Bangsa Indonesia Tidak Pantas Miskin

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Bangsa Indonesia Tidak Pantas Miskin

Selasa, 06 Mei 2008


Bangsa ini tidak akan melarat kalau mampu mengolah dan mengontrol
kekayaan alam yang ada di dalam tanah, hutan, dan laut karena bangsa
ini tidak kekurangan apa pun sebagai berkah dari Tuhan, kata bupati
yang dinilai berprestasi ini oleh banyak kalangan.





"Optimisme kita sebagai bangsa harus kita bangun. Kita harus bangkit
kembali. Kalau dulu para pendahulu kita berikrar merdeka atau mati,
sekarang kita berjuang untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain atau
(kita) mati," katanya.

Pandangannya itu ia sampaikan kepada ANTARA News yang mewawancarainya
via telepon Jumat malam beberapa sesaat sebelum ia berbicara di depan
komunitas Indonesia di Melbourne atas undangan Konsulat Jenderal RI di
kota itu.

Selain berbicara di depan komunitas Indonesia, Untung Wiyono juga
menjadi pembicara dalam sesi hari kedua Konferensi Perhimpunan Pelajar
Indonesia di Australia (PPIA) menyambut "100 Tahun Hari Kebangkitan
Nasional" dan "10 Tahun Reformasi", Sabtu.

Untung Wiyono mengatakan untuk membangkitkan optimisme dan kemampuan
bangsa menjawab berbagai persoalan pelik kebangsaan itu, ada dua
pendekatan yang sangat penting untuk disemai dan ditumbuh-kembangkan
oleh seluruh komponen bangsa.

"Kedua pendekatan itu adalah kepekaan sosial dan kepekaan kasih sayang," katanya.

Kemiskinan yang mendera kehidupan puluhan juta jiwa rakyat Indonesia
dapat teratasi jika kepekaan sosial orang-orang kaya terhadap
lingkungan sekitar mereka baik karena budaya Indonesia itu pada intinya
adalah "gotong-royong", kata Untung Wiyono.

Yang tak kalah pentingnya adalah membangun kepekaan kasih sayang dengan
senantiasa mengedepankan budaya "musyawarah dan mufakat" dalam
merespons persoalan-persoalan bersama, katanya.

Untung Wiyono mengatakan dengan anugerah Tuhan yang besar berupa
kekayaan alam dan tanah yang relatif subur kepada bangsa Indonesia,
tidak sepatutnya bangsa ini miskin dan kekurangan sandang pangan.

Salah satu kebiasaan positif yang harus ditumbuhkan secara
terus-menerus dalam diri setiap individu Indonesia adalah semangat
"mencintai produk bangsa sendiri", katanya.

Dengan 220 juta jiwa penduduk, bangsa Indonesia sepatutnya mampu
berswasembada sandang dan pangan jika mereka benar-benar berkomitmen
pada pemakaian produk-produk dalam negeri, katanya.

"Kalau kita berkomitmen pada produksi pangan kita sendiri, kita tidak
akan kelaparan. Nenek moyang kita saja bisa hidup. Begitu juga dengan
sandang," katanya. (ant/kurt)