• Latest News

    Friday, April 8, 2016

    Karomah Buntet Pesantren

    K. Enha dan Ust. Nemi Mu'tashim Billah, Zurriyah K. Abbas
    Ini kali kedua saya datang ke Buntet. Juga kali kedua berziarah langsung ke Maqam Kyai Abbas dan para sesepuh Pesantren Buntet lainnya. Suasana pemakaman masih belum berubah, teduh di bawah pepohonan tua yang rindang. Kali ini Alhamdulilllah saya bisa menumpahkan kerinduan ke maqam Kang Cecep, kakak angkat sekaligus sahabat saya saat di Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Saya tak pernah berjumpa dengan beliau sejak keluar dari Ploso. Dan kini sowanku kepadanya adalah do'a di pusara beliau.

    Usai berziarah, saya menuju ke Rumah Pusaka. Ini ndalem sesepuh Pesantren Buntet sejak zaman mbah Kyai Jamil, Kyai 'Abbas hingga saat ini diasuh Mbah Dien. Puji syukur, saya berkesempatan langsung bertemu Mbah Dien (KH. Royandi Abbas), sosok bersahaja yang kerap saya sowani saat berda'wah di United Kingdom. Ya, Mbah Dien memang sudah lama tinggal di Inggris. Menurut beliau, rumah pusaka ini dibangun di masa Mbah Kyai Jamil lebih dari 150 tahun silam. Di dalamnya terdapat satu kamar, mihrab khusus Kyai Abbas, Alhamdulilllah saya berkesempatan shalat dan berdo'a di kamar khäsh tersebut.

    Kiai Enha di Pusara Kiai Cecep Nidzomuddin
    Saat bercengkrama dengan beliau, datanglah tamu yang bersejarah, sosok tua pejuang Hizbullah dari Laskar 'Abbas; Ya, Pasukan Belanda saat itu menyebut laskar 'Abbas untuk para pejuang Hizbullah dari Buntet ini. Namanya Pak Mufti. Usianya sudah 95 tahun, tapi bicaranya sangat jelas, bahkan saat menceritakan pengalamannya berjuang dulu, beliau fasih mengutip banyak dalil quran maupun hadits pertanda beliau santri yang pejuang. Di antaranya saat mengisahkan pertempuran di Segeran, Indramayu. Saat itu beliau bersama 30 tentara Hizbullah berperang melawan Pasukan Belanda yang berjumlah ratusan. Hanya dengan bambu runcing, beliau yang nyaris tewas pada pertempuran tersebut berhasil selamat. Saat saya tanyakan rahasianya, beliau menjawab dengan spirit al-quran surat Al-Anfal 65:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

    "Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti."
    Kiai Enha, Kiai Nahdudin, dan Bapa Mufti

    (Kisah heroik Pak Mufti bisa dibaca pada link ini: http://m.okezone.com/read/2015/08/18/525/1198184/kisah-heroik-kiai-mufti-melawan-penjajah).

    Jelang Ashar, tamu bertambah lagi, kali ini sosok sepuh yang juga masih keluarga Pesantren Buntet, Pak Kyai Jaelani Imam, beliau banyak berkisah dinamika Pesantren Buntet, dari beliau pula saya mendapat cerita sering rawuhnya Habib Ali Kwitang ke kediaman Kyai Abbas, bahkan Kyai Abbas sempat memberikan sebuah rumah untuk Habib Ali istirahat, karena Hanib Ali bila berkunjung tidak sebentar, dua hingga tiga bulan. Setelah wafatnya Kyai Abbas, keberkahan beliau turut memasyhurkan keberkatan Majelis Habib Ali Kwitang.
    Ruang Khusus Kiai Abbas

    Sampai di sini saya mau ambil hikmah sejenak, tentang bagaimana penghormatan Habaib sekelas Habib Ali Kwitang kepada Kyai Abbas; hal ini nyaris hilang pada zaman sekarang di mana gelar Habib seringkali menempatkan sebagian dzuriyât rasul pada kejumawaan sikap yang mengerikan. Bahkan seorang Habib muda Jakarta pernah ramai diperbincangkan di sosmed saat ia mengatakan, "kalau ketemu habib dan kyai kampung diutamakan cium tangan sama habib dulu, baru kyai kampung."

    Innâlillâh... Jelas-jelas ghairu mutaaddib!
    (Semoga melalui tulisan ini banyak Habaib yang belajar tawadhu' dalam menghargai dan memuliakan para ulama non habaib).

    Kiai Enha bersama Kiai Ade (paling kanan), Ustad Nemi, dan Ustad Zaki
    Semuanya merupakan zurriyah Kiai Abbas

    Hal mengejutkan dari kisah Kyai Jaelani Imam adalah saat beliau menanyakan asal usul saya dan sampai pada menyebut almarhum ayah mertua saya KH. Hasbiyallah serta Alm KH. Ayatullah Saleh Klender dan Abuya KH. Zayadi Muhajir (Pesantren Azziyadah). Subhanallah, ternyata sanad dan silaturahmi keilmuan Kyai Kender juga sampai ke Buntet, tidak heran bila banyak dari keluarga saya juga mengenyam pendidikan di Pesantren ini. Saya dipesankan khusus oleh beliau untuk terus merawat silaturahmi Klender-Buntet ini, Allahu Akbar, ini benar-benar kunjungan yang mengurai sejarah panjang keilmuan para ulama di kampung saya.

    Kiai Enha, di sampingnya ada Kiai Jaelani Imam beserta Kiai Nahdudin, Kiai Ade dan beberapa tamu

    Buntet sebagai Masyarakat Pesantren

    Alhamdulilllah kembali saya ucapkan, saat tiba di rumah pusaka, tak dinyana bersua Kang Ade, cucu Kyai Mustamid Abbas yang dulu bersama Kang Cecep nyantri di Pesantren Ploso Kediri, ini reunian tak disengaja sesama santri ploso. Saya baru tau juga beliau melanjutkan ke al-Azhar Cairo, Alhamdulilllah lengkap deh kebahagiaan batin saya, sekaligus jadi penyembuh sakit kepala yang sudah tiga hari ini menyerang.

    Kang Ade, menyebut di antara karomah pesantren Buntet ini adalah berdirinya 55 pesnatren yang nyaris tanpa direncanakan, sepertinya tiba-tiba saja Allah kirimkan santri sehingga sekarang jumlah tercatat santri mencapai 3600 orang tidak termasuk santri kalong yang datang ke kediaman para kyai untuk mengaji.

    Saya ingin menyebut Buntet sebagai "masyarakat pesantren". Anda akan kesulitan membedakan mana santri mana warga kampung, bukan hanya karena banyaknya pesantren yang nyaris tanpa sekat dengan perumahan warga tapi semangat belajar dan ibadah yang seirama, masyarakat sekitar pesantren adalah juga para santri luar yang sangat menghormati ulama dan pesantren. Tidak banyak pesantren yang melebur dan berbaur dalam spirit ibadah yang sama antara santri dan warga kampung seperti di Buntet ini.

    Suasana Menjelang Sholat Jamaah di Masjid Jami' Buntet Pesantren

    Akhirnya, tak terasa sudah jam lima sore, matahari sudah bersiap kembali ke peraduan, warna keemasan pertanda senja menjelang habis, terlukis indah di langit Buntet, saya pamit pulang, membawa sejumlah kisah yang ingin saya share ke teman-teman, semoga ada manfa'atnya, salam.

    oleh Kiai Enha (Nabil Harun) Haem, da'i sekaligus motivator, beliau juga pengasuh dari Pondok Pesantren Motivasi Indonesia dan Istana Yatim Nurul Mukhlisin Bekasi
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    4 comments:

    1. bener bener artikel yang luar biasa

      ReplyDelete
    2. bener bener artikel yang luar biasa

      ReplyDelete
    3. Matur nuwun sanget kg atas segala infonya semoga bs dadi pengeling, penerus lan pemotivasi amin
      #NKRI_santri

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Karomah Buntet Pesantren Rating: 5 Reviewed By: AriezQ ALq
    Scroll to Top