidak di atasnya.



Tantangan
lain terhadap teori Ibn ‘Arabi tentang pengetahuan yang berada di luar
jangkauan rasio yang diturunkan melalui intuisi, datang dari Muhammad ‘Abduh.
Dia berpendapat bahwa bentuk pengetahuan ini tidak selamanya bisa dipercaya
karena tidak mungkin mengidentifikasi pengetahuan semacam itu, apakah datang
dari Tuhan atau setan; tidak ada kriteria yang inheren dalam pengetahuan itu
sendiri. Satu-satunya ukuran yang mutlak ialah al-Qur’an dan Sunnah, dan karena
itu ‘ilm al-asrar, dalam pengertian Ibn ‘Arabi, atau al-waridat,
dalam pengertian ‘Abduh, tidak selalu benar. Kesimpulannya, ‘Abduh menolak
teori yang menyatakan bahwa awliya’ yang menyatakan diri menerima ‘im
al-asrar
dapat dipercaya.



Keistimewaan
lain yang disebutkan diberikan kepada awliya’ ialah karamah
(secara harfiah berarti kemulyaan, kehormatan). Awliya’ dinyatakan
sebagai memiliki karamah yang bentuknya adalah kemampuan luar biasa yang tidak
dimiliki oleh manusia kebanyakan, seperti kemampuan untuk berjalan di atas air,
berbicara dengan hewan dan terbang di udara. Dinyatakan bahwa, siapa saja yang
dapat melakukan keajaiban demikian, tidak soal bagaimanapun relijiusitasnya,
dapat diidentifikasi sebagai seorang wali. Dalam budaya Indonesia, karamah
ini diterjemahkan menjadi keramat. Sekali lagi, Ibn Taymiyyah dengan tegas
menyerang teori ini, karena keajaiban yang demikian tidak hanya dimiliki oleh awliya’
Allah tetapi juga bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman, yaitu awliya’
al-Syaithan
(para wali setan). Maka, satu-satunya indikator untuk
menentukan apakah yang berbuat aneh itu wali Allah atau wali setan adalah
tingkat komitmen mereka kepada ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Sanggahan terhadap
konsep karamat al-awliya’ juga datang dari Muhammad ‘Abduh. Ia
menguraikan teori khariq al-’adah (sesuatu yang luar biasa), di mana karamah
adalah bagian darinya. Menurut ‘Abduh, ada empat macam khariq al-’adah,
yaitu mu’jizah, karamah, ma’unah dan istidraj. Yang pertama,
mu’jizah (secara harfiah berarti yang melemahkan) adalah kemampuan luar
biasa yang hanya diberikan kepada para rasul. Yang kedua, karamah adalah
kemampuan luar biasa yang diberikan kepada orang beriman yang saleh yang
mengikuti teladan para rasul. Ma’unah (secara harfiah berarti
pertolongan) adalah kemampuan luar biasa yang diberikan kepada orang yang agak
saleh. Sedangkan istidraj (secara harfiah berarti perayuan) adalah
kemampuan luar biasa yang diberikan kepada orang yang tidak beriman atau orang
beriman yang banyak berbuat dosa. Berdasarkan klasifikasi ini, ‘Abduh
berpendapat bahwa suatu keanehan atau kemampuan luar biasa tidak selalu
menunjukkan kewalian, karena hal itu mungkin terjadi di tangan orang-orang yang
tidak beriman.



 



V.
Tingkatan Awliya’



Di
luar penafsiran yang berorientasi kepada al-Qur’an dan Sunnah, teori tentang
hirarki awliya’ telah berkembangan di dalam tradisi sufi. Tampaknya, ada
kesamaan pola hirarki awliya’ di dalam karya beberapa penulis. Dikatakan
bahwa, di bumi ini selalu ada awliya’, tetapi mereka tidak selalu
tampak, dan mereka tidak selalu dapat dilihat. Hanya, perlu dipahami bahwa
hirarki itu selalu ada pada setiap jaman, dan jika salah seorang wali yang
menempati salah satu posisi dalam hirarki itu meninggal, maka ia digantikan
oleh wali yang lain supaya jumlah mereka selalu genap 400 wali. Mereka hidup
tersembunyi di dunia dan mereka sendiri tidak sadar akan kewalian mereka. Tetapi
ada teori yang menyatakan bahwa mereka sesungguhnya saling mengetahui dan
bahkan bekerja bersama-sama. Jika diurut dari yang kurang utama ke paling
utama, maka mereka adalah akhyar yang jumlahnya mencapai 300 wali, abdal
sebanyak 40 wali, abrar 7 wali, awtad 4 orang wali, nuqaba’ 3
orang wali, dan di ujung yang tertinggi ada quthb yang jumlahnya hanya
satu dan dia disebut juga al-ghawts.



Versi
lain dari teori ini muncul dalam kitab Jami’ al-Ushul fi al-Awliya’.
Hirarki awliya’ terdiri dari enam tingkat, yang tertinggi adalah al-Quthb
al-Ghawts
. Selanjutnya, awtad sebanyak empat yang ditempatkan di
empat arah, yakni utara, selatan, barat dan timur; kemudian abdal
sebanyak tujuh, nujaba’ 40, dan yang paling rendah adalah nuqaba’,
yang jumlahnya mencapai 300 wali. Di samping itu, D’Ohsson memberikan model
hirarki lain yang berkembang dalam tradisi Turki, yang di situ ada tujuh
tingkat yang terdiri dari 356 awliya’. Yang pertama, tertinggi, ialah al-ghawts
al-a’dham
(pengungsian besar); kedua ialah quthb (penjaga kutub);
ketiga ialah awtad (tiang-tiang). Sisanya diketahui dari jumlah
mereka: ucler berjumlah 3 orang, yediler 7 orang, kerikler 40
orang, dan ucyediler 300 orang.



Betapapun
teori hirarki awliya’ itu telah berkembang dalam tradisi sufi, Ibn
Taymiyyah berpendapat bahwa klasifikasi di atas hanya didasarkan pada sunnah
Nabi atau sahabatnya yang tidak sahih, dan dengan demikian ini merupakan bid’ah
yang tidak bisa ditoleransi. Sebaliknya, Ibn Taymiyyah membuat klasifikasi yang
diambil dari ayat-ayat al-Qur’an dalam surat al-Waqi’ah, yang menyatakan bahwa
ada dua tingkatan awliya’, yakni al-muqarrabun (orang-orang yang
didekatkan) dan al-abrar (orang-orang yang baik). Yang
paling tinggi, al-muqarrabun, adalah mereka yang selalu melaksanakan
kewajiban, ditambah amal-amal yang dianjurkan. Ketika membicarakan orang-orang
ini, Allah berfirman, "Aku menyayangi mereka, Aku menjadi telinga mereka
untuk mendengar, menjadi mata mereka untuk melihat, menjadi tangan mereka untuk
meraba dan menjadi kaki mereka untuk berjalan." Penjelasan lebih lanjut
tentang mereka itu diberikan dalam surat al-Waqi’ah, "Mereka itulah orang
yang didekatkan kepada Allah, berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar
dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.
Mereka berada di atas dipan yang bertatahkan emas dan permata, serta bertelekan
di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap
muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki berisi minuman yang diambil dari
air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan
buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka
inginkan. Dan di dalam surga itu, ada bidadari-bidadari yang bermata jeli,
laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka
kerjakan." Awliya’ yang lebih rendah ialah al-abrar, atau
disebut juga dengan ashhab al-yamin. Mereka mengikuti semua perintah dan
menjauhi semua larangan, tetapi kurang memperhatikan apa yang dianjurkan.
Penjelasan selanjutnya tentang awliya’ ini dapat dijumpai juga dalam
surat al-Waqi’ah, "Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan
itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang
buahnya bersusun-susun, dan naungan yang terbentang luas, dan air yang
tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak terputus buahnya dan tidak
terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya
kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan
mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, Kami ciptakan
mereka untuk golongan kanan, yaitu segolongan besar dari orang-orang terdahulu,
dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.



Bentuk
klasifikasi yang lain diberikan oleh al-Alusi dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani.
Menurutnya, awliya’ dibagi ke dalam dua kelompok: wali-wali kecil (al-awliya’
al-shughra
) dan wali-wali besar (al-awliya’ al-kubra). Yang pertama
adalah mereka yang jarang berbuat dosa, dan ketika mereka berbuat dosa, mereka
akan menyesal. Yang kedua adalah mereka yang secara praktis tidak pernah
berbuat dosa sama sekali, meskipun secara teoritis mereka tidak ma’shum
(terpelihara dari dosa). Tampak bahwa, teori al-Alusi yang menyatakan bahwa awliya’
itu tidak ma’shum sesuai dengan teori Ibn Taymiyyah lima abad lebih
awal. Bedanya ialah, bahwa menurut Ibn Taymiyyah awliya’ itu tidak ma’shum,
baik secara teoritis maupun praktis. Tetapi, Ibn Taymiyyah dan al-Alusi
sependapat bahwa awliya’ yang paling tinggi adalah para nabi.



 



VI.
Kesimpulan



Secara
singkat, al-Qur’an menegaskan bahwa awliya’ Allah adalah mereka yang
memiliki keyakinan teguh dan menjauhi kejahatan; mereka tidak khawatir atau
takut; mereka diberi busyra di dunia dan di akhirat. Para ulama’
sependapat, bahwa awliya’ dekat dengan Allah, dan memperoleh kedudukan
yang tinggi di kalangan orang-orang yang beriman. Mereka juga sependapat, bahwa
kedudukan ini disebabkan oleh kesalehan mereka dan tidak oleh keajaiban mereka.
Penafsiran ini diambil dari al-Qur’an dan hadis sebagaimana digunakan oleh para
mufassir klasik maupun modern. Penafsiran klasik diwakili dengan baik
oleh al-Thabari yang terkenal karena bersandar kepada hadis dalam tafsirnya.
Penafsiran modern diwakili dengan baik oleh Muhammad ‘Abduh yang kritis dan
mengingkari kesahehan hadis-hadis tentang wali, dan karena itu dia lebih
cenderung bersandar pada ayat-ayat al-Qur’an dan menggunakan penalaran bebas.



Satu-satunya
keistimewaan awliya’ yang secara eksplisit dinyatakan dalam al-Qur’an
ialah busyra. Tetapi dalam perkembangan intelektualisme Islam, ada suatu
tahap di mana awliya’ dianggap mempunyai keistimewaan lain di dunia ini:
pengetahuan rahasia dan kekeramatan. Dua keistimewaan ini telah menjadi pokok
perbedaan pendapat di kalangan ulama’. Tampak bahwa reliabilitas pengetahuan
yang didapatkan oleh awliya’ melalui intuisi dan karamah sebagai
indikasi kewalian, dengan baik dikembangkan hanya dalam tradisi tasawuf.
Memang, kedua keistimewaan itu tidak muncul dalam al-Qur’an dan Sunnah. Karena
itulah, kenapa beberapa ulama’, seperti Ibn Taymiyyah dan Muhammad ‘Abduh,
cenderung menolak reliabilitas pengetahuan demikian itu dan validitas keajaiban
sebagai tanda kewalian.



 



Seperti hal tersebut di atas, usaha untuk menyusun awliya’
dalam suatu hirarki juga menjadi titik perdebatan. Usaha menyusun hirarki itu
telah dimulai dalam tradisi tasawuf dan didasarkan tidak pada ayat-ayat
al-Qur’an atau hadis Nabi. Namun, peringkat yang disusun di luar tradisi
tasawuf tampaknya hanya merupakan reaksi kepada peringkat yang dibuat oleh kaum
sufi. Usaha ini hanya didasarkan pada arti literal ayat-ayat al-Qur’an sebagai
dasar bagi teologi Islam.   Wallahu
a`lam