Dunia Menyepakati Kekerasan Bukan dari Agama

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Dunia Menyepakati Kekerasan Bukan dari Agama

Sabtu, 28 Juni 2008

Forum damai DuniaSalah satu kesimpulan dari forum perdamaian dunia (World Peace Forum/WPF) yang diketuai oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin
menyatakan, agama
bukan akar kekerasan.

Meski begitu, ajaran suatu agama bisa disalahartikan
dan digunakan untuk memecah belah masyarakat. ”Agama justru bisa
dijadikan solusi selama masyarakat benar-benar memahami ajaran agama
tersebut,”kata Din Syamsuddin menyebut salah satu rekomendasi hasil
pertemuan World Peace Forum (WPF) ke-2 di Hotel Sultan,
Jakarta, kemarin.



 



 



Agama, lanjut Din, tidak
pernah menganjurkan untuk melakukan kekerasan. Pendidikan seorang
pemimpin akan memengaruhi membangun kesadaran moral, saling pengertian,
dan respek terhadap undang-undang, termasuk upaya untuk saling
menghormati budaya dan agama lain.







”Kami
percaya bahwa kedamaian dunia tidak bisa diraih selama kita tidak mampu
mengendalikan ketidakadilan, sikap ekstrem, intoleransi, diskriminasi,
fitnah, dan segala bentuk kekerasan, termasuk konflik antarnegara,
genocide (pemusnahan terhadap salah satu bangsa), represif, serta
segala bentuk pelanggaran hak asasi lainnya, termasuk terorisme,
agresi, dan segala hal yang melecehkan harga diri,” lanjutnya WFP juga
merekomendasikan agar pemerintah dan negara-negara besar memberikan
kontribusi lebih besar bagi kedamaian.






Dampak
globalisasi yang tidak merata, ketamakan, ketidakadilan, dan perampasan
ekonomi menjadi pemicu kekerasan seperti yang terjadi di beberapa
belahan dunia.”Penggunaan senjata dan kesenjangan global,mendorong
kelompok- kelompok tertentu untuk menggunakan kekerasan sebagai jalan
pintas. Pemerintah harus mampu untuk mencegah dan menanggulanginya,”
ungkapnya.






Hasil pertemuan lintas agama dan
budaya yang digelar 24–26 Juni lalu juga menekankan pentingnya aksi
organisasi sosial untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat bawah. Langkah ini untuk mengurangi ketidakadilan yang tidak
merata. Masyarakat di akar rumput ini, tegas Din, menjadi salah satu
unsur penting yang harus terlibat penuh dalam proses politik.






Dalam
kesempatan tersebut, peserta dan panelis WPF juga percaya bahwa media
memiliki peran penting dalam menciptakan komunitas yang lebih toleran
yang menaruh respek terhadap hak asasi manusia. Kekuatan media sebagai
penyampai pesan damai sangat diharapkan untuk meminimalisasi kerusuhan.
WFP ke-2 ini kemarin ditutup Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di
Gedung 2, Kantor Wapres, Jakarta.






Menurut
Kalla, kerukunan antarumat beragama akan tercipta jika ada
kesejahteraan dan persamaan hak.Kesejahteraan dan persamaan hak ini
bisa diwujudkan melalui lapangan pekerjaan yang luas dan pendidikan
yang baik.”Jika negara minim lapangan pekerjaan, orang akan mudah
tersulut konflik,” tutur Wapres Jusuf Kalla.






Kalla
yang mengenakan batik berwarna merah marun ini juga berpesan kepada
para pemuka agama dari seluruh dunia yang hadir untuk saling
meningkatkan kerja sama. Kerja sama yang dimaksud bukan hanya seputar
masalah agama, melainkan di bidang lainnya.






”Mari
meningkatkan kerja sama di berbagai bidang. Tidak hanya kerja sama
membahas masalah agama, tetapi juga bagaimana mengimplementasi sistem
dan saling menghormati satu sama lain,”papar Kalla. (SINDO)