• Latest News

    Tuesday, July 12, 2016

    [ Edisi Alumni ] KH. Ridwan Abdullah, Sang Pencipta Lambang NU

    KH. Ridwan Abdullah [Net]
    Pondok Buntet Pesantren merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Pulau Jawa. pesantren yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada tahun 1750 M ini, telah meluluskan ribuan alumninya yang tersebar diseluruh penjuru negeri. Banyak peran-peran penting yang dipegang oleh para alumni Pondok Buntet Pesantren, baik dibidang keagamaan, pemerintahan, politik dan kemasyarakatan. Pengambilan peran-peran penting tersebut, sudah barang tentu merupakan salah satu bentuk keberhasilan proses pendidikan yang dilakukan oleh para kiai dan ulama.
    Dalam edisi kali ini, Buntetpesantren.org akan menuliskan biografi para alumni yang memiliki peran penting dalam perjalanan hidupnya, untuk bangsa dan negara. Diangkatnya edisi ini, dengan harapan, bisa dijadikan tauladan bagi para santri dan alumni , untuk meneruskan perjuangan para ulama terdahulu dalam mensyiarkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang rahmatan lil alamin.
    Dari sekian banyak alumni Pondok Buntet Pesantren, salah satunya adalah  KH. Ridwan Abdullah. Kiai kelahiran Surabaya Jawa Timur ini merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian organisasi masyarakat terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
    KH. Ridwan Abdullah menjadi salah satu kiai yang hadir dala pertemuan yang dilaksanakan di kediaman KH. Wahab hasbullah di Kertopaten Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. dalam pertemuan tersebut, beberapa keputusan dihasilkan untuk menjaga kemerdekaan bermadzhab di tanah Hijaz, salah satunya adalah pembentukan Komite Hijaz.
    Pembentukan Komite Hijaz dilatarbelakangi oleh kemenangan Ibnu Saud (penguasa Najed) atas Syarif Husen (peguasa Hijaz) pada tahun 1924 di tanah hijaz yang mencakup Makkah dan Madinah. Kemenangan Ibnu Saud yang beraliran Wahabi membuat kecemasan di kalangan ulama Ahlissunah wal Jama’ah karena mulai tersiar kabar tentang pelarangan ziarah ke makam Nabi, pembongkaran makam Nabi dan sahabat, pelanggaran kemerdekaan bermadzhab di wilayah Hijaz, dan lain-lain
    Dalam pertemuan yang dihadiri oleh KH. Ridwan Abdullah beserta para ulama lainnya, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Bisri Syansuri, K.H. Nawawi Pasuruan, K.H. Ridwan Semarang, K.H. Maksum Lasem, K.H. Nahrawi Malang, H. Ndoro Muntaha, K.H. Abdul Hamid Faqih Sedayu Gresik, K.H. Abdul Halim Leuwimunding, Cirebon, , K.H. Mas Alwi, K.H. Abdullah Ubaid Surabaya, Syaikh Ahmad Ghanaim al Misri dari Mesir, dan lain-lain, memutuskan untuk membentuk Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dan mengirimkan delegasinya untuk menghadap Raja Ibnu Saud di Makkah. Komite ini meminta kepada Raja Ibnu Saud, untuk membebaskan para pendatang, untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang diikutinya.
    Dua orang utusan dari NU yaitu K.H. Wahab Hasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanaim al Amiri al Mishri, akhirnya bisa bertemu langsung dengan Raja Ibnu Saud dan menyampaikan aspirasi para ulama di Indonesia. Akhirnya setelah menemui Utusan tersebut, Raja Ibnu Saud menjamin kebebasan bermaliyah dengan madhzab empat di Tanah Haram serta tidak akan menggusur makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
    Selain ikut terlibat dalam pendirian NU, KH. Ridwan Abdullah juga dipercaya untuk membuat lambang NU. Keahlian KH. Ridwan Abdullah dalam hal. melukis, dimanfaatkan oleh para pendiri NU saat itu, untuk menciptakan lambang Nahdlatul Ulama. 
    Ridwan Abdullah mengawali pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Buntet Cirebon untuk berguru pada Kiai Abdul Jamil. Salah satu factor dipilihnya pesantren Buntet selain karena sosok kiainya, juga karena  ayahnya yaitu KH. Abdullah merupakan warga Cirebon.
    Ridwan Abdullah lahir di Kampung Carikan Gang I, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884. Ia pertama kali mendapatkan pendidikan saat belajar di sekolah milik Belanda. Banyak yang memperkirakan, bakat melukisnya cukup terasah, saat Ridwan berada di sekolah tersebut. Belum sampai lulus, Ridwan kemudian dikirim oleh ayahnya untuk mendapatkan pendidikan agama di Pesantren Buntet Cirebon.
    Dari Buntet, Ridwan masih mengembara mencari ilmu ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, dan Pesantren Bangkalan, Madura, asuhan Kiai Cholil. [ Bersambung ]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [ Edisi Alumni ] KH. Ridwan Abdullah, Sang Pencipta Lambang NU Rating: 5 Reviewed By: Liburan Cirebon
    Scroll to Top