Buntet dan Pelayanan Khusus Wanita

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Buntet dan Pelayanan Khusus Wanita

Senin, 21 April 2008

Oleh: Aden

Ada
kecenderungan sekarang ini di tengah kehidupan kosmopolitan yaitu
sebuah tuntutan pelayanan khusus untuk wanita. Kini, tempat-tempat
seperti hotel,pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Lingkungan pesantren
khusunya Buntet sudah lama menerapkan special place for women.



Pembicaraan
seperti ini ramai sekali di tiap stasiun radio, majalah dan koran.
Wanita katanya, ada saat-saat tertentu tidak mau diganggu oleh kalangan
lawan jenisnya. Walaupun secara kodrati mereka senang untuk tampil dan
unjuk gigi dan bergaya di depan laki-laki.

Sekolah wanita di
Buntet menerapkan semacam "sexual border", dimana wanita dipisahkan
dari laki-laki. Perlakuan demikian terlihat nyata di semua sekolah
negeri dan swasata. MAN Buntet Pesantren memberlakukan kelas wanita
terpisah dari siswa laki-laki, sementara sekolah swastanya seperti MTs
dan MA dipisahkan secara independen; ada MTs Putra/putri juga aliyah
putra dan putri.

Perlakukan demikian menurut saya adalah
sebuah penghormatan kepada wanita. Ada saat-saat tertentu di mana
wanita memiliki sense of individual. Nyatanya pendewasan nilai
kewanitaan pada santri-santri tumbuh dengan baik. Bukan saja kehormatan
wanita terjaga, lebih dari itu, kebebasan gaul negatif bisa dieliminir
dengan seksama.


Saat ini di kota Jakarta kini tengah
diperbincangkan secara luas bagaimana pelayanan publik akan dikhususkan
untuk wanita. Kini sudah berada hotel dengan lantai tertentu di
khususkan bagi wanita. Coba=coba laki-laki memasuki lantai tersebut
akan diusir. Juga pelayanan salon kecantikan, pendidikan dan pelayanan
kesehatan kini tengah diupayakan bagaimana memanjakan wanita. sekali
lagi, pesantren sudah memberlakukan bagaimana menspesialkan posisi
wanita dengan habitatnya.

Salut Buat Buntet Pesantren Cirebon,
semoga pendidikan yang dikenal oleh kalangan tertentu sebagai
tradisional dan ortodoks, nyatanya trend modern kini mulai gandrung
untuk meniru sistem seperti ini.

Selamat Hari Kartini....

Penulis alumni MANU Buntet