Santri NU Serbu Markas FPI di Cirebon

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Santri NU Serbu Markas FPI di Cirebon

Senin, 02 Juni 2008

REAKSI  balik rupanya tidak selesai di Senayan. Ahad malam kemarin sekitar 30 santri dari sejumlah pondok pesantren menyerbu markas Fron Pembela Islam (FPI) di Desa Setu, Weru, Cirebon, Jawa Barat.  Aksi itu dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam Aliansi Warga Nahdliyin (AWN) itu dilakukan sebagai reaksi atas penyerangan massa FPI di Jakarta, pada Ahad siang.

 

Kejadian itu bermula mereka datang dengan berkendaraan sepeda motor dan sempat dihadang sekitar 4 orang anggota FPI yang sedang duduk-duduk di ujung jalan. Adu mulut pun terjadi di antara kedua kubu.

Anggota FPI itu lantas meninggalkan kantornya. Para santri AWN lalu merobohkan papan nama FPI yang yang berukuran selebar 1 meter. Papan nama itu pun diinjak-injak dan diseret.

Aparat Kepolisian Sektor Waru yang berada di lokasi hanya melihat aksi AWN itu tanpa berusaha mencegah.

 Nuruzzaman,  Menurut Koordinator AWN, aksi mereka merupakan bentuk kekesalan para santri NU atas penyerangan yang dilakukan FPI di Jakarta. Apalagi, salah satu korban rusuh Monas, Kiai Maman Imanulhaq, adalah tokoh NU di Cirebon yang mengasuh Pesantren Al-Mizan.

"Kita tidak terima dengan aksi FPI yang main hakim sendiri. Inilah pembalasan dari aksi tersebut," imbuh Nuruzzaman.

AWN, lanjut dia, mengancam akan menduduki kantor FPI juga dalam 2 x 24 jam, jika FPI tidak meminta maaf atas penyerangan tersebut.

"Kita akan melakukan aksi lagi dengan massa yang lebih banyak jika FPI tidak meminta maaf atas penyerangan di Monas," pungkasnya.

Kiai Maman Imanulhaq, salah satu korban penyerangan di Jakarta, mengaku diinjak dan dipukuli dengan bambu oleh massa FPI. "Ketika itu antara pukul satu dan setengah dua siang. Kita di Monas untuk aksi damai memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Tiba-tiba massa FPI sambil berteriak bubarkan Ahmadiyah, bubarkan kafir sambil membawa bambu," terangnya.

Setelah itu, kata Maman, ada 10 orang dari massa FPI yang mengeroyoknya. "Mereka memukul muka dan menendang. Setelah itu, saya jatuh diinjak-injak dan dipukuli pakai bambu," ujar Kiai Maman.

Maman mengatakan, saat ini anarkisme masih sangat subur. "Saya tidak dendam tapi seharusnya bisa menghargai keberagaman beragama yang ada dalam UU bukan dengan kekerasan. (kurt/rif/dtc)