Wong Buntet Pesantren Ning Turki - Buntet Pesantren Wong Buntet Pesantren Ning Turki - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, December 21, 2016

    Wong Buntet Pesantren Ning Turki



     
    penulis di makam Syaikh Jalaluddin Rumi


    Pasti rekan-rekan santri Buntet pernah mendengar nama Sultan Mehmet, bukan? Entah itu dari literatur yang rekan-rekan baca atau dari televisi yang pernah menayangkan kisahnya. Nah, di tempat takulukkannya itulah kini saya mengaji.

    Alhamdulillah saya diberi kenikmatan oleh Allah swt., untuk meneruskan pendidikan diniyyah saya ke Negara Turki. Mungkin sebagian santriwan dan santriwati bertanya-tanya, Kenapa belajar kitab salaf ke Turki? Tidak ke Mesir, Yaman , ataupun Makkah Almukarromah?

    İni merupakan nasib yang sudah ditentukan oleh Allah. Menuntut ilmu merupakan hal yang sangat mulia. Kita tak boleh memandang dari segi tempat dan dari siapa kita akan mengambilnya. Seperti yang dikatakan Syaikh Jalaluddin El Rumy, “Nasibin varsa alirsin karincadan ders nasibin yoksa bütün cihan sana ters", jika kamu sudah mempunyai nasib (rizki) dari seekor semutpun kamu bisa mengambil pelajaran. Jika belum rizki, maka walaupun ke ujung dunia kau menuntut ilmu, kamu tak dapat mengambil pelajaran itu.

    Turki merupakan negeri yang sangat berpengaruh dalam pendidikan agama dan syiar Islam pada zaman Osmanli. Saat itu, dunia di bawah naungan Islam selama enam abad. Di bawah komando Sultan Fatih Mehmet, Konstantinopel di Istanbul berhasil digulingkan. Konstantinopel merupakan kerajaan yang sangat sulit diruntuhkan pada zaman Nabi Muhammad saw., pada masanya.

    Nabi Muhammad saw bersabda :
    "Kalian akan membebaskan Konstantinopel, sebaik baiknya panglima yg akan menaklukan konstantinopel adalah sebaik baiknya panglima dan sebaik baiknya pasukan adalah pasukannya" (HR. Ahmad Addarimi Al Hakim)

    Di dekat benteng, ada makam sahabat yang bernama Abu Al-Ayyub Al-Anshari. Beliau sendiri yang meminta dimakamkan dekat benteng sebagai bukti dahsyatnya perang pada masa itu. Selain itu, konon tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kota Istanbul itu juga ingin mendengar langkah kaki panglima perang terhebat yang katanya bakal melewati benteng tersebut. Panglima perang yang dimaksud adalah Sultan Fetih Mehmet seperti yang disebutkan hadis di atas.

    Masih banyak lagi makam nabi dan sahabat seperti Nabi Yuşa As, Nabi Zul Kifli As, Amr Bin Ash, Abu Darda, dan Abuzar Al Gifari. Selain itu, di Turki juga Jalalludin El Rumi dikebumikan.

    Mayoritas masyarakat Turki bermazhab Hanafi. Meski begitu, di sini saya tidak hanya mempelajari ilmu fiqh ala mazhab Hanafi, tapi Syafii juga saya pelajari. Di sini, hampir semua masyarakat menganut paham ahlussunnah wal jamaah i'tiqodi.

    Perjalanan saya menuju Turki tidaklah mudah. Selain harus bersaing dengan ribuan pelajar untuk mendapatkan kuota, kita juga harus punya 30 juz hafalan Alquran melalui Yayasan Sulaimaniyyah.

    Rekan-rekan santri mungkin bertanya-tanya bagaimana keadaannya di sini mengingat banyaknya gejolak di Turki, seperti kudeta dan baru-baru ini penembakan terhadap duta besar Rusia yang sedang berpidato di hadapan publik dalam suatu acara pameran. Sampai saat ini, saya alhamdulillah masih dalam keadaan aman. Daerah saya tinggal cukup jauh dari kota besar seperti Ankara dan Istanbul.
    Penulis di Bursa

    Pergolakan politik yang berujung pada radikalisme tak menyurutkan niat saya berlibur, mencari suasana baru. Mengunjungi makam pastinya sudah biasa bagi para santri. Apalagi santri Buntet yang saban malam Jumat ziarah ke Mbah Muqoyyim. Kali ini, saya cari sesuatu yang berbeda. Nah, berhubung di Indonesia saya belum menemukan salju, maka Desember menjadi waktu yang tepat bagi saya untuk menikmatinya di egeri yang dipimpin Erdogan ini. Kita bisa melancong ke tempat ski seperti Bursa. Kota ini dulu pernah menjadi ibu kota pertama Dinasti Utsmaniyah.

    "Musuh yang paling besar di dunia ini adalah sesuatu yang ada pada di antara dua alis kita, yaitu nafsu. Kita harus bisa mengendalikan nafsu amarah sampai ke nafsu mutainnah. Dengan cara apa? yaitu mempunyai seorang mursyid dan berzikir qalbi (hati).

    "Maa fiddunya rohatun", di dunia tidak ada kata istirahat. Kita harus semangat mengaji. Istirahat besok kalau kita sudah mati.

    Mau tahu lebih jauh tentang Turki? Sila datang kemari.
    Selamat berlibur rekan-rekan santri.

    Muhammad Kamil
    Turki, Desember 2016

    (Syakirnf)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Wong Buntet Pesantren Ning Turki Rating: 5 Reviewed By: Tim Redaksi Web Buntet Pesantren
    Scroll to Top