Kupat dan "Mentradisikan" Nilai Tingkah Laku yang Empat - Buntet Pesantren Kupat dan "Mentradisikan" Nilai Tingkah Laku yang Empat - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, June 22, 2018

    Kupat dan "Mentradisikan" Nilai Tingkah Laku yang Empat

    Sumber: NU Online


    Subchi A. Fikri*

    الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

    "Adat (kebiasaan yang berlaku di masyarakat) itu bisa dijadikan sandaran hukum”. Begitulah bunyi salah satu kaidah fiqih, asalkan kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan dalil/nash Al-Qur'an dan Hadits. Berdasarkan kaidah tersebut, maka kosakata dan tuduhan bid'ah terhadap tradisi-tradisi di masyarakat yang bernilai religius seharusnya tak pantas muncul.

    Layaknya ketupat atau kupat di Tanah Jawa yang tidak lepas dari perayaan Idul Fitri. Dalam perayaan Idul Fitri, tentunya satu hal yang hampir tidak pernah dilewatkan dalam sajian hidangan adalah ketupat. Lalu, apakah ketupat ini hanya sekedar pelengkap hari raya saja ataukah ada sesuatu makna di dalamnya?

    Sejarah Ketupat

    Adalah Kanjeng Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut BAKDA KUPAT tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

    Setelah selesai dianyam, kupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.

    Arti Kata Kupat

    Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan, sedangkan laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan lebaran.

    Adapun empat tindakan tersebut adalah: 

    1.      Lebaran, bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

    2.      Luberan, meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

    3.      Leburan, habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

    4.      Laburan, berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

    Selain itu, kupat juga memiliki makna filosofis antara lain:

    1.      Mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

    2.      Kesucian hati. Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

    3.      Mencerminkan kesempurnaan.  Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.

    4.      Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang KUPA SANTEN, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf).

    Betapa besar peran para Wali dalam memperkenalkan agama Islam dengan menumbuhkembangkan tradisi budaya sekitar, seperti tradisi lebaran dan hidangan ketupat yang telah menjadi tradisi dan budaya hingga saat ini.

    Tradisi ketupat (kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat. Asilmilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu mengantarkan kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan Idul Fitri sebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan serta momen untuk saling berbagi dengan sesama.

    Wallahu a'lam bishshowaab

    (Dari berbagai sumber)

    *Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kupat dan "Mentradisikan" Nilai Tingkah Laku yang Empat Rating: 5 Reviewed By: Tim Redaksi Web Buntet Pesantren
    Scroll to Top