WONG BUNTET PESANTREN NING MAROKO - Buntet Pesantren WONG BUNTET PESANTREN NING MAROKO - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, October 11, 2016

    WONG BUNTET PESANTREN NING MAROKO



    penulis (kanan)


    Mukadimah
    Jalanan masih lengang dan toko-toko belum ada satupun yang buka. Kendaraan umum belum banyak beroperasi. Bahkan kumandang takbir tak lagi menggema. Hanya terdengar ketika malam Idul Adha saja.

    Begitulah Maroko. Mereka, para penduduknya, menghabiskan Idul Adha dan hari-hari tasyriq untuk berkumpul bersama keluarga tanpa melakukan aktivitas apapun di luar rumah. Tentu berbeda sekali dengan suasana Idul Adha di Indonesia, khususnya Buntet pesantren yang sampai hari tasyriq ketiga masih banyak orang berlalu lalang membagikan daging kurban.

    Berbicara tentang Maroko, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ngangsu kaweruh di negara tempat Sayyidi Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad al-Tijani lahir dan istirahat. Saya tinggal di kota Tangier , atau dalam bahasa Arab, Tanjah, dan mondok di Muassasah Imam Nafie. Untuk menyampaikan salam rindu kepada Buntet, saya akan menceritakan sedikit perjalanan tersebut.

    Maroko adalah salah satu negara di ujung Utara Afrika. Negara ini dikelilingi Samudra Atlantik, Laut Mediterania dan Selat Giblatar. Maroko merupakan salah satu negara di Benua Afrika yang mempunyai empat musim. Jadi, di kota-kota tertentu kita dapat menemukan salju turun ketika musim dingin tiba.

    Berbeda dengan tetangga-tetangganya, kebudayaan Maroko sudah bercampur antara kebudayaan Arab, Eropa, dan Berber. Agama resmi dan mayoritas di Maroko adalah Islam dengan mengamalkan mazhab Maliki dan beraqidah Asy’ariyah. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab atau disebut juga Darija. Selain itu, bahasa Berber dan bahasa Prancis juga banyak digunakan. Hal tersebut dikarenakan Maroko merupakan tanah bekas jajahan Prancis.

    Pertama kali tiba di sini, saya sangat senang sekaligus aneh. Senang bisa tiba di negeri orang dengan selamat. Aneh karena saat datang itu musim gugur. Jam tujuh belum Maghrib. Malah baru saja Asar.

    Dinginnya suhu di sini membuat siapapun enggan menyentuh air. Masyarakat di sini jarang mandi. Biasanya seminggu sekali. Ada juga yang menggunakan air panas di rumah. Ada pula yang pergi ke hammam, tempat pemandian air panas umum. Meskipun menggunakan air hangat, sangat tidak dianjurkan mandi sering-sering. Pakaian pun harus berlapis-lapis, kaos manset, sweater, gamis dan jaket atau coat. Celananya khusus yang bagian dalamnya berbulu. Keluar harus menggunakan boots. Di rumah, mereka bisa menggunakan kaos kaki rajut dan sepatu rumahan berbulu.

    Di sini banyak anjing liar. Suatu ketika, Maghrib sudah mendekati akhir. Eh, saya kena jilatan binatang yang dianggap najis oleh Syafiiyah itu. Karena sudah mepet, akhirnya bekas jilatan yang kering itu tak saya cuci, dibiarkan dan langsung melaksanakan wudlu dilanjutkan salat. Anjing tidak najis dalam mazhab Maliki.

    Penulis (kiri)

    Ziarah Sejarah dan Menyantap Kuliner

    Traveling—it leaves you speechless, then turns you into a storyteller

    Ingat quotes tersebut? Ya, Ibnu Batutah pemiliknya. Untuk yang gemar jalan-jalan, Maroko menawarkan keindahan bangunan, gurun, dan benteng yang indah. Bahkan ada kota yang memang dikondisikan sebagai kota pariwisata seperti Fez dan Marrakech. Di Fez, kita dapat merasakan suasana Maroko kuno dan menyambangi pabrik pengrajin kulit, sovenir dan karpet-karpet yang banyak diekspor. Kita juga dapat berkunjung ke Masjid Qurowiyin dan universitasnya yang masuk kategori perguruan tinggi tertua di dunia. Qurowiyin ini dibangun oleh seorang tokoh wanita bernama Fatimah Fihriyah. Di kota inilah Syaikh Tijani beristirahat. Kita dapat menziarahinya dan kita juga dibolehkan melantunkan tahlil.

    Adapun Marrakech menawarkan kemegahan istana-istana peninggalan Raja, melihat bangunan kota yang berwarna merah dan mengunjungi pasar malam jami’ Lfna. Laiknya di Cirebon, selain kita travelling, kita dapat sekaligus berziarah ke makam para wali, seperti Sab’aturrijal di Marakech.

    Tonjah menyajikan Gua Hercules, tempat persembunyian Hercules dari Bizantium. Kota ini menawarkan satu hal yang tidak bakal ditemui di belahan dunia manapun. Tentu kita ingat betul dengan Surat Ar-Rahman ayat 19-20, maraja al-bahrain yaltaqiyan, baynahuma barzaghun laa yabghiyan. Ya, di kota inilah, Multaqol Bahrain, tempat bertemunya dua laut yang berbeda warnanya dan tidak bisa bercampur, itu berada. Seperti dua kota di atas, kita juga bisa berziarah ke Ibnu Batutah, Ibnu Ajibah dan Syaikh Ghomari.

    Lalu bagaimana dengan kuliner? Maroko memang tidak sekaya Indonesia dalam urusan ini. Namun, ada beberapa masakan yang patut dicoba. Pada dasarnya, Maroko merupakan negara yang memegang adat sangat kuat. Pun dalam urusan makanan. Ketika berbuka puasa misalnya, kita tidak akan menemukan hidangan makanan berbuka seperti umumnya. Tetapi, kita hanya disajikan harira, sop atau masyrubat yang terbuat dari sayuran yang sudah ditim dan dihaluskan serta halawiyat, kue kering yang rasanya sangat manis dan wangi. Baru setelah tarawih, kita dapat menyantap makanan seperti umumnya.

    Roti dan lauk pauk seperti tajin (sebut saja empal gentong versi Maroko), lubiya, baisor  dan lainnya menjadi makanan mereka sehari-hari. Namun hanya pada hari Jumat, kita akan menyantap couscous (nasi jagung bertoping kismis), ayam bumbu kuning dan sayuran yang direbus. Lalu pada pagi hari, biasanya mereka akan sarapan dengan croisant, khubz dengan amlou, selai kacang, dan tidak lupa attai bina’na’, teh dengan daun mint.

    Menuai Pelajaran dari Budaya Maroko

    Banyak pengalaman unik yang saya temui sepanjang satu tahun di sini. Namun saya lebih berkesan untuk menceritakan hal itu dalam proses pembelajaran khususnya dalam menghafalkan Al-quran. Di sini, mereka akan mengaji di lembaga khusus untuk menghafalkan Al-quran atau di masjid-masjid kepada ustadz/ustadzah.

    Mereka akan memulai menghafalkan dengan menulis ayat demi ayat di atas kayu dengan memakai pena dari kayu yang dirumcingkan dan mangsi sebagai tintanya. Mereka menyebutnya dengan menulis di atas lauh. Kemudian mereka akan membaca berulang-ulang dan menghafalkannya sambil duduk dan menggerakkan badannya maju mundur dengan suara lantang. Mereka tidak akan menyetorkan hafalan sebelum lancar, karena guru mereka tidak akan segan untuk memukul memakai kayu jika hafalannya nggratul-nggratul. Meskipun mereka masih berusia 6 atau 7 tahun.

    Mereka mengaji menggunakan toriqoh dengan riwayat dan membagi Alquran berdasarkan hizb bukan juz. Satu juz sendiri adalah 2 hizb, maka 30 juz adalah 60 hizb. Dalam penulisannya, mereka mempunyai jenis khot tersendiri. Sampai saat ini, saya masih kesulitan membacanya.

    Orang Arab keras bukan hal yang aneh bagi kita. Ternyata itu semua berasal dari didikan keras sejak kecil. Memukul kepala anak kecil atau nempeleng bukanlah hal yang tabu di sini. Menendang pantat atau bahkan menyeret badan mereka ketika bermalas-malasan sah saja dilakukan oleh orang tua atau bahkan orang lain sekalipun. Jadi sudah tak lagi asing di telinga, jika mendengar orang-orang saling berteriak mengumpat di jalanan. Atau taksi yang tiba-tiba menelantarkan penumpang hanya karena gemas dengan taksi lain yang menyerobot. Itu pula sebagian hal aneh juga berkesan yang saya temui. Dan jika menemukan hal aneh lain, seperti tembok-tembok yang menjadi wc umum atau lainnya katakan saja, ‘idza kunta fi al-maghrib, fa laa tastaghrib’, jika Anda di Maroko, maka janganlah kebarat-baratan.

    Jalan Sukarno di Kota Rabat, Maroko

    Mesranya Indonesia-Maroko

    Teman-teman tahu Jalan Casablanca yang terbentang dari Tanah Abang sampai Kampung Melayu di Jakarta itu? Ya. Itulah tanda kemesraan Indonesia dengan Maroko. Maroko pun menyimpan nama Sukarno menjadi nama jalan di ibu kotanya, Rabat. Letaknya tidak jauh dari stasiun kereta Casa Voyager. Pengambilan nama jalan yang diresmikan langsung oleh Raja Mohammed V pada tahun 1960 ini bukan tanpa alasan, mengingat peran sentral Presiden Sukarno menggalang dukungan negara-negara lain untuk mengakui kemerdekaan Maroko yang berawal dari diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955 di Bandung.

    Setidaknya ada empat kekaguman masyarakat yang saat ini dipimpin oleh Raja Mohammed VI ini terhadap Indonesia. Pertama, karena luas negaranya. Kedua, jumlah penduduk muslimnya yang menjadi terbanyak di dunia. Ketiga, tartilnya bacaan Alquran santri Indonesia. Mereka lebih mementingkan hafalan tenimbang kebenaran tilawahnya. Keempat, toleransi di tengah keberagamannya itu. Hal terakhir ini disebabkan mereka masih berpandangan miring terhadap masyarakat non Islam yang jumlahnya tak lebih dari satu persen di sana. Ada beberapa orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi pendatang di sana untuk bekerja.

    Mukhtatamah

    Buntet, begitulah sedikit yang bisa saya ceritakan. Doamu sangat saya nantikan, karena bermuamalah juga melanjutkan belajar di sini tidak melulu berkesan indah seperti ketika jalan-jalan ataupun yang dibayangkan. Kedatangan dari teman-teman untuk belajar di sini pun saya tunggu selalu. Dan jika ada yang ingin bertanya-tanya lebih, marhaban bi sualikum.

    Salsabila Wilhelmina Arwani Amin
    Santri Muassasah Imam Nafie, Tangier, Maroko.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: WONG BUNTET PESANTREN NING MAROKO Rating: 5 Reviewed By: Tim Redaksi Web Buntet Pesantren
    Scroll to Top