Bercak-bercak Sufi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Bercak-bercak Sufi

Selasa, 12 Juni 2007

Oleh Ahmad Fardan

Lama sudah saya mengamati dan merenungkan pikiran-pikiran kaum sufi. Ternyata ajaran yang diketengahkan sangat membahayakan kaum muslimin. Ajaran tasawuflah yang telah merubah kondisi mereka yang penuh kemuliaan menjadi hina dina. Perilaku kaum sufi dari masa ke masa senantiasa menghancurkan sendi-sendi dasar ajaran islam. Sehingga ibarat pohon kini telah roboh lumat. Karena itu bagi kaum muslimin tidak akan dapat meraih kembali kejayaan manakala sejak dini tidak berani mengatasi bahaya yang ditimbulkan kaum sufi sebelum menangkis bahaya-bahaya lainnya.




Dengan memuji Allah. Saya akan mencoba mengetengahkan pembahasan seputar pemikiran kaum sufi dalam sebuah tulisan pendek pertimbangan saya apabila ditampilkan dalam sebuah tulisan panjang akan terlalu lama mendalaminya. Sehingga untuk menangkal bahaya ajaran kaum sufi pun tertunda. Padahal kebutuhan sudah sangat mendesak. Tulisan –tulisan saya ini saya harapkan dapat membangkitkan dan memotivasi ummat Islam untuk bangkit menangkal bahaya yang lembut lagi rahasia, berada di balik topeng kedok ibadah. Berperilaku dan beribadah sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan ummat islam.



Memalingkan Manusia dari Al-Qur’an dan Hadits.


Kaum sufi sejak dahulu hingga kini sengaja memalingkan manusia dari ajaran Al-Qur’an dan Hadits.dengan cara bermacam-macam.




Pertama, asumsi bahwa mengkaji kandungan Al-Qur’an secara detail hanya akan menyianyiakan waktu, melalaikan dari berdzikir kepada Allah. Menyatu dalam kefanaan terhadap Allah bagi mereka merupakan tingkat kesufian yang paling tinggi. Sedangkan arti memikirkan kandungan Al-Qur’an adalah berdzikir kepada-Nya. Sebab Al-qur’an banyak mengetengahkan pujian terhadap Allah dengan sifat dan asma-Nya.




Tetapi orang-orang tasawuf menghendaki dirinya dapat mengambil alih kekuasaan Tuhan, yakni dengan memiliki sifat-sifat-Nya. Karena itu mereka tidak mau lagi, setidaknya ogah memikirkan kandungan Al-Qur’an secara rinci dan detail. Diantara mereka adalah Asy-Sya’rani, didalam kitabnya yang berjudul Al-Kibriyatul-Ahmar mengatakan :…..bersambung