Ahmadiyah Jahiliyah fil Aqidah, FPI Jahiliyah fil Akhlak

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Ahmadiyah Jahiliyah fil Aqidah, FPI Jahiliyah fil Akhlak

Sabtu, 12 Juli 2008

Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan tindakan Ahmadiyah atau FPI
yang dua-duanya mengatasnamakan Islam tak patut ditiru dikarenakan
adanya kesalahan mendasar yang dilakukan kedua organisasi ini.



“Ahmadiyah jihiliyah fil aqidah, FPI jahiliyah fil akhlak
(Ahmadiyah salah secara akidah, FPI salah secara akhlak.red),” katanya
dalam seminar mengenai multikulturalisme yang diselenggarakan oleh
Muslimat NU, Kamis (10/7) di Jakarta.

Mengenai penanganan terhadap Ahmadiyah, Kang Said mengaku hal ini cukup
sulit karena jaringannya internasional yang saat ini sudah menyebar
sampai ke 126 negara. Ahmadiyah tumbuh tahun 1884/1885 oleh Mirza
Ghulam Ahmad dan disokong penuh oleh pemerintah kolonial Inggris di
India.

Meskipun sudah jelas-jelas salah secara akidah karena mengakui adanya
nabi setelah Nabi Muhammad, tetapi dakwah yang dilakukan kepada mereka
harus tetap bil hikmah. “Rasulullah dengan sifat santunnya, maka berbondong-bondong orang masuk Islam, yang tadinya musuh jadi teman,” tandasnya.

Doktor dari Universitas Ummul Qura Makkah ini menuturkan pernah suatu
saat Nabi Muhammad ingin bersikap lebih keras dalam menjalankan dakwah,
namun ia langsung ditegur dengan turunnya sebuah ayat Qur’an, ‘Apakah
kamu akan memaksa orang untuk jadi Islam.

Pernah pula suatu saat Nabi Muhammad merasa putus asa, ia juga
disalahkan dengan turunnnya sebuah ayat yang terjemahan bebasnya
‘Apakah kamu akan menghancurkan dirimu sendiri karena kecewa orang tak
percaya Qur’an’.

Dalam sejarah umat Islam kekerasan yang dilakukan oleh beberapa
kelompok ternyata malah menghancurkan kelompok itu sendiri seperti yang
dilakukan oleh kaum Muktazilah, yang meskipun rasional, tetapi ketika
berkuasa juga memaksakan keyakinannya pada orang lain, sampai-sampai
Imam Hambali dicambuk sebanyak 100 kali sehingga menyebabkannya
meninggal. Namun, 70 tahun kemudian, aliran ini bubar.

Sejarah dakwah para wali di nusantara juga dilakukan dengan cara-cara
kelembutan sampai kerajaan Majapahi hilang oleh doanya para santri.
“Jihad, dalam sebuah kitab kuning diartikan memberi perlindungan kepada
orang yang baik-baik, muslim atau bukanmuslim, memberi makan, pakaian
dan tempat tinggal dan kesehatan, membangunmasyarakat,” ujarnya. (NUol)