Gus Mus: Tidak Mengerti Jalan Pikiran FPI

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Gus Mus: Tidak Mengerti Jalan Pikiran FPI

Rabu, 04 Juni 2008

PENGASUH Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengaku tidak mengerti jalan pikir Front Pembela Islam (FPI) atas tindakan kekerasan yang dilakukan pada aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Jakarta, Ahad (1/6) lalu.

 

Padahal, kata Gus Mus, kelompok pimpinan Habib Riziq Shihab yang menunjukkan keangkuhan dan keganasannya itu berpakaian busana seperti Nabi Muhammad. Pun menggunakan menggunakan label “Pembela Islam”.

“Lagi-lagi kita disuguhi tontonan yang sulit dimengerti oleh pikiran waras kaum beriman  yang ber-Pancasila. Mereka yang seperti kalap itu pastilah orang-orang awam yang tidak begitu mengerti tentang Islam dan tidak mengenal kanjeng Nabi Muhammad SAW,” tutur Gus Mus seperti ditulis www.gusmus.net.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menilai, mereka yang melakukan kekerasan tidaklah sungguh-sungguh mengerti bahwa Islam adalah agama damai dan kasih sayang. “Tidak mengerti bahwa kanjeng Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang bassaam, ramah dan murah senyum,” tandasnya.

“Mungkin mereka yang melakukan kekerasan itu sekedar ‘wayang-wayang’ yang terbakar oleh provokasi imam-imam mereka. Mereka diyakinkan, misalnya, bahwa kelompok AKKBB itu pembela kaum sesat Ahmadiyah atau antek-antek Yahudi dan Amerika,” imbuh Gus Mus lagi.

Namun demikian, lanjutnya, apa pun alasannya, tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan, baik oleh akal sehat, Islam, dan juga negara. Pasalnya, Indonesia jelas merupakan negara hukum yang semua persoalan semestinya diselesaikan melalui jalur hukum pula.

Gus Mus mengaku khawatir akan kekerasan-kekerasan, seperti yang terjadi pada Ahad (1/6) lalu, justru akan membuat konflik horisontal berkepanjangan. Jika hal itu terjadi, maka, pada akhirnya umat Islam sendiri yang merugi.

Kekhawatiran itu, ujarnya, bukan tanpa alasan. Sebab, saat ini ‘tensi masyarakat’ sedang sangat tinggi. Karena itu, pemerintah, sebagai pihak yang paling utama bertanggung jawab, agar menyelesaikan permasalahan tersebut.

Kepada seluruh umat Islam yang mayoritas di Tanah Air, ia mengimbau tetap mengedepankan sikap tidak berlebih-lebihan, sikap kearifan dan kesantunan seperti yang diajarkan Nabi Muhammad. “Tidak justru mengikuti cara-cara munkar yang seharusnya kita cegah,” tandasnya. (dari NU online)