Peran Buntet Pesantren dalam Pendirian Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh - Buntet Pesantren Peran Buntet Pesantren dalam Pendirian Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, July 9, 2018

    Peran Buntet Pesantren dalam Pendirian Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh

    Logo JQH NU (sumber: NU Online)

    Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) akan menggelar kongres kelima di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3 Karawang, Jawa Barat, pada 11-15 Juli 2018 mendatang. Organisasi yang diinisiasi oleh KH Abdul Wahid Hasyim, menteri agama saat itu, ini sudah berusia 67 tahun sejak pendiriannya pada Jumat, 15 Januari 1951 atau bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1371 saat peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di kediaman KH Asmuni, Sawah Besar, Jakarta.

    Pendirian organisasi ini tidak lepas dari peran serta Pondok Buntet Pesantren. Pasalnya, beberapa pengurus awalnya merupakan warga dan jebolan salah satu pondok tertua di Jawa Barat itu.

    Setahun sebelum diresmikan oleh Kiai Wahid pada tanggal tersebut di atas, para kiai ahli qurro dan hafizh mewakili organisasi yang dibentuknya masing-masing bertemu di kediaman menteri agama itu di Jalan Jawa, Jakarta, pada malam nuzulul qur’an 1370 H. Pertemuan tersebut, sebagaimana yang tercatat dalam tulisan KH Ayatullah Shaleh dalam buku Susunan Acara MTQ Nasional VII, MTQ Internasional I Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama, memutuskan kepengurusan sementara yang dipimpin oleh KH Abu Bakar Aceh, KH Nazaruddin Latif sebagai wakilnya, KH Tb Mansur Ma’mun sebagai sekretaris, dan KH Asmuni sebagai urusan keuangan.

    Selepas diresmikan oleh KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abu Bakar Aceh dipercaya sebagai ketua umum JQH untuk masa kepengurusan 1951-1953. Sementara itu, Ketua I dan II dijabat oleh KH Darwis Amini dan KH Nazaruddin Latif. Sekretaris I dan II diemban oleh Muhammad Nur dan KH Tb Mansur Ma’mun. Bendaharanya diamanahkan kepada H Asmuni dan H Abd. Rahim Martam.

    Selain pengurus harian, pengurus JQH yang saat itu belum bergabung dengan NU itu juga diisi oleh 10 anggota, yakni KH M Kasim Bakri, KH M Roji’un, KH A Nahrawi, Zainal Arifin Datuk, KH R A Jawahir Dahlan, Abdullah Lidi, Sayyid ‘Ubaidillah Assirry, Sayyid Hasan Alaidrus, KH Muhammad Saleh, dan KH Muhammad Djunaidi.

    Pada periode kepengurusan berikutnya (1953-1956), kepemimpinan JQH dimandatkan kepada KH Tb Shaleh Ma’mun sebagai ketua umum, KH Tb Mansur Ma’mun sebagai sekretaris jenderal, dan KH Ayatullah Shaleh sebagai sekretaris II.

    Warga dan Alumni Buntet dalam JQH

    KH Tb Mansur Ma’mun, KH Tb Shaleh Ma’mun, dan KH Ayatullah Shaleh merupakan alumni Pondok Buntet Pesantren. Sementara itu, KH R Jawahir Dahlan merupakan putra asli Buntet Pesantren.

    Pondok Buntet Pesantren saat dipimpin oleh KH Abbas Abdul Jamil pernah melakukan pertukaran santri dengan salah satu pondok pesantren di Banten di bawah asuhan KH Tb Ma’mun. Buntet Pesantren mengirimkan empat delegasinya ke Banten untuk mengaji kepada Tubagus Ma’mun, yakni KH R A Jawahir Dahlan, KH Muhammad Hasyim Manshur (ayah KH Fuad Hasyim), K Abdurrauf, dan K Amari. Sementara Banten mengirimkan delegasinya untuk mengaji kepada Kiai Abbas. Di antaranya, Tb Mansur dan Tb Shaleh, keduanya merupakan putra Tb Ma’mun.

    Sementara itu, perwakilan Buntet mengaji ke Tubagus Ma’mun untuk memperdalam tilawatil qur’an. Hal tersebut mengingat Tubagus Ma’mun adalah salah seorang yang suaranya begitu indah. Bahkan, saking indahnya, ia haram menjadi imam shalat. Pasalnya, suaranya akan membuat ma’mumnya terbuai.

    “Beliau cuma satu kali mimpin salat. Setelah itu diharamkan sama raja karena saking indahnya suara beliau, jemaah itu jadi hilang konsentrasi,” kata Tubagus Soleh Mahdi, cicit Tubagus Ma’mun, sebagaimana dilansir Radar Banten pada Jumat (25/5/2018).

    Di samping itu, para utusan dari Banten ke Buntet Pesantren memperdalam ilmu tajwid dengan takhassus mengaji kitab kitab Hirzul Amani wa Wajhut Tahani (Matn Asy-Syatibiyyah) kepada Kiai Abbas. Hal ini penulis dengar dari H Imaduddin Zaini, salah satu murid sekaligus keponakan KH Jawahir Dahlan.

    Sayangnya, penulis belum menemukan dokumen atau cerita tahun pastinya pertukaran santri itu terjadi.

    Adapun KH Ayatullah Shaleh penulis temukan namanya dalam buku Perlawanan dari Tanah Pengasingan karya Zaini Hasan. Ia tercatat sebagai salah satu penasehat Ikatan Keluarga Alumni Buntet Pesantren yang diresmikan pada 27 Mei 1967 bersama KH Wahib Wahab dan KH Tb Mansur Ma’mun.

    (Syakir NF)

    Next
    This is the most recent post.
    Older Post
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Peran Buntet Pesantren dalam Pendirian Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Rating: 5 Reviewed By: Tim Redaksi Web Buntet Pesantren
    Scroll to Top