T. Boone Pickens Penyebab Naiknya Harga Minyak Dunia

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

T. Boone Pickens Penyebab Naiknya Harga Minyak Dunia

Jumat, 30 Mei 2008

T.BOOneHarga minyak dunia naik penyebabnya karena spekulan minyak tingkat dunia yang bermain. Salah satunya adalah T. Boone Pickens. Di pasar energi global dan lingkungan pasar modal Wall Street di Amerika Serikat (AS), nama T. Boone Pickens terkenal sebagai spekulan minyak kelas atas paling penting.



"Saat ia berbicara, orang-orang menyimaknya. Bahasanya mudah dimengerti
siapa pun. Ketika menyebut harga minyak bakal mencapai 150 dolar AS per
barel akhir 2008 nanti, semua orang mengamininya," ungkap Todd
Benjamin, Redaktur Keuangan CNN International seperti dirilis
Antaranews.

Menurutnya, Boone sebagai jago memprediksi harga minyak dan pandai
mengeksploitasi kekuatan logikanya yang cemerlang untuk menghubungkan
fakta dan kecenderungan harga dengan psikologi pasar. Hal itulah yang 
diamini juga oleh kalangan pasar keuangan global.

"Sebanyak 85 juta barel adalah total produksi minyak yang bisa
dihasilkan dunia sehari, padahal permintaan minyak dunia sehari 87 juta
barel," kata Pickens, saat mengungkapkan alasan mengapa harga minyak
dunia bakal terus naik.

Bukan main, asumsinya mendorong pelaku pasar keuangan --diantaranya
lembaga investasi Goldman Sachs-- membuat prediksi provokatif tentang
harga minyak dunia dengan asumsi bahwa keadaan riil di mana dunia sulit
memenuhi kebutuhan minyaknya memang bakal terjadi.

Dari anaslisa tersebut, harga minyak pun melesat tanpa bisa dihentikan
siapa pun. Seluruh dunia bimbang, sementara para pemimpin banyak negara
was-was karena situasi itu membatasi pilihan mereka dalam menyelamatkan
keuangan negara.

Tak hanya negara-negara berkembang, negara maju layaknya AS pun tak
tahan dengan keadaan tersebut. Para pejabat AS malah menuduh segelintir
orang tamak telah membuat ekonomi berdarah-darah dan memaksa sumber
keuangan AS terpompa ke luar negeri hanya untuk mendapatkan minyak.

"Rakyat bingung karena permintaan minyak tidaklah segila seperti
diperkirakan, tetapi mengapa harga minyak terus menggila?" tanya
Senator Herb Kohl, seperti dikutip Washington Post edisi 22 Mei 2008.

Tak hanya pejabat politik, eksekutif perusahaan-perusahaan minyak juga
menuduh spekulan dan pengelola dana sebagai biang kesulitan global ini.
Sebagian lainnya memperluas tuduhan ke Negara-Negara Pengekspor Minyak
(OPEC) yang disebut sengaja menyempitkan kapasitas produksi minyaknya
agar harga minyak terus meninggi.

OPEC balik menyerang dengan menunjuk para spekulan harga, para penimbun
minyak di AS dan kebijakan politik Washington yang sembrono justru
aktor dibalik malapetaka harga tersebut.

Sejumlah kalangan menilai kapasitas produksi minyak dunia sudah tak
lagi bisa menjawab ekspansi permintaan. Apalagi, negara seperti RRC dan
India agresif memburu minyak karena ekonominya semakin haus energi.

Koran Christian Science Monitor edisi 2 Mei 2008 menyebutkan, di dekade
1980an dan 1990an, meningkatnya permintaan pada minyak bisa dijawab
dengan memacu ladang-ladang minyak baru untuk berproduksi. Tetapi
kemampuan itu meluntur belakangan ini. Kutip Antara.

Ladang minyak baru memang bermunculan, seperti di Brazil dan Afrika Barat, namun butuh waktu lama untuk sampai bisa berproduksi.

Bagaimanapun harga minyak akan terus merangsek hingga mencapai
$150/barel tahun ini. "Ada bukti sangat kuat bahwa spekulasi skala
luarbiasa besar telah membuat harga minyak meningkat tajam," klaim
Senat AS dalam laporan bertajuk The Role of Market Speculation in
Rising Oil and Gas Prices tertanggal 27 Juni 2006. (kurt)