Menyaksikan Peradaban Mesir - Buntet Pesantren Menyaksikan Peradaban Mesir - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Sunday, December 25, 2016

    Menyaksikan Peradaban Mesir

    Penulis di Alexandria (2014)

    Bismillah, semoga teman-teman semua sehat dan bahagia. Ini adalah kali pertama saya menulis untuk Web Buntet, setelah sekian tahun lamanya saya berada di Mesir. Dulu, saya sering diminta tulisan oleh Kang Mubarok, namun tidak kunjung saya berikan. Juga beberapa kali pernah disindir oleh Kang Syakir di Medsos, pun sama. Akhirnya, dari seri tulisan Wong Buntet Pesantren ning London, ning Jerman, ning Maroko, sampai ning Turki, belum ada yang seri Mesir. Padahal santri Buntet yang ada di sini terhitung belasan. Maka inilah tulisan dari Mesir, semoga teman-teman berkenan.

    Mesir adalah salahsatu negara Arab yang berada di benua Afrika, negara terakhir dari sembilan negara Afrika yang dilewati oleh Sungai Nil, sungai terpanjang di dunia (6853 km) yang memiliki tiga muara; Dimyat, Rashid dan Iskandaria.

    Mesir adalah negara yang memiliki salahsatu dari tujuh keajaiban dunia, yaitu Great Pyramid yang berada di kota Giza, tempat disemayamkannya mayat para raja. Bangunan ini berdiri pada peradaban Mesir kuno, sekitar empat abad yang lalu. Piramida di sini berjumlah ratusan. Namun, dari sekian banyak itu yang terkenal hanya tiga, yakni Khufu, Khafre dan Menkaure. Ketiganya merupakan piramida terbesar.

    Sungai Nil dan Piramida, akan panjang bila terus saya ceritakan. Dua ini saja sudah mewakili kehebatan sejarah Mesir. Tentunya masih banyak yang lain, yang mudah-mudahan dapat saya ceritakan di lain tulisan, hehe. Ada pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir, ada Firaun yang tenggelam di laut merah yang mayatnya sampai sekarang masih ada dan bisa dilihat di museum, ada nabi Yusuf yang dibuang ke sumur kemudian menjadi raja agung, ada Gubernur Amr ibn Ash yang membangun masjid pertama di Kairo pada masa Khalifah Umar RA., ada Qoul Jadid serta makam-nya Imam Syafii dan gurunya, Imam Waki’, Masjid dan Universitas Al-Azhar, sampai invasi Napoleon Bonaparte dan kemenangan Mesir atas Israel.

    Mesir adalah gudangnya sejarah. Bagaimana tidak, Mesir adalah salah satu peradaban paling tua di dunia. Apalagi ditambah sejarah Islam yang berkembang pesat di sini, dari Sunni, Syiah sampai Sunni lagi.

    Ya, Mesir pernah dikuasai oleh pemerintahan Syiah. Bahkan, teman-teman tahu Universitas Al-Azhar? Itu pada mulanya dibangun oleh Syi’ah. Namun, saat ini, universitas tersebut menjadi kiblat keilmuan Islam Sunni.

    Di sini, terdapat banyak sekali makam keramat. Bahkan sampai ribuan adanya. Kedua Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra KH Ade Nasih dan Kepala MANU Putri KH Aris Ni’matullah pun dulu di sini hobinya adalah ziarah makam. Dari Makam Sayyidina Husein cucu Rasulullah SAW., makam Imam Syafii, Imam Suyuthi, Imam Ibn Hajar Al-Asqalani, Imam Al-Bushiri penulis Qoshidah Burdah, sampai makam 5000 sahabat Nabi di kota Bahnasa. Ada lagi makam keramat yang paling jauh, yaitu makam Imam Abu Hasan Asy-Syadzili di Humaitsara, desa terpencil di tengah padang pasir.

    Ada sekitar 4000 mahasiswa/i Indonesia di sini. Di antara ribuan pelajar asal Nusantara itu adalah saya dan belasan santri Buntet lainnya. Kenapa saya sebut belasan, karena saya dari dulu belum tahu pasti, berapa sebenarnya jumlah yang tepat santri Buntet yang sedang melanjutkan studi di sini.

    Pernah suatu saat saya menghitungnya berjumlah lima belas. Tapi, ternyata masih ada lagi. Maklum ini akibat jarang kumpul, karena kami tidak tinggal di satu kota, melainkan di kota yang berbeda-beda; Kairo, Tanta, Mansurah dan Alexandria. Akan tetapi, komunikasi kami tetap berjalan. Selain saya, ada Khumaidi dan Aslan yang sedang menempuh strata dua (S-2).

    Kang Imam Rofii, Kang Badruddin, Kang Wahyu, Mbak Leli, Kang Indra, Kang Arif, dan Kang Afif sedang menempuh studi strata satunya. Baru tiga bulan ini, Kang Sulthan Ali Khan tiba di negeri beribu kota Kairo ini. Dia kini sedang menjalani pendidikan bahasa Arab.

    Ada lagi yang paling senior, Kang Tubagus Manshur. Dia sedang melanjutkan studi strata tiga (S-3) dalam bidang Akuntansi Islam. Di sini, dia bersama istrinya, Mbak Aam yang juga santri Buntet, serta kedua orang putranya.

    Sekian tulisan saya. Kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Insya Allah akan saya lanjutkan lagi di tulisan-tulisan berikutnya. Kami semua memohon doa teman-teman. Akhir bulan ini, kami sedang akan menghadapi UAS. Semoga kami mendapatkan hasil yang memuaskan, dan dapat segera lulus. Al-Fatihah..!

    Hormat saya dari Kairo, Desember 2016
    Moh. Hadi Bakri Raharjo
    Santri Al-Ma’mun dan Alumni MANU Putra
    Mahasiswa Jurusan Dakwah dan Kebudayaan Islam – Universitas Al-Azhar

    (Syakirnf)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menyaksikan Peradaban Mesir Rating: 5 Reviewed By: Tim Redaksi Web Buntet Pesantren
    Scroll to Top