Suka Duka Santri Jadi Kepala Desa

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Suka Duka Santri Jadi Kepala Desa

Sabtu, 22 Maret 2008


 



avatarku.jpg Oleh: H. Castono Madsaid, S.Ag.



 





Menjadi kepala Desa bukanlah cita-cita saya. Tetapi entah bagaimana
nasib ini menyertai saya. Selama enam bulan menjadi kepala Desa apalagi
dengan background Santri dari Buntet Pesantren tentu pengalaman
manajemen leadership tidak ada. Apalagi saya bersama isteri bukan
berasal dari desa yang saya pimpin. Tetapi dengan modal “nekat” dan
langsung praktek semua kendala itu bisa diatasi.



 





Ada beberapa hal yang menarik seorang santri menjadi kepala Desa.
Misalnya, respon masyarakat kepada kepala desanya. Bagaimana tidak
tertarik, saya dalam keseharian pendidikan dan pengalaman di Jakarta
bersama Pak H. Dhabas sebagai “guru praktek” baik di masjid maupun saat
berkecimpung di sebuah yayasan di Ciputat dan juga bersama komunitas
para ustadz di Masjid Istiqomah Tanah Kusir. Bersama mereka, tidak jauh
aktivitasnya seputar bidang pendidikan agama. Sehari-harinya tidak
lepas dari Masjid, Musholla, TPA dan urusan masayarakat.



 










Nah, ternyata melalui modal pengalaman bersama teman-teman di
Jakarta inilah saya dapat menimba ilmu komunikasi, ilmu mikul duwur
mendem jero (meminjam istilah KH. Mustofa Bisri dalam tulisan ini)
bersama warga. Tidak jauh pula saya berkecimpung dengan warga di
Masjid, muhsholla, majlis ta’lim dan perkumpulan desa lainnya. Biasanya
kalau mengajar di TPA atau majlis ta’lim modalnya adalah senyum dan
tidak pelit menyapa. Itulah modal yang saya gunakan di desa saya.



 





Alhamdulillah, respon masyarakat kepada saya agak lain. Biasanya
kepala desa itu adalah seorang “jagoan”, sering “nyawer” atau suka
kepada hal-hal yang sifatnya hura-hura. Namun karena saya tidak
memiilki pengalaman dengan itu semua, maka respon wargapun juga sedikit
aneh.Misalnya, kenapa kok kepala desa suka bisa berkhutbah dengan tidak
kalah fasihnya dibandingkan para ustadz setempat. Kenapa pula akrab
dengan warga yang biasa-biasa saja; terus ada kesan dari warga juga,
kenapa saya bisa bergaul dengan semua kalangan baik agamawan maupun
“bromocorah”. Bahkan dengan menjadi kepala desa, para khatib, ustadz
dan guru-guru agama lainnya bisa lebih lebih akrab dan bisa saling
tukar pengalaman dengan asyiknya.



 





Di sinilah yang saya ambil hikmahnya adalah modal yang selama ini
saya bangun di pesantren. Betapa Buntet Pesantren telah mengajarkan
kepada saya bagaimana menjadi orang yang biasa-biasa saja, tidak
kagetan kepada sesuatuyang aneh atau yang wah. Juga Buntet terasa
sekali mengajarkan kepada saya untuk tidak bersikap “ojo dumeh”.
Meskipun kyai kyai saya tidak secara langsung namun bimbingan di
pesantren itulah yang saya rasakan.



 





Di desa ini alhamdulillah, saya bisa memberikan sesuatu yang
bermanfaat kepada warga. Misalnya selama ini kantor desa belum
terbangun secara permanen maka saya memeberanikan diri untuk
membangungnya. Alhamdulillah selama 96 hari bangunan yang menelan biaya
swadaya sebanyak Rp. 193 juta terkumpul segera dari kolega bisnis dan
warga sekitar.



 





Belum lama ini saya pun membangung desa dengan memulai sarana
transportasi berupa jalan lingkungan desa. Semuanya menggunakan aspal
kualitas tinggi yang berasal dari eks aspal hotmik tol
Jakarta-Cikampek. Sepanjang kira-kira 9 kilometer dibangun selama 30
har. Semua ini atas partisipasi warga, dan modal kenalan saya dengan
direktur pembangun jalan tol Jakarta-Cikampek. Ternyata modal kenalan
ini dapat bermanfaat bagi warga desa saya.



 





Sekarang ini alhamdulillah pula, sarana keagamaan bisa diperbaiki.
Misalnya majlis ta’lim As Salam, masjid Nurul Huda, dan sekarang ini
mulai tengah merancang untuk membangun masjid besar di lingkungan desa.
Insya Allah bulan April sudah dimulai.



 





Modal saya dalam mengkomunikasikan dengan para tokoh agama tidak
jauh dari cara mengajar ala privat atau mengajar di majlis ta’lim.
Dengan mendatangi warga di tiap-tiap RT kemudian mengajak bermusyawarah
dan berani merogoh kantong sendiri sebagai pancingan memulai
pembangungn. Alhamdulillah cara ini ternyata efektif. Masjid dan sarana
keagamaan lain itu ternyata berdiri dengan segera.



 





Dari mulai Agustus 2007 hingga sekarang selama menjadi kepala desa
telah terkumpul dana pembangunan sarana keagamaan, sarana umum sebanyak
Rp. 265 juta cash. Modal sebanyak inilah saya bisa membangun desa dan
sarana keagamaan dan sarana umum lainnya. Namun dibalik itu,
modal-modal penitng seperti senyum, gaya bergaul dan bebicara ala
santrilah yang sebenarnya menyemangati saya untuk bebas berkreasi di
desa ini.



 





Akhinrya, dengan segala kerendahan hati, ungkapan syukur dalam
tulisan ini tidaklah untuk menonjolkan diri atau sekedar mencari
popularitas. Jauh sekali dari itu semua. Saya menulis ini sebagai
ungkpan terima kasih kepada para kyai dan teman -teman yang telah
mempengaruhi saya dalam berkiprah di masyarkat.



 





Dan juga saya ingin membuktikan bahwa menjadi santri dan menjadi
warga pesantren bukanlah sebagai strata masyarkat rendah atau hina.
Saya dengan tulisan ini bermaksud ingin membuktikan bahwa menjadi
santri adalah pendidikan yang sangat bermanfaat. Karenanya, kepada
kawan-kawan yang belum beruntung atau masih berjuang teruskanlah
berjuang dan berada dalam jalur ke santrian. Semua itu Allahlah yang
akan membalas dan melindungi kita.



 





Kepada para kyai dan handai taulan, dengan segala kerendahan hati
mohon bimibngan dan doanya. Semoga saya dengan “ruh” Buntet Pesantren
bisa tetap istiqomah untuk berdakwah dengan berbagai cara.



 



 



* Penulis adalah Santri Buntet Pesantren tahun 1989-1992 di Pesantren kang Ali Maufur