Transformasi Al-Qur'an Surat Al-Balad Ayat 11-16 pada Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis - Buntet Pesantren Transformasi Al-Qur'an Surat Al-Balad Ayat 11-16 pada Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, February 15, 2016

    Transformasi Al-Qur'an Surat Al-Balad Ayat 11-16 pada Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis

    (Kajian terhadap Cerpen Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan dan Pertolongan)
    Kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami (tengah)
    Navis tidak saja mengangkat tema-tema sosial dalam karya-karyanya sebagai sebuah kritik, tetapi karyanya itu juga menghubungkan masalah sosial tersebut dengan agama. Hal ini dilatarbelakangi karena daerah tempat dia lahir dan tinggal itu memiliki tradisi adat dan agama yang kuat. Dalam hal ini, tentu agama Islam dan adat Minang.
    Pada buku Sastra dan Agama karya Marwan Saridjo, ada satu bagian yang khusus membahas Robohnya Surau Kami. Ternyata di sana sedikit dikupas tentang hubungan Al-Quran Surat Al-Balad Ayat 11-16 dengan cerpen tersebut. Bagi saya, ini cukup menarik dan perlu dikaji lebih dalam lagi.
    Sinopsis
    Kumpulan cerpen karya Ali Akbar Navis itu diberi judul yang sama dengan cerpen pertama di buku tersebut, yakni Robohnya Surau Kami. Cerpen pertama ini dimulai dengan penggambaran lokasi surau.
    Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. maka kira-kira sekilometer dari pasa akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kana, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.[1]
    Setelah itu, pengarang mulai mengenalkan tokoh utama, yakni Haji Saleh. Di sini, Navis bercerita bahwa sebelumnya di surau itu pernah ada seorang kakek yang hidupnya hanya mengandalkan belas orang meski ia sendiri tidak mengharapkannya. Ia dikenal sebagai pengasah pisau dan gunting.
    “… Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa…”[2]
    “Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal…”[3]
    Cerpen ini mengisahkan tentang keputusasaan kakek yang bernama Haji Saleh, seorang ahli ibadah di surau, karena mendengar cerita atau Navis mengatakannya sebagai dongeng bualan Ajo Sidi yang seolah memojokkannya bakal masuk neraka karena hanya memikirkan diri sendiri saja, beribadah terus menerus tanpa memedulikan keluarganya.
    “Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir atin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala…”[4]
    Cerpen kedua berjudul Anak Kebanggaan. Sastrawan kelahiran 17 November 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat itu mengisahkan tentang seorang ayah bernama Ompi yang sangat memiliki harapan besar terhadap anaknya yang bernama Indra Budiman untuk menjadi seorang dokter. Ompi digambarkan tidak peduli dengan omongan orang lain. Padahal orang lain memberikan komentar dan kritik terhadap perilaku anaknya di Jakarta. Mereka yang tahu kehidupan anaknya seperti apa di sana. Namun karena harapannya yang besar terhadap anaknya itu dan sebelumnya Indra Budiman sempat mengirim rapor dengan nilai yang baik, ia menutup mata dan telinga terhadap orang lain yang mengkritik dan memberikan komentar terhadapnya. Malah, ia beranggapan orang-orang yang demikian itu iri terhadap anaknya.
    “Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidumpmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kiita sumpal mulut mereka yang jahat itu,” tulisnya dalam sepucuk surat.[5]
    Anaknya sendiri meski tidak langsung memberikan ucapan, tetapi melalui orang-orang yang membicarakannya, Indra Budiman itu memiliki citra yang negatif karena ternyata di sana ia berlaku tidak seperti yang Ompi harapkan. Jauh bahkan.
    Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang hharus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang dicapai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.[6]
    Di antara keduanya, ada sosok aku. Tokoh aku di sini berlaku baik karena membantu mengurusi Ompi saat ia menderita sakit yang berakibat hanya bisa tiduran saja.
    Semenjak itu, berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Aku sadar, bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya.[7]
    Cerpen ini beralur maju.
    Pertolongan sebagai cerpen terakhir yang dibahas dalam tulisan ini. Cerpen ini mengisahkan perjuangan seorang Sidin yang menjadi relawan pada kecelakaan kereta. Ia menolong korban tanpa pandang bulu. Awalnya ia hanya ingin melihat kecelakaan itu. Lalu karena ada yang meminta bantuannya, akhirnya ia turut menolong beberapa korban. Kemudian, ia setelah membantu memindahkan korban yang dianggap sebagai Mak Gadang, ia melanjutkan tugasnya lagi. Di dalam gerbong, dengan satu orang lain, ia mencoba mengeluarkan seorang gadis kecil. Tetapi orang Jepang malah memberi orang lain yang di sampingnya itu kampak. Dan kaki gadis itu dipotong dengan kampak oleh orang itu. Seketika setelah melihat kaki gadis tersebut terpisah dari badannya, ia jatuh terkulai dan mayat yang menumpuk di atasnya pun menimpanya.
    Setelah ia siuman, ia berjalan menuju perawat dengan maksud ingin menanyakan gadis kecil yang dipotong kakinya itu. Tetapi, ada orang yang tertawa menyeringai kepadanya. Ia ingat bahwa orang itu adalah orang yang membantunya di dalam gerbong. Seorang perawat pun akhirnya mengatakan bahwa orang yang diikat kaki dan tangannya itu adalah orang gila.
    Cerpen ini beralur maju, diawali dengan cerita Sidin yang berlari menuju tempat tragedi kecelakaan kereta itu. Kemudian Sidin turut membantu proses pengangkatan korban dari tempat kejadian. Lalu sampai akhirnya dia pingsan gegara melihat seorang gadis kecil yang dipotong kakinya. Sampai ia menyesal karena orang yang di sampingnya dalam membantu mengangkati korban itu adalah orang gila.
    Semua cerpen di atas berlatar Minangkabau. Pada cerpen terakhir, Anak Kebanggaan, digambarkan Indra Budiman dan beberapa warga sekampungnya tinggal di Jakarta. Tetapi cerpen tersebut menggambarkan suasana keadaan saat di Jakartanya.
    “Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti.”[8]
    Cerpen Penolong berlatar Lembah Anai.
    “Dalam berlari Sidin selalu ingat, bahwa ada kereta api jatuh di jembatan Lembah Anai. …”[9]
    Bahasa yang digunakan oleh pemimpin redaksi harian Semangat di Padang (1971-1982) pada kumpulan cerpen ini adalah meliputi bahasa daerah, yakni bahasa Minang dan bahasa Indonesia. Selain itu, karena cerpen-cerpen yang ditulis oleh penerima hadiah seni (1988) dan hadiah sastra (1992) dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga membahas kritik terhadap perilaku beragama sebagian penganutnya, maka bahasa agama banyak juga ditulis oleh dia, seperti surga, neraka, haji, Tuhan. Bahkan sampai nama yang digunakan pun menggunakan bahasa agama, seperi Saleh, Sidi dan Sidin.
    Sudut pandang yang diterapkan oleh pengarang yang pernah menjadi Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan di Bukittinggi (1952-1955) itu ada dua, yakni pada dua cerpen pertama, Robohnya Surau Kami dan Anak Kebanggaan, menggunakan orang pertama, aku, sedangkan pada cerpen terakhir, Pertolongan, Navis menerapkan sudut pandang orang ketiga, yakni penulis sebagai orang yang serba tahu.
    Meskipun bila kita kaji lebih dalam satu-persatu akan kita temukan tema yang berbeda, tapi di sini saya akan menggarisbawahi pada tema tentang pentingnya ibadah sosial. Ibadah sosial ini meliputi pentingnya berbagi dan saling mengingatkan tentang kesabaran dan kasih sayang. Tema ini diangkat salah satu alasannya adalah sebagai penyesuaian kajian dengan isi kandungan Al-Quran Surat Al-Balad ayat 11-16 itu. Antara keduanya ternyata memiliki hubungan yang cukup erat. Dari tema ini, kita akan dapat amanat bahwa berbagi dengan orang lain itu sangat penting dan harus dilakukan, seperti yang dilakukan oleh tokoh aku pada Ompi di Anak Kebanggaan dan tokoh Sidin pada Pertolongan. Kita jangan sampai melakoni apa yang dilakukan oleh Haji Saleh yang enggan melakukan kewajibannya untuk menghidupi keluarganya.
    Analisis
    Ibadah pada asalnya terbagi menjadi dua, yakni ibadah mahdlah dan ibadah ghairu mahdlah. Ibadah mahdlah adalah ibadah yang hubungannya langsung dengan Allah, seperti salat, puasa, dan haji. Ketiganya ini tidak ada hubungannya dengan makhluk lain. Semuanya ini murni hubungan pribadi antara seorang hamba secara individual, bukan komunal, dengan Allah Swt. Adapun ibadah ghairu mahdlah adalah ibadah yang tujuannya sama seperti ibadah mahdlah, yakni ke Allah swt. tetapi hubungannya melalui perantara makhluk lain, seperti zakat, sedekah, nafkah, dan semacamnya.
    Kakek pada cerpen Robohnya Surau Kami hanya mementingkan ibadah yang taalluqnya langsung kepada Allah saja. Dia melupakan kewajibannya selain itu, yakni ibadah ghairu mahdlah atau dalam konteks cerpen ini dan konteks saat ini, ibadah model demikian disebut juga ibadah sosial.
    Allah Swt. mengingatkan hamba-Nya untuk berbagi kepada orang-orang yang sedang tertimpa kesulitan, kesusahan, kelaparan, anak yatim yang memiliki kedekatan dengan kita dan orang-orang fakir miskin melalui Al-Quran Surat Al-Balad ayat 11-16, fala (i)qtahama al-aqabah, wa maa adraka ma al-aqabah, fakku raqabah, aw ith’amun fii yaumin dzi masghabah, yatiman dza maqrabah, aw miskinan dza matrabah. Meskipun ini hanya sebuah anjuran, tetapi efek sosialnya cukup besar dilakukan atau tidaknya.
    Allah swt. menyatakan dengan terang-terangan bahwa anjuran yang sudah disampaikan di atas itu adalah juga sebuah rintangan. Dia menggunakan kata aqabah pada ayat 11-12, falaa (i)qtahama al-aqabah (11) wa maa adraka ma al-aqabah (12), yang pada asalnya bermakna jalan yang sulit di gunung untuk melewatinya.[10] Begitu Imam As-Shawi memberikan penjelasan pada kata tersebut. Hal ini hampir senada dengan Warson Munawwir dalam kamusnya, Al-Munawwir. Kata aqabah di sana diartikan sebagai jalan di atas bukit dan halangan atau rintangan.[11]
    Pertanyaannya setelah membaca keterangan di atas adalah mengapa hal tersebut (berbagi dst.) dianggap sebagai rintangan? Imam al-Shawi menetapkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu bentuk dari mujahadatu an-nafs, jihad melawan diri sendiri dalam melakukan perkara-perkara ketaatan dan meninggalkan yang diharamkan.[12] Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda setelah memenangi perang, bahwa perang besar yang sesungguhnya baru akan dimulai, yakni perang melawan kehendak sendiri.
    Di sinilah Ajo Sidi mengkritik kakek yang kelihatannya seperti ahli ibadah itu. Kakek hanya memikirkan diri sendiri untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dengan jalan memperbanyak ibadah mahdlahnya. Padahal ada yang terlewat dari itu, yakni kewajibannya dalam memberi nafkah keluarganya. Di situ kakek belum bisa memerangi kehendak nafsunya (pribadinya) untuk memperoleh surga yang diidamkannya. Ia bahkan mengajak orang-orang untuk menghadap Tuhan guna mendapatkan haknya sebagai ahli ibadah yang hanya memikirkan Dia.
    Untuk melaksanakan ibadah itu tentu saja butuh tenaga. Tenaga itu bisa kita dapatkan dari makanan. Makanan dapat kita peroleh dengan cara membelinya dengan uang yang tentu hasil dari pekerjaan kita. Dari sini bisa kita ambil premis, orang yang tidak bekerja itu tidak bisa ibadah.
    Terlepas dari nanti bakal ibadah atau tidak, manusia itu butuh makan. Itu hal kodrati yang tidak bisa diubah. Bahkan seorang Nabi pun karena manusia seperti kita, tentu juga merasakan hal yang sama seperti kita, merasakan lapar. Pada cerpen Robohnya Surau Kami itu, kakek tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga istri dan anaknya teraniaya.
    “Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menupu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beibadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku meyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat. Halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”[13]
    Padahal, Allah telah memerintahkan kita untuk memberi makan kepada orang yang kelaparan dan kesusahan. Aqabah atau rintangan yang dimaksud dalam surat Al-Balad adalah memerdekakan budak, memberi makan kepada anak yatim dan orang miskin yang kesusahan. Di sini, Allah lebih menekankan kepada orang yang terdekat, yatiman dza maqrabah. Mengapa demikian? Karena Nabi pernah bersabda: “Sedekah kepada orang miskin itu (akan mendapatkan pahala) sedekah (saja) dan (sedekah) kepada sanak saudara (kerabat) itu (mendapatkan) dua (pahala), yakni (pahala) sedekah dan (menjaga) hubungan silaturahmi.[14] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
    Pada cerpen Anak Kebanggaan, tokoh aku mengurusi dan memotivasi Ompi yang sudah mulai berputus asa. Ia menceritakan hal-hal yang menyenangkan dari masa lalu dan masa yang akan datang. Bila kita tafsirkan ayat di atas secara kontekstual, ith’amun fii yaumin dzi masghabah akan berarti memberikan motivasi saat putus asa. Meskipun makna asalnya menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Dlahak dan Qatadah, masghabah itu bermakna sama dengan maja’ah, artinya kelaparan[15], sedangkan ith’am berarti memberi makan. Namun dalam konteks ini, ith’am dapat diartikan dengan memberi motivasi dan masghabah berarti saat berputus asa.
    Kontekstualisasi ayat tersebut juga dapat kita terapkan pada cerpen Pertolongan. Sidin memberikan pertolongan kepada siapa pun termasuk kepada Mak Gadang yang dikenal sebagai seorang pencatut dan lebih dikenal lagi sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang.
    “Sidin kenal nama Mak Gadang di kotanya. Dikenal pencatut. Tapi lebih terkenal sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang dan mendapat upah dengan menjualkan barang-barang curian milik Jepang langganannya itu. Dan Mak Gadang menjadi kaya karenanya.”[16]
    Pada cerpen ini, ith’am berarti memberikan pertolongan, sedangkan masghabah bermakna kecelakaan.
    Ayat al-Quran dapat dimaknai secara tekstual dan kontekstual. Bila kita lihat, ada kesamaan pada ketiga cerpen ini yang melandasi kontekstualisasi ayat tersebut. Pertama, objek yang diberi semuanya dalam keadaan kesusahan, yakni kelaparan, kecelakaan dan keputusasaan. Ketiganya butuh asupan, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Oleh karena itu, pemberian asupan yang harus dilakukan oleh Haji Saleh kepada keluarganya adalah berupa makanan sesuai dengan teks ayat di atas.
    Berbeda dengan Haji Saleh, aku dalam Anak Kebanggaan tidak memberikan makanan, karena Ompi dalam harta ia sangat berkecukupan, terbukti ia mampu membiayai Indra Budiman untuk sekolah kedokteran di Jakarta.
    “Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau akan disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidakl?”[17]
    Kutipan di atas sangat menggambarkan betapa Ompi adalah orang yang berkecukupan. Bahkan dia tergolong orang yang kaya. Ia tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak demi anaknya mendapatkan gelar seorang dokter.
    Aku memberikan asupan yang Ompi butuhkan, yakni motivasi, kata-kata yang membangunkan jiwanya dari keterpurukan dan keputusasaan karena kehilangan kabar tentang anaknya yang berada jauh darinya.
    Di samping itu secara samar-samar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali. Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut.[18]
    Sidin juga memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh korban kecelakaan itu, yakni pertolongan.
    Sesorang menyuruh Sidin ikut menggotong korban yang baru saja dikeluarkan dari gerbong-gerbong itu. Dengan beberapa orang ia mengangkatnya.[19]
    Saya tidak melihat Navis menulis Al-Quran Surat Al-Balad ayat 11-16 secara langsung atau eksplisit, tetapi kandungannya bisa kita dapatkan. Ia menguraikannya secara implisit. Ini terlepas ada kesengajaan atau tidak Navis menulis kandungan ayat-ayat tersebut, tetapi di sini ditemukan memiliki hubungan yang cukup kuat.
    Simpulan
    Kita tidak hanya diwajibkan untuk ibadah mahdlah. Apa artinya jika kita ibadah dengan begitu khusyuk tetapi saudara kita, tetangga kita, atau pun orang yang terdekat dengan kita tertindas, kelaparan, tidak terurus. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak hidup sendirian. Kita butuh orang lain dan orang lain pun demikian. Apalagi sebagai orang tua, tentu ada kewajiban menafkahi keluarganya. Meski ayat yang dikutip adalah ayat tentang anjuran, tetapi bila kontekstualisasikan dalam hal cerita Robohnya Surau Kami, bisa kita ambil pelajaran bahwa kita harus berbagi kepada orang terdekat, tidak boleh menelantarkannya. Tentu dengan tetap menjaga ibadah mahdlah kita, salat dan puasa kita tidak ditinggal.
    Kita juga perlu belajar dari tokoh aku yang rela mengurusi Ompi yang sedang kesusahan memikirkan nasib anaknya yang tidak jelas. Ia memotivasinya dengan menceritakan masa-masa lalu dan masa depan yang menyenangkan agar Ompi terus memiliki harapan hidup di tengah pesakitannya yang anggapan tokoh aku sendiri tak lama lagi hidupnya. Kita harus bisa menjadi seperti tokoh aku dalam cerpen Anak Kebanggan yang malah rela bersedia mengurusi Ompi.
    Kita juga harus bisa menjadi seperti tokoh Sidin dalam cerpen Pertolongan. Dia membantu menolong korban-korban kecelakaan kereta. Ia bahkan mengutuki sendiri setelah meminum kopi yang diberikan orang lain untuk sendiri tanpa memedulikan korban yang tengah mengerang.
    Ali Akbar Navis mentransformasikan Al-Quran Surat Al-Balad ayat 11-16 dengan cara implisit. Ia tidak mengutipnya secara langsung, tetapi kandungan itu ada pada tiga cerpennya itu.
    Pustaka
    Al-Dimasyqi, Imaduddin bin Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim Juz 4. Semarang: Toha Putra.
    Al-Shawi, Ahmad. Hasyiyah Al-Allamah Al-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain Juz 4. Semarang: Toha Putra.
    Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Lengkap. Yogyakarta: Pustaka Progresif. 1997. Cetakan Keempat Belas. Edisi kedua.
    Navis, A.A. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2010. Cetakan Keenam Belas.

    Muhammad Syakir Niamillah
    Anggota FORSILA BPC Jakarta Raya
    Saat ini, dia tengah meneruskan studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada jurusan
    Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.




    [1] A.A. Navis, Robohnya Surau Kami, (Jakarta: Gramedia Putaka Utama, 2010), cetakan keenam belas, h. 1
    [2] Ibid, h. 2
    [3] Ibid
    [4] Op Cit, A.A. Navis, h. 5
    [5] Ibid, h. 17-18
    [6] Op Cit, A.A. Navis, h. 17
    [7] Ibid, h. 23
    [8] Ibid, h. 17
    [9] Op Cit¸ A.A. Navis, h. 113
    [10] Ahmad al-Shawi, Tafsir Al-Shawi Juz Empat (Semarang: Toha Putra), h. 220
    [11] Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997), h. 952
    [12] Op Cit, Ahmad al-Shawi
    [13] A.A. Navis, Robohnya Surau Kami, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), Cet. Keenam belas, h. 11-12.
    [14] Imaduddin ibn Katsir al-Dimasyqi, Tafsir al-Quran al-‘Adzim Juz 4, (Semarang: Toha Putra), h. 514
    [15] Ibid
    [16] Op Cit, A.A. Navis, h. 117
    [17] Op Cit, A.A. Navis, h. 17
    [18] ibid, h. 23
    [19] Ibid, h. 116
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Transformasi Al-Qur'an Surat Al-Balad Ayat 11-16 pada Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis Rating: 5 Reviewed By: Tim Redaksi Web Buntet Pesantren
    Scroll to Top