Pertemuan di PBNU Upaya Berdayakan Potensi Alumni

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Pertemuan di PBNU Upaya Berdayakan Potensi Alumni

Minggu, 18 Mei 2008

Oleh: Redaksi
Alumni memiliki kekuatan yang dapat diandalkan guna ikut serta dalam memajukan pondok Buntet Pesantren. Dengan kekuatan jaringan ini, bisa mendukung program-program yang dicanangkan pesantren ke depan. Namun sayangnya, potensi ini lemah secara struktur karena berkali-kali membentuk forum silaturahmi antara alumni pengurusnya hanya orang Buntet sehingga ketika pulang kampung, gaung semangatnya lemah kembali.



Masalah ini mengemuka dalam pertemuan antara para senior alumni Buntet Pesantren dengan sesepuh Buntet KH. Nahduddin Royandi Abbas di gedung PBNU Jakarta Pusat kemarin, Kamis, 16 Mei 2008.

Hadir dalam pertemuan itu, para alumni yang telah banyak berkecimpung di bidang pemerintahan, pegawai, pedagangan dan sebagainya. Tidak kurang dari 15 orang hadir dalam ruangan utama rapat di Kantor PBNU yang megah itu. Dalam suasana keakraban apalagi dipimpin oleh salah satu pengurus PBNU, saudara Masrur alumni tahun 80-an, Kang Jauhari, Kyai Luqmanul Hakim dan lain-lain.

Pertemuan yang juga dihadiri oleh beberapa alumni tahun 70-an itu selain membahas program pendirian kepengurusan organisasi alumni buntet juga membahas usulan dari sesepuh untuk membentuk semacam bank data para alumni buntet pesantren dari yang dahulu hingga sekarang. “Potensi alumni yang besar itu, jika disinergikan akan sangat membantu perkembangan pondok pesantren.” Kata Mbah Din meyakinkan.

Lebih lanjut mbah Din, memberikan situmulasi kepada para alumni yaitu sebuah tawaran program guna mensinergikan para alumni Buntet agar bersedia ikut terlibat dalam membantu sarana pendidikan di Buntet atau program lainnya. “Saya punya keinginan agar di Buntet itu didirikan kembali madrasah/sekolah yang berorientasi pada keterampilan mirip sekolah kejuruan.” Pancing mbah Din.

Menurutnya, madrasah ini nantinya diharapkan mampu menghasilkan para lulusan yang bisa kita kirim ke luar negeri seperti Europe. “Jadi jangan TKW saja, pesantren harus bisa menghasilkan tenaga ahli yang dibutuhkan di luar negeri.” Tukas Mbah Din. Tentunya, selain program keagamaan yang nantinya bisa menjadi penekun ilmu-ilmu warisan ulama. Sebab semua lulusan santri tidak merata berkecimpung dalam dunia pendidikan keagamaan.

Untuk mewujudkan itu, sambung mbah Din, tidak lain kita harus ikut berpartisipasi. Apakah besar atau kecil sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ia justru berharap agar jangan hanya dimonopoli oleh seseorang misalnya karena kemampuan materi yang besar, tetapi meski sekecil apapun, katanya, keterlibatan para alumni Buntet inilah yang bisa memberi gerak pembangunan. (Kurt)