Warga Muhammadiyah Haram Menerima BLT

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Warga Muhammadiyah Haram Menerima BLT

Jumat, 30 Mei 2008

Oleh: Redaksi
Pembagian Bantuan Langung Tunai (BLT) yang sudah menginjak satu minggu ini, bagi Pengurus Wilayah Muhammadiyah Semarang mengharamkan warganya menerima bantuan tersebut.





"BLT dinilai menurunkan martabat bangsa. Lebih baik memberi daripada
menerima," kata Ketua PW Muhammadiyah Jateng, Marpuji Ali didampingi
Sekretaris, Tafsir kepada wartawan di Semarang, Kamis seperti dikutip Antara pekan lalu.



Marpuji mengimbau kepada seluruh warga Muhammadiyah di
Jateng agar tak ikut-ikutan menerima BLT. "Kita akan lebih
memberdayakan potensi lembaga amil, zakat, dan infak yang ada untuk
membantu warga Muhammadiyah yang kekurangan," katanya.



Sementara sekretaris PW Muhammadiyah Jateng, Tafsir mengatakan, BLT dapat
menimbulkan sikap mental miskin sehingga tidak mendidik kalangan
masyarakat. Meskipun dari segi agama dibolehkan menerima bantuan itu,
tetapi warga Muhammadiyah agar tak ikut-ikutan berebut BLT dengan
masyarakat lainnya.


Mental Kere Diharamkan


BLT merupakan hak bagi warga yang benar-benar miskin sehingga bagi
mereka yang tak miskin haram hukumnya menerima dana tersebut. "Warga
Muhammadiyah jangan merebut yang bukan haknya, karena haram hukumnya.
Walaupun miskin jangan sampai bermental `kere` (miskin)," katanya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum DPP Muhammadiyah Din Syamsuddin mendukung
sikap PW Muhammadiyah Jateng yang mengharamkan warganya menerima BLT.
"Pak Din (Din Syamsuddin-red) melalui SMS (pesan singkat-red) kepada
saya mendukung mengharamkan warga Muhammadiyah menerima BLT," kata Tafsir.

Lebiih lanjut, kata Tafsir, Warga Muhammadiyah diminta jangan sampai menjadi beban negara
karena tanpa adanya BLT masih dapat bertahan melanjutkan hidupnya.
Melalui lembaga zakat yang ada dan tersebar sampai setiap cabang, bisa
membantu warga Muhammadiyah kurang mampu. Kecuali bila program BLT
diganti dalam bentuk zakat sehingga semua masyarakat kurang mampu
berhak menerima bantuan dana tersebut. "Kita tak ingin mengajari warga Muhammadiyah berjiwa miskin," katanya.  (Kurt).