Mengenal Air, Kajian Perspektif Alqur'an, Sains, dan Sosial - Buntet Pesantren Mengenal Air, Kajian Perspektif Alqur'an, Sains, dan Sosial - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, May 21, 2016

    Mengenal Air, Kajian Perspektif Alqur'an, Sains, dan Sosial

     Oleh : Muhamad Majdi
    AL-Qur’an Menyebut Istilah (ma’) dalam bentuk Nakiroh (Indefinite) dan (Al-Ma) dalam bentuk Ma’rifah (definite) yang berarti air sebanyak 59 kali. Sementara itu, Al-Qur’an menyebut (ma’ki), airmu, satu kali; (ma’aba), airnya, dua kali; dan (ma’ukum), air kalian, satu kali.
    Jadi, secara keseluruhan Al-Qur’an mengulang istilah (ma’) atau air sebanyak 63 kali yang tersebar dalam 42 surah. Hal ini mengisyaratkan bahwa air, menurut Al-Qur’an, merupakan sumber kekayaan alam yang sangat penting, berharga, dan memiliki daya guna dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia, binatang, dan tumbuhan.
    Dalam penjelasan Eksistensi Air, Al-Qur’an menggunakan beberapa kata kunci yang bias menjadi petunjuk tentang proses terjadinya air, daya guna air, dan manfaat air bagi kehidupan manusia.
    Pertama, Al-Qur’an menggunakan kata kunci anzala yang berarti ‘menurunkan’, dan kata ini diulang hamper sebanyak penyebutan istilah al-ma’ atgau air dalam Al-Qur’an. Selain menggunakan kata anzala Allah juga menggunakan kata yang dekat maknanya dengan menurunkan, yaitu kata sabba yang berarti mencurahkan (air dari langit). Subjek yang menjadi pelaku kata anzala yakni menurunkan ini adalah Allah yang diungkapkan dalam bentuk kata Allah Ismu jalalah, kata ganti Kami atau Dia. Sementara asal air itu, disebutkan oleh Al-Qur’an, minas-sama, dari langit; sedangkan tempat yang menjadi penampungan air yang turun dari langit itu adalah al-ard yaitu bumi.
    Kedua, Al-Qur’an menggunakan kata kunci asqa yang berarti menyiram atau member minum. Sementara itu, yang menjadi subjek kata asqa ini adalah Allah atau kata ganti seperti Dia dan Kami (Allah). kata kerja asqa yang berarti menyiram dan member minum mengandung dua pengertian. Pertama, dengan air yang diturunkan dari langit Allah menyiram tetumbuhan agar tumbuh subur. Kedua, dengan air Allah member minum manusia dan hewan sehingga keduanya mendapat kesempatan untuk menjaga kelangsungan hidup dan mengembangkan kualitas hidupnya.
    Ketiga, Al-Qur’an menggunakan kata kunci ahya yang berarti menghidupkan. Maksudnya bahwa tujuan Allah menurunkan air dari langit ke bumi hingga sebagian air tersebut tersimpan dalam perut atau permukaan bumi, bukan hanya untuk member minum manusia dan hewan, serta menyiram tumbuhan, akan tetapi secara makro untuk menghidupkan bumi agar bumi menghasilkan manfaat yang banyak bagi kehidupan manusia.
    Keempat, AL-Qur’an menggunakan kata kunci akhraja yang berarti mengeluarkan. Maksudnya bahwa Allah SWT dengan menurunkan air dari langit ke bumi, kemudian sebagian air itu tersimpan di dalam perut bumi atau dipermukaannya sehingga bumi itu menjadi subur; maka tujuan akhirnya adalah agar bumi itu mengeluarkan hasil-hasil bumi untuk kesejahteraan hidup manusia.

    1.      Siklus Air
    Description: 7:57 





    “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (al-A’raf : 57)
    Siklus air menurut Ayat Al-Qur’an tas terjadi dalam tiga fase yang melibatkan ar-riyah (angin), sahab (awan), dan rahmatih (kasih sayang-Nya yaitu Hujan).
    Fase Pertama : Bumi yang dihuni Manusia ini diselimuti oleh atmosfer atau lapisan udara. Sedangkan angin adalah udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan udara. Angin bergerak di tempat yang memiliki tekanan udara tinggi ke temoat yang memiliki tekanan udara yang rendah, dengan pernyataan lain angin adalah udara yang bergerak dari daerah yang memiliki suhu (temperature) rendah ke wilayah yang memiliki temperature tinggi. Dengan demikian, angin adalah arus yang bergerak di antara dua ozon yang memiliki susu yang berbeda, yakni zona yang dingin menuju zona yang panas.
    Angin terjadi karena pemanasan air samudra oleh sinar matahari. Pnas matahari inilah yang menimbulkan tekanan udara sehingga bergerak menjadi angin yang membawa dan menggiring uap air berkumpul ke atas menjadi awan untuk kemudian berubah menjadi hujan, sebagaimana tergambar pada Ayat Al-Qur;an berikut :
    Dan Kami Jadikan pelita yang terang benderang (matahari), dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya” (An-Naba :13-14)
    Angin bergerak membawa dan menggiring uap air, lalu memadukannya menjadi awan mendung, sebagaimana disebutkan pada ayat :
    “…….Sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau awan mendung itu ke suatu daerah yang tandus, karena angin bergerak dari kawasan yang dingin menuju kawasan yang panas, lalu Kami turunkan hujan didaerah itu” (Al-‘Araf:57).
    Allah menegaskan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan kepada Hamba-Nya adalah menggerakkan angin sebagai tanda bagi kedatangan Nikmat-Nya (Hujan), yaitu angin yang membawa awan tebal yang dihalaunya ke negeri yang kering yang telah rusak tanamannya karena ketiadaan air, kering sumurnya karena tak ada hujan dan penduduknya menderita karena haus dan lapar. Lalu dinegeri yang tandus itu, Allah menurunkan Hujan yang lebat sehingga negeri yang hamper mati itu menjadi subur kembali dan sumur-sumurnya penuh berisi air dan dengan demikianlah penduduknya dengan serba kecukupan dari hasil tanaman yang melimpah.
    Fase kedua : yang dimaksudkan dengan awan sering didefinisikan sebagai kumpulan titik – titik uap air di atmosfer yang berdiameter 0,02 sampai 0,06 mm yang berasal dari penguapan air laut, danau, atau sungai. Awan atau kumpulan titik-titik uap air inilah yang dapat menyebabkan hujan.
    Sinar matahari yang yang panas permukaannya mencapai 6000 derajat dan panas pada pusatnya mencapai 30% juta derajat, yang menghasilkan energy berupa ultraviolet 9%, cahaya 46%. Dengan demikian, matahari dinamakan sebagai pelita yang sangat terang karena mengandug cahaya dan panas secara bersamaan yang sangat dibutuhkan oleh atmosfer bumi, sehingga terjadi keserasian antara cahaya sinar matahari dengan atmosfer, lapisan udara bumi. Cahaya dan panas inilah yang menimbulkan tekanan udara sehingga udara itu bergerk menjadi angin yang membawa dan menggiring uap air berkumpul keatas menjadi awan kemudian menurunkan hujan sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an :
    Description: Surat An-Naba Ayat 13 

    Description: Surat An-Naba Ayat 14dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)

    dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah
    Dalam beberapa Ayat Al-Qur’an diungkapkan bahwa awan sangat bergantung kepada angin. Anginlah yang mengerakkan awan kemudian menurunkan hujan. Dalam temuan ilmuan modern sekarang menjelaskan bahwa tidak hanya berfungsi menggerakkan awan, tetapi juga mengawinkan gelembung udara bercampur partikel  dengan uap air hingga melahirkan hujan. Temuan ilmiah ini sejalan dengan penjelasan Ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
    Description: 15:22 




    “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan (air) itu, dan bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al-Hijr : 22)
    Hal ini dapat dijelaskan secara Ilmiah bahwa “di permukaan laut terbentuk gelembung udara dari buih-buih yang tidak terhitung jumlahnya. Pada waktu gelembung udara ini pecah, ribuan partikel kecil yang disebut aerosol dengan diameter seperseratus millimeter terlempar ke udara, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin ke lapisan atmosfer. Partikel-partikel ini dibawa naik keatas lebih tinggi lagi oleh angin hingga bertemu dengan uap air.uap air yang mengembun disekitar partikel-partikel ini berubah menjadi butiran-butiran air kemudian butiran-butiran air ini berkumpul dan membentuk sahaban siqalan (awan yang makin berat), kemudian jatuh kebumi dalam bentuk hujan.
    Fase Ketiga : (Hujan)  Air yang mengandung mineral dan segar yang diturunkan Allah dari awan melalui kekuasaan-Nya. Adapun yang dimaksud dengan istilah (as-sama) yang menjadi sumber air hujan itu, menurut Asfahani adalah tempat yang tinggi. Menurutnya, langit semua benda itu adalah bagian paling tinggi dari benda tersebut. Secara sederhana air hujan itu turun dari tempat yang tinggi. Berarti air hujan itu berasal dari awan yang berada ditempat tang paling tinggi melalui mata rantai siklus air.  
    2.      Macam-Macam Air
    Jika Dilihat dari segi wujud dan tempat air dibumi, maka wujud air dapat dibagi menjadi tiga bentuk : Cairan (air) pada, di atas, ataupun dibawah permukaan tanah; es yang mengambang, dan awan diudara yang merupakan uap air. Air adalah zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak diplanet lain. Air menutupi hamper 71 % permukaan bumi. Terdapat 1,4 teriliun kilometer kubik (330 juta mil3) tersedia dibumi. Air sebagian besar terdapat dilaut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (dikutub dan puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es.
    Description: http://4.bp.blogspot.com/-J32rqDsPczY/VZMqQWMeTkI/AAAAAAAAC_0/DY2-nAGRAJc/s1600/macam-macam%2Bair.jpgSementara macam-macam air dalam perspektif fiqih biasanya dibahas dlam bab Taharah, yakni bab bersuci. Misalnya dalam Kitab Takrib dijelaskan :






















    Air yang boleh digunakan untuk thaharah ada 7: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air dari mata air, air salju, dan air embun. 
    Kemudian air dibagi menjadi 4 : Air yang suci dan mensucikan dan tidak makruh (untuk bersuci) yaitu air mutlak , air suci dan mensucikan tapi makruh (untuk bersuci) yaitu air yang dipanasi di bawah matahari , air suci tidak mensucikan yaitu air musta'mal (sudah dipakai) dan air yang sudah berubah karena bercampur dengan benda-benda yang suci, dan air najis yaitu air yang tercampur dengan najis dan jumlahnya kurang dari dua kullah atau lebih dari dua kullah namun berubah kondisinya. Yang dimaksud dua kullah adalah 500 ratl bagdadi menurut pendapat yang paling shahih.
    Kemudian dalam kitab Anwar Al-Masalik Syarh “umadat as-salik dijelaskan :

    Air itu bermacam-macam. Air yang mensucikan, air suci, dan air najis. Air yang mensucikan yaitu air yang suci pada substansinya yang sekaligus mensucikan benda-benda lainnya. Sementara itu, air suci adalah air yang suci pada dirinya, tetapi tidak dapat mensucikan benda-benda lainnya. Adapun air najis adalah air yang tidak termasuk keduanya (bukan air suci dan mensucikan dan juga air suci). Tidak diperbolehkan mengangkat hadas dan menghilangkan najis kecuali dengan air mutlak, yaitu air suci dalam keadaan sifat air yang asli sesuai dengan kejadiannya. (dalam fikih dimakruhkan  menggunakan air dalam benjana yang terkena panas sinar matahari dinegeri tropis; dan (status kemakruhan itu) hilang ketika benjana itu menjadi dingin.”
    Berdasarkan kajian air yang dilakukan para ulama fikih, seperti diatas, maka dari perspektif fikih air dibagi menjadi empat macam :
    Pertama  : Air Mutlak, yaitu air yang suci dan mensucikan. Air mutlak adalah air yang yang biasa digunakan untuk mensucikan diri dari hadas (hadas kecil dan hadas besar) seperti air air hujan, air laut, dsb.
    Kedua : Air Musta’mal, yaitu air yang sudah dipakai untuk mensucikan diri dari hadas kecil maupun besar, maupun air yang sudah digunakan untuk keperluan lain seperti mandi dan mensucikan benda-benda.
    Ketiga : Air yang bercampur dengan benda-benda suci, misalnya air yang bercampur dengan sabun dan tepung. Air yang semacam ini suci dan mensucikan selama masih termasuk air mutlak. Jika kemutlakan air itu hilang menjadi berwarna dan mengandung rasa seperti air the, air kopi, sirop, dsb maka air semacam ini suci, tetapi tidak bias dipergunakan untuk mensucikan diri dari hadas, dan tidak dapat dipergunakan untuk mensucikan untuk benda-benda lainnya.
    Keempat : Air yang bercampur dengan najis. Jika benda najis merubah sifat air, rasa, warna, dan bau maka air itu tidak lagi suci, tetapi berubah menjadi najis. Adapun air yang dikelompokkan air najis atau muttanajis (terkena naijs) adalah keadaan air itu sendiri.
    Dari berbagai perspektif fikih tentang air mendefinisikan air mutlak ditinjau dari kajian ilmiah bahwa yang dimaksudnkan air mutlak yaitu air yang sebagai subtansin kimia dengan rumus kimia H2O; atu molekul air tersusun atas dua atom hydrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau pada kondisi standar yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperature 273,15 K (00C). zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti : garam, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organic.
    Para Ulama Fikih merinci bahwa yang termasuk ke dalam air mutlak ini adalah air hujan, air tanah, air sungai, air danau, air laut dan air salju/es yang keseluruhannya bersumber pada air hujan melalui siklus air seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
    3.      Konservasi Air
    Konservasi air merupakan kebutuhan yang mendesak dan menjadi tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Hal ini didasarkan pada fakta ilmiah bahwa “ Jumlah air dibumi tetap, namun tidak dipelihara dengan manajemen yang baik, maka akan terjadi kekurangan air di musim kemarau dan kelebihan air di musim hujan karena siklus air menjadi tidak seimbang. Sebagian air itu ada dilaut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (dikutub dan puncak gunung).
    Air merupakan unsure yang sangat vital dalam kehidupan, karena tanpa air kelangsungan hidup tidak akan dapat bertahan. Kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Bagi seorang Muslim, air bersih atau air yang suci dan mensucikan itu bukan hanya untuk mandi dan mencuci, tetapi juga untuk wudlu dan mandi junub.
    Musim kemarau adalah dampak terparah manusia membutuhkan air. Dimusim kemarau terjadi kekeringan sehingga tanah-tanah menjai tandus, swah, kebun, dan lading tidak bias ditanami. Para petani dan buruh tani mengalami krisis ekonomi karena tanah mereka tidak berproduksi, sementara itu dimusim hujan terjadi banjir yang menenggelamkan rumah, jalan, jembatan serta hasil pertanian.
    Hal ini terjadi karena perilaku manusia yang merasa kurang dan rakus mengeksploitasi alam. Proses penggundulan hutan tidak sebanding dengan proses penanaman kembali hutan. Penebangan liar, pencurian kayu, dan perubahan fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi, pembuangan sampah sembarang, serta penyusutan daerah resapan air karena pembangunan rumah-rumah mewah dikawasan hulu sungai yang tidak terkendali menjadi salah satu factor utama penyebab banjing di musim hujan.
    Description: Surat Ar Rum Ayat 41Tentang terjadi kerusakan lingkungan atau ketidak seimbangan siklus air darat maupun di laut yang mengakibatkan banjir dimusim hujan dan krisis air dimusim kemarau ditegaskan oleh AL-Qur’an sebagai berikut :



    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum : 41)
     Manusia perlu menyadari tanggung jawab sosialnya dalam konservasi air dengan memberikan kontribusi pemikiran, penyadaran pendidikan masyarakat dan terlibat dalam berbagai kegiatan guna merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air.
    Kegiatan konservasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk perlindungan dan pelestarian sumber air, pengawetan air, serta pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada wilayah sungai.
    4.      Manfaat Air Bagi Kehidupan
    Secara umu air merupakan unsur yang sangat vital dalam kehidupan, karena tanpa air keberlangsungan hidup tidak akan dapat bertahan. Hal ini ditegaskan Allah SWT secara tersurat pada Ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
    Description: 21:30
     




    “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiya : 30)
    Secara khusus dapat dijelaskan bahwa air memiliki manfaat dan kegunaan dalam kehidupan manusia  :
    Pertama : Allah menyatakan bahwa salah satu manfaat air adalah sarana untuk bersuci atau membersihkan diri lahir dan batin.  Dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :
    “ dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu “ (Al-Anfaal : 11)
    Description: Surat Al-Waqi'ah Ayat 68Kedua : Allah menurunkan Air untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia akan air minum. Allah menyatakan :

    Description: Surat Al-Waqi'ah Ayat 69
    Description: Surat Al-Waqi'ah Ayat 70
     




    “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Al-Wqi’ah : 68-70)
    Kebutuhan air bersih untuk diminum merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Air adalah komponen yang sangat dibutuhkan tubuh. Ternyata lebih dari sekedar menghilangkn rasa hasu, minum air 8-10 gelas sehari secara rutin membuat berbagai system yang terdapat dalam tubuh kita bekerja secara optimal sebagai berikut :
    a.       Kulit Sehat. Minum cukup air dapat menjaga kelmebapan kulit akibat pengaruh udara panas (ultraviolet). Air sangat penting untuk menjaga elastisitas dan kelembutan kulit, serta mencegah kekeringan.
    b.      Melindungi dan melumasi gerakan sendi otot. Sebagian besar cairan yang melindungi dan melumasi gerakan sendi otot terdiri dari air. Mengkonsumsi air sebelum, selama dan setelah melakukan aktivitas fisik, berarti meminimalkan resiko kejang otot dan kelelahan.
    c.       Menjaga kesetabilan suhu tubuh. Keringat adalah mekanisme alamiah untuk mengendalikan suhu tubuh. Agar dapat berkeringat, tubuh membutuhkan cukup banyak air.
    d.      Membersihkan racun. Asupan air yang cukup dapat membantu proses pembuangan racun yang terjadi pada ginjal dan hati.
    e.       Menstabilkan Pembuangan. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja system pencernaan didalam usus Besar. Proses ini akan mencegah gangguan pembuangan (konstipasi), karena gerakan usus menjadi lebih lancer, sehingga feses mudah dikeluarkan.

    Ketiga : Air Bermanfaat untuk pertanian. Air selalu menjadi factor yang menentukan tingkat keberhasilan pertanian.
    Keempat : Air memiliki sumber daya yang demikian besar untuk menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
    Kesemuanya dipercayakan kepada manusia untuk dijaga keseimbangannya dabgi kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia. Mengapa manusia merusaknya? Mengapa manusia tidak bersahabat dengan air padahal membutuhkannya? Lalu dimusim hujan, air dating mengambil tempatnya yang dirampas manusia. Air menjadi marah kepada manusia. Menenggelamkan rumah, bangunan, jalan, jembatan, sawah, dan lading serta berbagai insfrastruktut yang dibangun susah payah dengan uang rakyat?
    Mengapa masih belum sadar juga? Lalu, dimusim kemarau air menghilang, karena tempat penampungannya kosong. Hutan digunduli dan resapan air dialih fungsi, dan membuang sampah sembarangan. Mengapa manusia terus melakukannya, padahal mengancam kelangsungan hidupnya?

    Sungguh manusia makhluk yang dzalim dan bodoh (Al-Ahzab:72). Sadarlah dab berbuatlah untuk memelihara sumber daya air. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, ahli sains, dan Ulama. Akan tetapi tanggung jawab semuanya. Wallahu ‘Alam Bis-sawab
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mengenal Air, Kajian Perspektif Alqur'an, Sains, dan Sosial Rating: 5 Reviewed By: AriezQ ALq
    Scroll to Top