Gus Dur,Cak Imin,Membela yang Benar

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Gus Dur,Cak Imin,Membela yang Benar

Sabtu, 10 Mei 2008


Cak IminGus Dur



Oleh: Prayitno Ramelan



Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dikenal sebagai partainya kaum
nahdliyin.Partai ini didirikan untuk menampung aspirasi keluarga besar
Nahdlatul Ulama (NU) yang diperkirakan berjumlah 35 juta jiwa.






Sejak didirikan pada 23 Juli 1998, telah terjadi
tiga kali konflik antara Ketua Umum Dewan Syura dengan Ketua Umum Dewan
Tanfidz. Dua konflik terdahulu diselesaikan melalui jalan muktamar luar
biasa (MLB) dan jalur pengadilan. PKB versi Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
dapat dikatakan tetap jaya setelah ada keputusan dari Mahkamah Agung,
apa pun keputusannya.





MLB dari lawan politiknya
dapat dinilai tidak mempunyai pengaruh terhadap eksistensinya di PKB.
Konflik yang kini terjadi antara Ketua Dewan Syura PKB Gus Dur dan
Ketua Umum Dewan Tanfidz Muhaimin Iskandar (Cak Imin) merupakan konflik
ketiga.






Kedua konflik terdahulu berakhir dengan
turut melibatkan beberapa kiai sepuh.Konflik ketiga ini kembali coba
diselesaikan melalui MLB dan jalur hukum. PKB versi Gus Dur menggelar
MLB di Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, dari 30 April
sampai 1 Mei 2008, dan memilih Ali Masykur Musa sebagai Ketua Dewan
Tanfidz, Gus Dur tetap pada posisi Ketua Umum Dewan Syura.






PKB
kubu Cak Imin menggelar MLB di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, pada 2-4
Mei 2008.MLB ini menentukan KH Abdul Aziz Mansyur sebagai Ketua Umum
Dewan Syura. Kalau dua konflik terdahulu antara sesama kaum tua, kini
yang terlibat konflik adalah kaum tua dan kaum muda. Turut terlibat
juga unsur kekeluargaan.






Kekuatan Gus Dur



Di
kalangan kaum nahdliyin berkembang mitos tentang kedudukan Gus Dur
dalam posisinya sebagai keturunan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim
Asy’ari. Mereka percaya di tanah Jawa ada dua keturunan darah
biru,darah biru raja Jawa dan darah biru Islam keturunan pendiri NU,
yaitu Kiai Hasyim Asy’ari.Keturunan pendiri NU di kalangan warga NU
sangatlah dihormati. Kaum prianya dipanggil dengan nama depan ”Gus”.






Di
NU terdapat dua macam kiai, yaitu ”kiai nasab” (mereka yang dipandang
berdarah biru) dan ”kiai karier” (mereka umumnya orang biasa yang
belajar dan menguasai ilmu Islam hingga mendapat gelar kiai).Contoh
kiai nasab yang terkenal adalah Gus Dur,sedangkan contoh kiai karier
yang terkenal adalah Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.






Sebagai
orang yang dikenal berdarah biru, Gus Dur di kalangan kaum nahdliyin
adalah tokoh sentral yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang sulit
dibantah. Kalau diperhatikan, Gus Dur memiliki dua pribadi yang
berbeda. Sebagai tokoh masyarakat, beliau adalah demokrat, tokoh yang
tidak fanatik,kadang kontroversial, selalu memihak dan memperjuangkan
rakyat kecil.






Di lain sisi, di kalangan nahdliyin
beliau bertindak seperti seorang raja yang tidak mau dibantah oleh
bawahannya, lebih menjurus sebagai tokoh yang otokratis. Kepribadian
tersebut terlihat dari ucapan dan konflik yang terjadi selama
ini.Konflik dengan Cak Imin saat ini merupakan ujian legitimasi ketiga
bagi Gus Dur. Pertanyaannya, akankah Muhaimin berhasil atau justru akan
lengser seperti dua Ketua Umun Dewan Tanfidz PKB terdahulu?






Sejak
awal PKB sudah mengatur kedudukan Ketua Umum Dewan Syura sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi di partai.Kegelisahan politisi muda PKB
dan beberapa kiai kembali menunjukkan pemberontakan terhadap kultur
yang berlaku ini. Mereka secara tidak sadar terbawa dalam arus
kehidupan politik yang penuh intrik, pengkhianatan, dan ketidaksetiaan.
KH Mustofa Bisri (Gus Mus), pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut
Thalibin,Rembang,Jawa Tengah,pernah mengingatkan agar para kiai tidak
dimainkan dalam konflik di tubuh PKB.






Tentu
sangat disayangkan jika para ”kiai khos” yang sangat dihormati turut
terseret masuk dalam arena konflik. Padahal, mereka sebaiknya berperan
dalam masalah kemaslahatan umat. Dalam beberapa konflik terdahulu,
upaya perlawanan terhadap Gus Dur umumnya dimenangkan oleh pendiri PKB
itu.






Posisinya sebagai pemilik dan penguasa di
kalangan kaum nahdliyin, yang didukung dengan sistem yang diatur di
PKB, sementara ini sulit ditumbangkan. Kata-katanya bertuah, bak sabda
seorang raja. Memang Gus Dur tokoh kontroversial, namun biar
bagaimanapun dengan darah birunya, dia tetaplah seorang raja di
kalangan NU.







Melawan Gus Dur seperti melawan
gunung api yang memiliki lahar panas dengan wedus gembel-nya yang
mematikan.
Konflik PKB kini harus diwaspadai dan disikapi secara bijak,
baik oleh Cak Imin maupun pemerintah. Apabila Gus Dur ”dikalahkan” atau
PKB tidak boleh ikut Pemilu 2009,bukan tidak mungkin akan terjadi geger
yang berbahaya dan meluas.







Pemerintah sebaiknya
jangan membiarkan konflik ini berlarut-larut,
terlebih apabila ada yang
terlibat di dalamnya.Lebih baik berposisi di jalur netral, tetapi
secara cerdik menyikapi masalah partai ini. Konflik yang melibatkan
emosi kepercayaan masyarakat terhadap ketokohan seseorang di suatu
wilayah dapat menimbulkan bahaya timbulnya kerusuhan sosial.Terlebih
apabila hal tersebut berskala nasional.







Cak
Imin juga sebaiknya mengukur lawannya yang sudah teruji memenangkan
beberapa konflik legitimasi di mana dia juga pernah terlibat di
dalamnya.
Harus disadari memang sulit untuk menyandingkan pemikiran
politik di alam demokrasi dengan pemikiran dan budaya pesantren dengan
kulturnya yang sangat kental.






Mungkin hal ini
baru akan tercipta nanti apabila Gus Dur sudah tidak eksis lagi. Inilah
contoh buruknya politik. Mereka yang dahulunya sama-sama mengaji dan
berdoa, mencium tangan, saling menghormati,kini begitu berbeda
kepentingan politik dan tidak ragu-ragu untuk saling bermusuhan. Fakta
yang amat disayangkan!






Melihat fenomena ini,
rasanya mesti disadari dan direnungkan kembali semboyan ”PKB membela
yang benar”.Dengan konflik ini,kelihatannya sulit bagi PKB untuk dapat
menerapkan semboyan tersebut karena kebenaran hakiki sangat sukar
ditemukan. Mungkin hanya jalur hukum yang dapat menyelesaikannya.






Toh,
apabila tidak segera tercapai jalan keluarnya, tentu sangat menyedihkan
karena menurut survei PKB diramalkan akan menjadi urutan kelima peraih
suara terbanyak setelah PDIP, Golkar, Partai Demokrat, dan PKS.
Bagaimana dengan jalur islah? Jalur ini tidak mungkin tercapai,karena
”sang raja” begitu paham dengan kekuatannya, walaupun mahkotanya hanya
sebuah peci. (snd)






Prayitno Ramelan | Analis Lembaga Indset



 



www.motahu.com