Matikan Saja TV Anda

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Matikan Saja TV Anda

Rabu, 26 Maret 2008


Kedengarannya ekstrem. Tapi ini salah satu saran seorang dokter
spesialis anak asal Amerika kepada para orang tua agar perkembangan
otak dan kemampuan anak berkembang dengan baik.



Kalau anak-anak dibiarkan bebas sebebas-bebasnya menonton TV, video, dan
main game di komputer, apa yang terjadi terhadap pertumbuhan dan kemampuan belajar mereka?






Itulah pertanyaan yang mengusik benak Susan R. Johnson, M.D., dokter
spesialis anak asal San Francisco dan pernah mendalami ilmu kesehatan
anak yang berkaitan dengan perilaku dan perkembangan.


"Ratusan anak mengalami kesulitan berkonsentrasi pada
pekerjaan, dan melakukan gerakan motorik kasar maupun halus. Kebanyakan
mereka memenemui kesulitan dalam berhubungan dengan orang dewasa dan
kelompok seusianya," paparnya.


Semula ia menduga, itu melulu akibat tayangan di televisi yang
sering menampilkan kekerasan (terutama film kartun) dan semua iklan
yang ditujukan pada mereka. Tetapi, baru semenjak kelahiran anaknya
enam tahun lalu, ia berhadapan dengan dampak yang sesungguhnya.


Saat bermain di luar, jelas Susan, anaknya bisa asyik
mengamati binatang kecil atau serangga, bikin mainan dari ranting dan
batu, atau main air dan pasir. Ia tampak begitu damai dengan dirinya,
tubuhnya, dan lingkungannya. Tetapi begitu di depan TV, ia begitu cuek
dengan si ibu maupun lingkungannya.


"Waktu saya matikan TV-nya, ia gelisah, senewen, dan selalu
berteriak minta dinyalakan lagi. Tingkah polahnya kacau dan
gerakan-gerakannya impulsif. Boro-boro bikin kreasi sendiri, ia justru
meniru saja apa yang dilihatnya di TV dengan gerakan yang tidak
kreatif, kaku, dan diulang-ulang."


Saat berusia 3,5 tahun, dia ajak anaknya mengunjungi sepupunya
naik pesawat. Di pesawat diputar film Mission: Impossible. Kebetulan
mereka tidak kebagian earphone sehingga yang tertangkap hanya
gambarnya. Tapi justru karena itulah, "Ia mendapat mimpi buruk dan
takut pada api atau bunyi ledakan selama enam bulan setelahnya, dan
perilakunya berubah."


Setahun kemudian ia meneliti enam orang anak berusia 8 - 11
tahun yang semuanya memiliki kesulitan membaca di Pusat Kesehatan
Sekolah. Menurut Susan, "Kalau saya tunjukkan sejumlah huruf lalu saya
minta mengenali huruf tertentu, mereka dapat melakukannya. Tapi kalau
saya tidak menunjukkan apa-apa - berarti tanpa masukan visual - lalu
saya suruh menuliskan huruf tertentu, mereka tidak bisa."



Timbul pertanyaan:


* Apa yang terjadi pada anak yang sedang tumbuh dan berkembang
jika mereka dipapari rangsangan audio dan visual pada saat bersamaan?
* Berapa banyak kemampuan otak yang hilang atau bahkan tidak berkembang
akibat kebiasaan itu?



Tiga tahap perkembangan otak



Kemampuan anak ibarat benih yang perlu dipelihara dan dipupuk agar
tumbuh dengan baik. Kalau lingkungan tidak memberikan pemeliharaan dan
perlindungan terhadap rangsangan yang berlebihan, maka potensi serta
kemampuan-kemampuan tertentu tidak dapat terwujud.


Anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di
otaknya. Tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode di mana
miliaran sel glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf
ini dapat membentuk ribuan sambungan antar neuron yang disebut dendrite
yang mirip sarang laba-laba, dan axon yang berbentuk memanjang.


Otak anak usia 6 - 7 tahun besarnya dua pertiga otak orang
dewasa, tapi memiliki 5 - 7 kali lebih banyak sambungan antar neuron
daripada otak anak usia 18 bulan atau orang dewasa. Otak mereka memang
punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan sambungan antar neuron.
Namun, kemampuan itu berhenti pada umur 10 - 11 tahun jika tidak
dikembangkan atau digunakan. Saat itu enzim tertentu dilepaskan dalam
otak dan melarutkan semua jalur atau "urat" syaraf (pathways) yang
tidak termielinasi dengan baik
(mielinasi adalah proses pembungkusan jalur syaraf dengan myelin yang
berujud protein-lemak).


Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga
tahapan, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling
brain), dan akhirnya ke neocortex (atau disebut juga thought brain,
otak pikir).


Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi
sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan
hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau
fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera. Saat
menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik,
otak primitif
menyiapkan reaksi "hadapi atau lari" (fight or flight response) bagi
tubuh. "Kita akan bereaksi secara fisik dan emosi lebih dulu sebelum
otak pikir sempat memproses informasi," papar dr. Susan.


Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka,
cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak
primitif. Maksudnya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak
otak pikir, di saat lain otak pikir dapat "dikunci" untuk tidak
melayani otak limbic dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata
maupun yang tidak.


Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir
tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari
otak primitive dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak
untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak
limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman,
ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan
tindakan.


Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari
otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin
sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin,
makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang "urat"
syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan
dari
lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.


Di samping itu, anak juga membutuhkan pengalaman yang
merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari
rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat sepon.


"Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium,
dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka
untuk memilah atau menyaring pengalaman, rasa yang tidak menyenangkan
dan berbahaya belum berkembang," papar Susan.


Rangsangan dan perkembangan indera itu pada gilirannya akan
mengembangkan bagian tertentu dari otak primitif yang disebut reticular
activating system (RAS). RAS ini pintu masuk di mana kesan yang
ditangkap setiap indera saling berkoordinasi sebelum diteruskan ke otak
pikir.



RAS merupakan wilayah di otak yang membuat kita mampu memusatkan
perhatian. Kurangnya stimulasi, atau sebaliknya stimulasi yang
berlebihan, ditambah lagi dengan gerakan motorik kasar dan halus yang
tidak berkembang secara baik, bisa menyebabkan rusaknya perhatian
terhadap lingkungan.


Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak
limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6 - 7 tahun mielinasi
bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara
lain bertugas merespons citra visual. Ketika menonton TV, belahan otak
kanan inilah yang paling dominan kerjanya.


Sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara, belahan otak
kiri yang dominan. Tugas utama otak kiri ialah berpikir secara analitis
dan menyusun argumen logis langkah demi langkah. Ia menganalisis suara
dan makna bahasa (misalnya, kemampuan mencocokkan suara dengan
alfabet), juga mengelola keterampilan otot halus.



Pentingnya aktivitas motorik kasar



* Kedua belahan otak itu dijembatani oleh bundel "urat" syaraf yang
disebut corpus collosum. Sisi kanan dan kiri tubuh saling berkoordinasi
melalui jembatan ini.



Aktivitas motorik kasar seperti lompat tali, memanjat, lari, serta
aktivitas motorik halus macam menggambar, merenda, membuat origami, dan
bikin kue merupakan akitivitas penting bagi proses mielinasi
C.collosum. Jalur ini memungkinkan kemampuan berpikir analitis (otak
kiri) dan intuitif (otak kanan) untuk saling mempengaruhi. Sejumlah
ahli
neuropsikologi percaya, buruknya perkembangan jembatan ini mempengaruhi
komunikasi efektif antara belahan otak kanan dan kiri. Diduga, inilah
penyebab timbulnya kesulitan perhatian dan belajar pada anak.



Pertanyaannya kemudian, apa kerugian otak dengan menonton televisi?


Televisi sesungguhnya hanya memberikan informasi kepada dua
indera: mata dan telinga. Padahal ketajaman visual dan pandangan tiga
dimensional
pada anak belum berkembang sepenuhnya sampai usia empat tahun. Gambar
yang dihasilkan layar televisi itu gambar dua dimensi, tidak fokus dan
kabur karena tersusun dari titik-titik sinar. Itu membuat mata
anak-anak harus memaksa diri agar gambar menjadi jelas.


Televisi, juga barang elektronik lain, memancarkan gelombang
elektromagnetik. Maka disarankan, posisi menonton setidaknya 120 cm
dari TV dan 45 cm dari layar komputer.


Sistem visual yang meliputi kemampuan mencari (search out),
memindai (scan), memfokus, dan mengidentifikasi apa yang masuk ke
bidang pandang, terganggu oleh kegiatan menonton TV. Padahal
keterampilan visual ini perlu dikembangkan dalam kaitannya dengan
membaca efektif. Saat menonton, pupil mata anak tidak melebar, dan
nyaris tidak ada gerakan mata yang justru penting dalam kegiatan
membaca. Mata dituntut terus bergerak dari kiri ke kanan halaman saat
membaca.


Kemampuan untuk memusatkan perhatian juga mengandalkan sistem
visual ini. Sementara itu gambar-gambar televisi yang berubah secara
cepat tiap 5 - 6 detik pada kebanyakan tayangan acara dan 2 - 3 detik
pada iklan, membuat otak pikir tidak punya kesempatan memproses image.
Padahal otak pikir perlu 5 - 6 detik untuk memproses gambar begitu
mendapat stimulus.



Sebabkan kecemasan kronis


* Membaca buku, berjalan-jalan di alam, atau bercakap dengan
orang lain - di mana anak punya kesempatan untuk merenung dan berpikir
– jauh lebih mendidik daripada menonton TV.



Kegiatan ini meniadakan pengalaman berharga itu. Menonton TV merupakan
pekerjaan tanpa akhir, tanpa tujuan, dan tak bikin "kenyang". Tidak
seperti makan dan tidur yang bisa bikin perut kenyang dan badan tidak
capek lagi, menonton TV tidak ada ujungnya. "TV membuat anak ingin
terus menonton tanpa pernah merasa puas," ungkap Susan.



Bagaimana dengan Sesame Steet, misalnya? Bukankah acara itu mendidik dan di sana anak diajari cara membaca?


Sesame Street dan kebanyakan acara televisi untuk anak, papar
Susan, meletakkan belahan otak kiri dan sebagian belahan otak kanan ke
dalam gelombang alfa (slow wave of inactivity). Televisi membius
fungsi-fungsi otak pikir dan merusak keseimbangan serta interaksi
antara belahan otak kiri dan kanan.


Secara umum, membaca menghasilkan gelombang beta cepat dan
aktif, sedangkan menonton televisi meningkatkan gelombang alfa lambat
di belahan otak kiri dan kanan. Belahan kiri merupakan pusat penting
dalam kegiatan membaca, menulis, dan berbicara. Otak kiri merupakan
tempat di mana simbol-simbol abstrak (misalnya huruf-huruf alfabet)
dikaitkan dengan bunyi. Sumber cahaya televisi yang berpendar dan
bergetar diduga ada kaitannya dengan meningkatnya aktivitas gelombang
lambat itu.


Otak primitif tidak dapat membedakan mana gambar riil dan mana
gambar di TV karena penglihatan merupakan tanggung jawab otak pikir.
Karena itu, ketika TV menayangkan gambar-gambar close-up dan
gambar-gambar bercahaya secara tiba-tiba, otak primitif bersama otak
limbik segera menyiapkan respons "hadapi atau lari" dengan melepaskan
hormon dan bahan kimia ke seluruh tubuh. Degup jantung dan tekanan
darah naik. Darah yang mengalir ke otot-otot anggota badan meningkat,
bersiap-siap menghadapi keadaan
bahaya.


Karena itu terjadi dalam tubuh tanpa diikuti gerakan-gerakan
yang sesuai dari anggota badan, maka acara-acara TV tertentu
sesungguhnya meletakkan kita ke dalam suatu keadaan stres atau
kecemasan kronis. Berbagai studi menunjukkan, pada orang dewasa yang
mengalami stres kronis pertumbuhan belahan otak kirinya terhenti
(atrophy).


Ketika otak anak dipapari rangsangan visual sekaligus suara,
yang diserap hanyalah visualnya. Ilustrasi tentang fenomena ini dapat
dilihat pada sekelompok anak (6 - 7 tahun) yang disuguhi tontonan video
yang suaranya tidak sesuai dengan gerakan visualnya. Begitu ditanya,
mereka tidak ngeh kalau suara dan gambarnya tidak klop. Itu artinya,
mereka tidak menyerap isi tontonannya. Begitu pula dengan Sesame
Street.



Inteligen hati


Namun, masih ada yang berkilah, "Apa salah memanfaatkan
televisi sekadar untuk hiburan? Saya suka menonton film-film Disney
macam Snow White."


Televisi memiliki efek begitu dalam terhadap kehidupan
perasaan atau jiwa kita. Menonton televisi membuat kita terlepas dari
kehidupan nyata. Di kursi yang nyaman di ruang yang sejuk dengan banyak
makanan, kita duduk menonton para tunawisma, orang kelaparan atau
menderita di layer kaca. Kita tersentuh melihat nasib mereka, tetapi
tidak berbuat apa-apa. Orang boleh bilang, membaca buku pun dapat
membangkitkan perasaan serupa tanpa berbuat apa-apa.


Namun, menurut dr. Susan, saat sedang membaca buku (yang tidak
banyak gambarnya), pikiran bisa berimajinasi dan punya kesempatan
memikirkannya. Pikiran itu dapat menggiring anak kepada gagasan yang
menimbulkan inspirasi untuk melakukan sesuatu. Televisi tidak begitu."


"Kita tidak akan lupa dengan apa yang pernah kita lihat. Otak
limbic dihubungkan dengan memori, dan gambar di TV kita ingat entah
secara sadar, tanpa sadar, atau bawah sadar. Maka, kita hampir tidak
mungkin menciptakan imajinasi tentang Snow White dari buku cerita jika
kita sudah pernah menonton filmnya. Sebaliknya, orang sering kecewa
ketika menonton film setelah membaca bukunya. Imajinasi kita itu jauh
lebih kaya daripada apa yang dapat ditunjukkan di layar film," papar
dr. Susan.


Ketika menonton televisi, anak-anak tidak menggunakan
imajinasi sama sekali. Itu berarti bagian tertentu di otak pikir untuk
menciptakan gambaran (yang merupakan fondasi bagi angan-angan, intuisi,
inspirasi, dan imajinasi), kurang dilatih.


Kita dibekali kemampuan yang disebut heart intelligence yang
perlu dikembangkan antara lain dengan berinteraksi dengan orang lain.
"Kita mengalami bahasa nonverbal mereka, misalnya bagaimana ia
bergerak, bagaimana nada suaranya, apakah ia menatap ke arah lain saat
bicara. Inilah cara kita belajar melihat konsistensi antara isyarat
verbal dan nonverbal untuk menemukan kebenaran," jelas dr. Susan.



Televisi tidak bisa mengembangkan kemampuan itu. (intisari)



Milis Feui82


Dikirim oleh: Endah S. Afiff


Jum'at, 20 Februari 2004