Pembelajaran Moral Santri

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Pembelajaran Moral Santri

Rabu, 16 Juli 2008


santriOleh: Deden Ahmad Faoz Almadani



 



KABAR  yang menyedihkan pernah “menyapa” sebuah
departemen yang seharusnya bisa memberi contoh kepada departemen lain,
departemen yang sebagian anggotanya pernah menjadi santri, ironis
memang. Para santri  hampir setiap hari mendapatkan pelajaran moral
yang didapat dari quran, hadits, mahfuzhat, ceramah, doktrin dsb.



 



Sepantasnya “gemblengan”ini menjadikan santri “lebih soleh”
dibandingkan mereka yang “bukan santri” yang tidak mengenyam pesan
agama sesering para santri.







sudah saatnya bagi pemerhati
pendidikan Islam untuk mulai mengevaluasi metodologi pembelajaran di
pesantren, khususnya pembelajaran moral. Metodologi pembelajaran moral 
saat ini apakah bisa mengajak para santri untuk merasakan dan mengerti
kandungan sebenarnya dari pesan moral yang disampaikan. Pesan moral
yang diajarkan islam itu  sempurna, tetapi bila cara penyampaiannya
tidak tepat, maka tidak akan menjadi pengekang bilamana seseorang lupa.






Berdasar pada pengalaman pribadi,
kebanyakan guru pesantren mengajarkan akhlak dengan menitik beratkan
hafalan dan pemahaman arti harfiah. dulu waktu nyantri, kitab akhlakul
banin, yaitu kitab yang menjadi pedoman dasar pengembangan akhlak
pemula di pesantren salaf , diajarkan dengan metode sorogan dimana guru
membaca dan mengartikan kata perkata.






Ketika selesai menerangkan,
semuanya mendapatkan giliran membaca kembali apa yang sudah diartikan,
sayangnya mereka jarang ditanya sejauh mana mereka memahami pesan itu,
malahan yang hafal di luar kepala bisa pulang duluan. Ustadz saya
selalu menerangkan “kalian kalau melakukan ini  akan disiksa di neraka,
dibenci tuhan, tidak akan masuk surga dll”. Alasan agama selalu menjadi
motif utama apakah suatu perbuatan dilakukan atau tidak. padahal masih
banyak alasan yang bisa  dijelaskan secara logika, tapi sayang logika
jarang dipakai.






Contohnya ketika santri ditanya  tentang alasan menjaga
kebersihan, jawaban pertama yang muncul adalah kebersihan itu  sebagian
dari iman, tetapi apakah mereka benar-benar mengerti alasan ” kenapa
kebersihan itu menjadi bagian dari iman?”, sepertinya tidak semua
santri bisa menjawabnya. Bila suatu pesan moral diajarkan hanya dari
segi agama dikhawatirkan keimanan seseorang berkurang sehingga dia akan
kehilangan alat pengekangnya. peran pemakaian logika dalam penyampaian
pesan agama sangat penting sekali karena penggunaan logika akan
mengarah kepada pemahaman yang hakiki tentang suatu pesan.






Seorang pengajar materi moral
harus membekali dirinya dengan kemampuan menganalisa suatu masalah dari
berbagai sudut pandang, bukan hanya dari dalil agama. sebagai contoh 
bila hendak melarang santri untuk meludah di sembarang tempat, dia
harus bisa menganalisanya dari sudut kesehatan atau dampaknya pada
lingkungan.






Berguru pada orang jepang, seperti
yang saya alami hablun minan naas mereka atau hubungan antar sesama
manusianya boleh dikatakan lebih baik dari orang indonesia, padahal
orang jepang menganggap agama itu bukan hal yang penting, terbukti dari
banyaknya masyarakat jepang yang beragama lebih dari satu atau percaya
pada semua tuhan. Hal ini  menjadi pertanyaan yang besar buat kita
orang indonesia yang menjadikan agama sebagai “way of life”, kenapa hal
ini bisa terjadi. sepertinya perlu tafakkur yang lebih mendalam lagi
tentang metodologi pembelajaran moral yang pernah dialami.






Ada beberapa masalah  mendasar
yang harus dievaluasi lagi tentang cara  penyampaian  materi  moral di
dunia  pesantren, diantaranya:




  1. kurangnya pemakaian logika dalam penyampaian materi moral. Para
    guru hanya memakai dalil-dalil agama. contohnya alasan  larangan ghibah
    sering hanya ditekankan dari dalil quran atau hadis. padahal ghibah
    bisa dijelaskan dari beberapa aspek, baik sosial, kemanusiaan ataupun
    keamanan. pemakaian logika masih jarang dilakukan sehingga kurang
    membentuk pemahaman yang hakiki di jiwa santri.

  2. banyaknya materi moral yang diterima santri dan  disampaikan tanpa penjelasan yang jelas tentang intisarinya.

  3. cara evaluasi yang kurang tepat.  kebanyakan evaluasi dilakukan
    dengan keharusan menghapal pesan moral tersebut, seperti dalam
    pelajaran mahfuzot. juga evaluasi hanya dilakukan dengan mengukur
    kemampuan santri dalam membaca dan mengartikan kalimat dalam bahasa
    arab, seperti  kitab akhlakul banin.

  4. cara penyampaian yang lebih  cenderung berbentuk satu arah, santri hanya menjadi pendengar  “setia”.






Pemakaian audio visual dalam
penyampaian materi moral sangat membantu memahamkan pesan kepada
santri, seperti pemutaran film hidayah. bahkan efeknya bisa  lebih
besar dari ceramah biasa. pemutaran film ini bisa dikatakan praktikum
dari teori yang telah disampaikan, teori yang dibarengi dengan praktik
akan lebih mudah dipahami dan lebih berbekas.






Materi moral harus dipahami,
dihayati dan dirasakan oleh santri. materi itu harus masuk kedalam hati
para santri dan betul-betul dimengerti.  Pesan moral harus dijelaskan
bukan hanya dari segi agama, tapi juga dari sisi kemanusiaan tanpa
memandang agama, runtutan akibatnya, penjelasan ilmiahnya dll.






Semua santri harus bisa
menjelaskan secara logika alasan dan inti sebenarnya dari suatu pesan
moral. Bukan hanya dengan menghapalnya di luar kepala dan bukan pula
hanya karena takut neraka atau ingin masuk surga.




Deden Ahmad Faoz Almadani, santri Gontor yang kini melanglang buana di negeri Jepang. Graduate School of Human Development (S2) Nagoya University Japan, jurusan Comparative education, 2005-sekarang.



Artikel ini digasab  dari blognya oleh Redaksi.