NU Tak Ingin Mendirikan Negara Islam

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

NU Tak Ingin Mendirikan Negara Islam

Jumat, 30 Mei 2008

gusdur1.jpgMasih ingatkah saat Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pergi ke Amerika Serikat beberapa hari lalu?  Gus Dur begitu disegani di dunia internasional, terutama dalam upayanya menegakkan toleransi, dialog antar agama dan perdamaian dunia. Upaya keras yang tak mengenal lelah ini pun membuahkan tiga penghargaa berupa medal of valor dari Yayasan Simon Wiesenthal di Amerika Serikat (AS).



Dalam pelawatannya di negeri Paman Sam itu, Gus Dur tidak menyianyiakan
kesempatan untuk memperkenalkan NU di publik Internasional. Salah satu
yang diungkapkan Gus Dur adalah bahwa NU tidak berkeinginan mendirikan
negara Islam.

"Tahun 1935, atau 10 tahun sebelum Indonesia merdeka, Muktamar NU ke-9
di Banjarmasin memutuskan tidak diwajibkan mendirikan negara Islam.
Karenanya kita melihat di Indonesia ini agama bermacam-macam," ungkap
Gus Dur dalam jumpa pers setelah pelawatan dari sana di Kantor DPW PKB,
Jl Kalibata Timur, Jakarta.

Saat pelawatannya di Amerika, cerita Gus Dur seperti ditulis dalam
situs gusdur.net menyatakan bahwa penghargaan itu diberikan di Beverly
Wilshire Hotel, Beverly Hills. Kemudian beliau memberikan sambutan dan
saat itu mendapat standing ovation (tepuk tangan sambil berdiri tanda
penghormatan). Selama di sana, sejak 4 Mei sampai 12 Mei lalu,
didampingi salah satu puterinya, Inayah Abdurrahman Wahid. Setelah
menerima penghargaan Gus Dur dan rombongan juga berbicara di beberapa
lembaga penting di sana.

Beliau juga memberikan ceramah di depan publik Amerika Serikat tentang
Islam moderat pada hari berikutnya di Marvin Center Amphitheater
Universitas George Washington. Acara ini digelar oleh The American
Islamic Congress.

Ia merupakan lembaga swadaya masyarakat muslim di Amerika Serikat yang
mengampanyekan toleransi dan dialog antara Muslim dengan masyarakat
lain. Lembaga yang berkantor di Washington, Boston, Mesir dan Iraq ini
mengagas sejumlah forum perdamaian di berbagai belahan dunia.

Setelah itu, tulis situs resmi Gus Dur, selama kunjungannya di AS,
mantan ketua PBNU itu juga mengadakan pertemuan dengan sejumlah senator
AS. Misalnya, anggota senior Komite Hubungan Internasional Kongres AS
Robert Wexler dan Ketua Kaukus Anti Terorisme Kongres AS Sue Myrick.

Disamping itu juga beliau bertemu dengan Joe Rockefeller dan
Christopher Bond, dua senator yang berpengaruh menentukan kebijakan
luar negeri AS. Bahkan Gus Dur juga bertemu dengan Wakil Presiden AS
Dick Cheney di Gedung Putih, Washington DC.

Dalam pertemuan-pertemuan itu, Gus Dur mengharapkan pemerintah AS
menyikapi dengan arif gejala kian menguatnya kelompok fundamentalis
agama. "Penyikapan itu bukan dengan kekerasan tentunya. Saya termasuk
yang menginginkan terjadinya dialog antaragama," tegasnya.

Di sana, cerita Gus Dur, dirinya juga menyampaikan bahwa sikap
Indonesia atas keragaman agama-agama yang ada sangat jelas tertera
dalam UUD 1945 dan Pancasila. "Tapi ada juga orang-orang yang
sektarian," katanya. [Kurt]