Perluasan Mas`a tak Perlu Diragukan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Perluasan Mas`a tak Perlu Diragukan

Senin, 05 Mei 2008
KBIH Buntet Pesantren


Jakarta
(MCH). UIama dan intelektual Arab Saudi Syaikh Dr. Salman bin Fahd
Al-Audah menyatakan bahwa umat Islam tak parlu meragukan keabsahan
tempat sa’i baru yang merupakan perluasan dari tempat sa’i lama. Sebab,
menurut Audah yang dikutip harian Al-Watan edisi Jumat, 2 Mei kemarin,
penetapan tempat sa’i sementara serta perluasannya tak menyalahi hukum
Islam sehingga tak peru diragukan apalagi dengan menunda umrah.







Menurut Audah, dalam sa’i yang ditentukan adalah berjalan antara bukit
Safa dan Marwah. Bukit Safa dan Marwah bukan berarti puncaknya, tapi,
keseluruhan lebar bukit yang ada hingga kaki bukitnya. Menurut catatan
Audah, lebar puncak masing-masing bukit itu sekitar 20 meter.

Pula, menurut Audah, dahulu kala, orang melakukan sa’i tidak di tempat
yang sekarang kita kenal. Dulu, sa’i menempati tempat yang dikenal
dengan nama Al-Hishwah, sebelah timur sumur Zamzam. Namun, kemudian
Abbas Al-Mahdi, gubernur Mekah memindahkan lokasi sa’i dari Hishwah ke
arah timur Masjidil Haram pada tahun 167 Hijriyah.

Bahkan, menurut Audah, pada saat haji Rasulullah tahun 12 Hijriyah dulu
yang membawa serta 100.000 jemaah haji lebih tak mungkin akan serempak
berjalan dalam koridor sekarang ini, karena belum ada pembatas sa’i.
“Tentu ada orang yang melangkah lebih jauh, tapi, juga tak dimasalahkan
oleh Rasulullah,” katanya. Karena itu, Audah mengutip pendapat Imam
Rafi’i dari mazhab Syafi’i dalam Syarah Minhaj yang ditulisnya: “Saya
belum pernah melihat dari banyak pendapat para ulama itu tentang lebar
jalur sa’i. Hal ini tak dibahas karena memang karena tak diperlukan.
Yang wajib adalah melaksanakan sa’i antara dua bukit itu saja.”

Yang lebih unik lagi, menurut Audah, tak ada penjelasan padu yang
menyatakan bahwa sa’i itu termasuk rukun atau wajib atau sunnah. Semua
ulama masih beda pendapat itu dan maisng-masing memiliki pegangan yang
bisa dipertanggungjawabkan yang tak perlu diragukan. (Musthafa Helmy)