Rugyaa Atawa Jampi-Jampi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Rugyaa Atawa Jampi-Jampi

Jumat, 28 Maret 2008


Oleh: A. Mustofa Bisri

Dalam keadaan lelah dan lapar, rombongan sahabat Nabi Muhammad SAW
singgah di suatu desa. Tak ada satu penduduk pun yang sudi menjamu
mereka. Kebetulan ketika rombongan beranjak pergi meninggalkan desa
yang bakhil itu, terjadi peristiwa: kepala desanya disengat
kalajengking berbahaya.  Segala upaya sudah dilakukan. Segala ramuan yang
biasa mereka gunakan mengobati sengatan binatang berbisa tidak mampu
menyembuhkannya.




Lalu, ada seorang yang usul agar mencari rombongan yang barusan saja
lewat desa mereka. Siapa tahu di antara mereka ada yang bisa mengobati.
Usul tersebut diterima dan dikirimlah utusan menemui rombongan. Singkat
cerita, utusan bertemu rombongan dan menceritakan apa yang menimpa
kepala desa mereka.

“Apakah di antara kalian ada yang bisa melakukan ruqyah, jampi, untuk
mengobati kepala desa kami?” tanya mereka. Seorang diantara rombongan
pun langsung menjawab: “Aku bisa menjampi.” Tapi, aku tidak akan
menjampi dan mengobati kepala desa kalian, kecuali kalian memberi kami
kambing.”Akhirnya, disepakati mereka akan memberi beberapa ekor kambing
sebagai imbalan.

Demikianlah, sahabat yang mengaku bisa menjampi tersebut dibawa ke
tempat kepala desa yang berbaring tidak berdaya. Sahabat itu membaca
surah Fatihah dan meniup-semburi bagian tubuh si kepala desa yang
tersengat. Ajaib, ternyata sembuh seketika. Orang-orang desa gembira,
karena kepala desa mereka sembuh. Rombongan juga gembira, karena
mendapat kambing.

Setelah rombongan sampai Madinah dan melapor kepada Rasulullah SAW, apa
komentar beliau? Beliau bersabda kepada sahabat yang menjampi si kepala
desa, “Dari mana kamu tahu bahwa Fatihah bisa untuk jampi?” Dari Hadits
sahih di atas, sementara ulama menyimpulkan bahwa ruqyah atau jampi dan
meminta upah untuk itu diperkenankan oleh agama. Meskipun, ada juga
yang tetap tidak memperkenankan pengobatan menggunakan ruqyah. Sebagian
yang lain, berpendapat bahwa ruqyah boleh untuk mengobati sakit akibat
sengatan dan semisalnya dan tidak boleh untuk yang lain.

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengenai hubungan bacaan ruqyah dengan penyakit. Bagaimana bacaan dan
tiupan bisa menyembuhkan luka? Saya teringat cerita saudara saya.
Saudara saya yang insinyur ini pernah menegur setengah memarahi penjual
rokok tetangganya yang suka menaruh botol air di depan para kyai yang
sedang melakukan istighotsah, kemudian air dibawa pulang untuk obat.
“Apa hubungannya?” katanya kepada tetangganya itu.
“Apa doa-doa itu bisa meresap masuk ke dalam air botol sampeyan ?”

Sampai suatu ketika, saudara saya itu menemukan dan membaca bukunya Dr.
Masaru Emoto tentang keajaiban air. “Ternyata,” kata saudara saya,
“menurut penelitian Dr. Masaru, air bisa menerima pengaruh ucapan,
bacaan maupun tulisan. Sekarang, galon tempat air minum kami di rumah
kami tempeli Asmaul Husna.”

Syahdan, Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti dalam Hadits Abdullah Ibn
Mas’ud, pernah saat sujud, jarinya disengat kalajengking. Setelah
salat, beliau meminta air dan garam, lalu memasukkan jari yang
tersengat tersebut ke dalamnya dan membaca “Qul Huwallaahu Ahad” dan
“Mu’awwidzatain” (“Qul ‘auudzu biRabbil falaq” dan “Qul ‘audzu
biRabbinnaas”)

Di dalam Hadits Ibn Mas’ud ini, ruqyah, jampi, atau suwuk tampak hanya
sebagai ‘pelengkap’. Atau katakanlah, pengobatan gabungan. Gabungan
antara pengobatan medis dan doa. Boleh jadi, inilah yang paling membuat
pasien mantap dan pada gilirannya membantu mempercepat penyembuhan.

Berkenaan dengan itu, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Utsman bin
Abil ‘Ash yang pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya sejak masuk
Islam kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW memberi saran,

“Letakkan tanganmu di atas bagian yang sakit pada tubuhmu dan bacalah
Bismillah tiga kali dan baca tujuh kali, A’uudzu bi’izzatiLlahi
waqudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir.”

Demikianlah, pengobatan, baik secara medis maupun jampi, hanyalah
sekedar upaya dan ikhtiar. Pada akhirnya dan hakikatnya Allah
sendirilah yang menyembuhkan. Maka, sebagaimana upaya dan ikhtiar untuk
yang lain, kita tidak boleh lupa memohon pertolongan-Nya. (Minal Gusmusnet)