Modernisasi Berakar pada Tradisi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Modernisasi Berakar pada Tradisi

Selasa, 15 Juli 2008




MODERNISASI atau menjadi modern akan bisa diterima dan dapat menjadi perubahan yang berarti bagi dunia jika ditopang oleh tradisi apalagi jika tradisi itu sudah dimiliki dan mengakar kuat di dalam diri bangsa dan negara yang bersangkutan.



 




 









Ungkapan tersebut disampaikan oleh KH. Abdurrahman Wahid saat memberikan sambutan pada Religious Art Festival for Peace
yang diselenggarakan di Jitec Mangga Dua, Minggu (13/7) malam yang
diselenggarakan atas kerjasama Lesbumi NU, Soka Gakkai Indonesia dan
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).


 



Gus Dur memberikan contoh bangsa Jepang yang telah
berhasil melakukan perubahan yang berakar pada tradisi.
“Perubahan-perubahan itu haruslah berakar pada budaya bangsa dan
negera, orang Jepang termasuk Soka Gakkai adalah orang yang bangga
dengan tradisinya,” katanya.


 



Presiden Ri ke-4 itu pun mengaku banyak belajar dari para tokoh
penting Jepang yang telah menggerakkan negeri Matahari sampai
akhirnya bisa mencapai kejayaan saat ini, yaitu Tokugawa Leyasu yang
telah melakukan reformasi Meiji yang membuat Jepang terbuka pada dunia
luar, tetapi tetap memegang tradisinya yang baik.


 



Kedua adalah Yoshida Shigeru, PM Jepang seusai Perang Dunia II yang
menghancurkan Jepang. Ia berhasil membangkitkan kembali kebanggaan dan
memberi semangat untuk kembali bangkit dan berkompetisi dengan dunia
luar.


 



“Ini yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia jika ingin mengadakan
perubahan. Dan Kalau ingin sukses dalam pembangunan, mau tidak mau kita
harus membersihkan diri dari korupsi,” paparnya. (Nuol/Kurt)