• Latest News

    Wednesday, June 8, 2016

    Memo Anti Terorisme; Refleksi Puisi Romantika Dua Pemikir Karya Santri Yang Penyair: Chairul Anam


    Malam yang pekat, rembulan dan bintang-gemintang rupanya malu-malu memunculkan batang hidungnya: mendung. Di pelataran sekretariat FORSILA BPC Jakarta Raya yang cukup untuk sekadar menggelar sehelai tikar, kami semua berkumpul. Tepat pada malam minggu yang cukup sakral bagi para pemuda, kami menghabiskan malam untuk berbincang-bincang santai membedah buku antologi puisi berjudul Memo Anti Terorisme. Dalam buku antologi puisi ini termuat puisi karya salah satu santri Buntet Pesantren, Chairul Anam.

    Chairul Anam adalah pemenang lomba cipta puisi pada serangkaian acara Forsilanival 2016. Ia sering berkumpul dalam sekumpulan penyair di wilayah Jakarta. Puisinya berjudul Romatika Dua Pemikir termasuk dalam daftar 250 puisi yang tercantum dalam antologi tadi. Pada bedah buku tersebut, hadir Forsilawan Faliqul Isbah sebagai pembanding. Berikut adalah puisinya.

    ROMANTIKA DUA PEMIKIR
    Sebenarnya kita berdiri di panggung yang sama,
    Ada yang menari di tumpukan  kertas:
    Menelusuri diksi-diksi, sehalus mungkin
    Dan ada juga yang berdansa di hamparan arang:
    Menapaki gedung-gedung, setepat mungkin
    Berharap ada yang memasang mata
    Melirik sinyal-sinyal pengaduan kita
    Bahwa ada gelisah di tengah-tengah euphoria.

    Sebenarnya kita berdawai pada ideologi yang sama,
    Ideologi tanpa nama, hanya dengan rasa:
    Kesejahteraan adalah mimpi yang akan tercipta
    Mana mungkin kita berdiam dalam tempurung
    Sedangkan rintih peluh tak menemukan ujung

    Namun,
    Terkadang pada kenyataan kita terbentur
    Melebur hingga tak teratur
    Saat kita tahu bahwa hakikat perpaduan unsur manusia
    Terbentuk oleh sifat malakiyah dan hewaniyah
    Hanya ada hati yang dapat menyaring kebenaran
    Melangkahkan tujuan tanpa ada kerusakan

    Demi syair-syair yang telah terdendangkan
    Demi khilaf-khilaf terabaikan
    Kita cumbu keharmonisan
    Dengan neraca kemanusiawian.
    Cirebon, 17 Pebruari 2016

    Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan kejadian bom di Sarinah, Jakarta. Hal ini lah yang menjadi landasan terbitnya buku berjudul Memo Anti Terorisme. Chairul Anam sebagai salah satu penulis dalam buku tersebut menerangkan bahwa antologi ini menyatakan penolakan terhadap tindakan terorisme.

    Puisi di atas diterangkan sangat mendalam oleh Anam, mulai dari judul sampai baris terakhir. Semua diksinya dijelaskan secara beralasan. Memilih judul Romantika Dua Pemikir pun tak luput dari pertimbangan yang matang. Romantika yang dimaksud adalah lika-liku yang secara spesifik mengarah pada lika-liku perasaan dalam hati. Sedangkan Dua Pemikir ditujukan pada sastrawan yang berhati halus dan teroris yang berhati keras. Artinya, Romantika Dua Pemikir dimaksudkan pada lika-liku perasaan dalam hati dari seorang sastrawan dan teroris. Dibalik kata Romantika, terdapat makna lain yang mengarah pada keterkaitan antara kedua pemikir tersebut. Bahwa sastrawan dan teroris bisa jadi memiliki tujuan yang sama, tetapi berbeda pada prosesnya.

    Pada bait pertama, terkandung arti bahwa sastrawan dan teroris berada pada dunia yang sama. Bedanya terdapat pada tindakan, sastrawan yang bertindak hanya menulis, sedangkan teroris lebih pada tindakan yang sangat ekstrem. Namun keduanya memiliki maksud yang sama yaitu menginginkan pemerintah melirik dan memperhatikannya.

    Pada bait kedua, kedua pemikir tersebut merenungkan ideologi negara kita yang katanya adalah ideologi yang sangat ideal. Namun ideologi yang sebenar-benarnya adalah ideologi yang berlandaskan pada hati nurani. Semua itu tak lain untuk mendapatkan kesejahteraan yang diidam-idamkan. Untuk itu, sastrawan dan teroris tidak bisa kalau hanya berdiam diri pada satu tempat tanpa melakukan tindakan apapun.

    Pada bait ketiga, penulis membagi sifat manusia menjadi dua bagian, yaitu sifat malakiyah dan hewaniyah. Kedua sifat ini merupakan ringkasan dari tujuh sifat yang dinyatakan oleh Imam Ghazali dalam salah satu kitabnya berjudul Kimya’us Sa’adah. Kedua sifat ini pulalah yang membawa manusia pada tindakan-tindakan tertentu. Adakalanya manusia bertindak sangat baik melebihi sifat malaikat. Ada pula kalanya manusia bertindak sangat buruk  melebih sifat hewan.

    Pada bait keempat, penulis mengharapkan semua manusia bertindak sesuai timbangan kemanusiaan. Jika semuanya bertumpu pada timbangan tersebut, niscaya tidak akanada kekerasan seperti yang dilakukan para teroris.

    Setelah Chairul Anam selesai dengan pemaparannya, Forsilawan Faliqul Isbah sebagai pembanding memulai penjelasannya. Beliau mengkritisi teks puisi tersebut, bahwa penyair harus memiliki alasan terhadap teks tersebut, mulai dari diksi, rima, tipografi, dan sebagainya. Pada kritik terhadap diksi dan rima, Anam sebagai penulis mampu menjawabnya secara beralasan. Namun terjadi perdebatan pada pemilihan kata “kemanusiawian” dalam bait keempat baris terakhir. Forsilawan Syakirlah yang pertama mengkritik kata tersebut, ia mengatakan bahwa kata tersebut menyalahi aturan bahasa Indonesia. Kata “manusiawi” tergolong ke dalam kata sifat, sedangkan simulfiks “ke-an” juga mengandung arti sifat. Artinya, terdapat arti ganda berupa sifat yang melekat pada kata “kemanusiawian”. Harusnya, kata Syakir, pilih salah satu antara kata “manusiawi” atau “kemanusiaan” karena keduanya merujuk pada makna yang sama.

    Anam memilih kata tersebut bukan tanpa alasan. Ia menjelaskan bahwa awalnya pun ia sempat mempertimbangkan kata tersebut pantas atau tidak jika masuk ke dalam teks. Ia tetap memasukkannya dengan dalih bahwa hal tersebut merupakan sebuah penguatan makna. Kata “manusiawi” dengan ditambah simulfiks “ke-an”, maka memiliki arti sifat yang sangat kuat, menurutnya.

    Meski demikian, Forsilawan Subhan mendukung pendapat Syakir dan menguatkannya. Menurut Subhan, karya sastra merupakan media untuk mempertahankan bahasa. Dalam kajian sosiolinguistik, pemertahanan bahasa Indonesia sangat diperlukan mengingat pengaplikasian bahasa Indonesia pada kehidupan sehari-hari kian terkikis oleh penggunaan bahasa asing. Karya sastralah salah satu jalan untuk mempertahankan bahasa Indonesia. Kata “kemanusiawian” yang muncul dalam puisi tersebut dikhawatirkan akan terus muncul dalam puisi-puisi selanjutnya. Hal ini tentu akan menciderai bahasa Indonesia sebagai induk dari karya sastra. Jika hal itu terus terjadi, khawatir akan muncul kata baru dan merambat pada kata yang lain sehingga akan memengaruhi tatanan bahasa Indonesia yang lainnya.

    Subhan juga —mengenai permasalahan tadi— memberikan suatu gambaran dalam dunia kepenyairan dengan sedikit menjelaskan sejarah puisi Indonesia. Bahwa puisi Indonesia modern muncul pertama kali oleh Muhammad Yamin, seorang tokoh pejuang nasionalis yang juga seorang penyair kenamaan. Puisinya pertama kali muncul pada kisaran tahun 1920-an berjudul Tanah Air dalam majalah Jong Sumatranen Bond. Dalam puisi-puisinya, ia sangat menekankan penggunaan bahasa yang baik dan sekaligus mempropagandakan bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) pada khalayak. Usahanya ini dilakukan secara konsisten dalam puisi-puisi selanjutnya hingga sampai pada tahun 1928, ia merumuskan naskah sumpah pemuda yang di dalamnya tercantum bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan. Inilah yang kemudian menjadi citra positif bagi puisi-puisi M. Yamin yang merefleksikan usahanya dalam memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan.

    Pasca kemerdekaan, muncul seorang penyair yang sempat mengbohkan pada masanya, ia lah Chairil Anwar. Meski ia dikenal sebagai sastrawan boheimian, namun dalam puisi-puisinya, ia tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Karya-karyanya banyak mendapat perhatian dan penghargaan. Puisinya yang paling terkenal berjudul Aku.

    Barulah pada kisaran tahun 1970-an, muncul konsepsi puisi yang bisa dikatakan nyeleneh. Kritikus sastra menyebutnya sebagai puisi mbeling. Sutardji Calzoum Bahri lah yang mengawali munculnya konsepsi tersebut dengan mengeluarkan “kredo puisi”nya. Kredo puisi tersebut kurang lebih menyatakan pembebasan makna pada kata. Sebetulnya yang ia lakukan adalah hendak mengembalikan puisi pada sastra lisan berupa mantra. Perhatikanlah puisi Sutardji di bawah ini.

    TRAGEDI WINKA DAN SIHKA
    Oleh:
    Sutardji Calzoum Bahri
    Kawin
    Kawin
    Kawin
    Kawin
    Ka
    Win
    Ka
    Win
    Ka
    Win
    Ka
    Win
    Ka
    Winka
    winka
    winka
    winka
    Sihka
    Sihka
    Sihka
    Sih
    Ka
    Sih
    Ka
    Sih
    Ka
    Sih
    Ka
    Sih
    Ka
    Sih
    Sih
    Sih
    Sih
    Sih
    Ka
    Ku
    Itulah salah satu puisi Sutardji yang sangat dikenal. Permainan tipografinya sarat akan makna. Dengan munculnya puisi tersebut, Subhan berpendapat bahwa karya sastra dalam hal ini puisi di atastelah  menciderai bahasa. Ia mengatakan bahwa puisi Muhammad Yamin lah yang sangat ideal, terutama dalam hal karya sastra mempertahankan bahasa. Sangat ironis bila kemudian karya sastra sendiri yang merusak tatanan bahasa Indonesia yang semestinya dijaga betul-betul.

    Meski begitu, Forsilawan Ade Syamsul mengatakan bahwa bukankah puisi itu bebas dan penyair bebas menggambarkan bagaimana puisinya. Dalam puisi memang dikenal adanya istilah lisensi poetika atau bisa juga dimaknai dengan hak prerogatif dari seorang penyair. Artinya penyair memang dengan hak tersebut bebas mengutarakan bagaimana puisinya. Namun menurut Subhan, hak tersebut memang pantas menjadi landasan atas argumen penyair terhadap puisinya, tetapi penyair hanya terikat pada satu hal, yaitu bahasa. Singkatnya, Subhan menganggap bahwa bahasa adalah harga mati bagi setiap karya sastra.


    Waktu terus bergulir, tak terasa malam kian menghitam. Namun justru makin malam, diskusi makin hidup. Aneka penganan beserta minuman sangat membantu kinerja otak dan mata. Kira-kira pukul 23:30 WIB barulah diskusi mulai longgar. Akhirnya dengan sangat bangga, Forsila kembali memberikan ucapan selamat pada Chairul Anam sebagai pemuda nan penyair.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Memo Anti Terorisme; Refleksi Puisi Romantika Dua Pemikir Karya Santri Yang Penyair: Chairul Anam Rating: 5 Reviewed By: AriezQ ALq
    Scroll to Top