• Latest News

    Friday, January 15, 2016

    HARI-HARI TERAKHIR SANG PENDEKAR AL-QUR’AN - Mengenang Almarhum Almaghfurlah KH. Faqih Ibrahim

    KH Adib Rofi’uddin dalam pidato pelepasan atas nama keluarga berkata tak akan cukup waktunya jika diterangkan secara terperinci tentang kebaikan, jasa, dan pengabdian KH Faqih di Buntet Pesantren Cirebon. Padatnya Masjid Jami’ Buntet Pesantren pada saat prosesi sholat jenazah hingga memenuhi pelataran serta iringan pengantar jenazah hingga ke Maqbaroh Gajah Ngambung Buntet Pesantren yang berduyun-duyun panjang merupakan bukti bahwa wafatnya Kiai Faqih adalah sebuah kehilangan besar bagi keluarga besar Pondok Buntet Pesantren.

    Sejak tahun 2004, beliau diberi cobaan sakit oleh Allah SWT hingga membuatnya sulit untuk berjalan dan akhirnya menggunakan kursi roda. Namun, dalam keadaan demikian, dengan sabar dan keteguhan hati yang luar biasa, serta dibantu oleh para santri ndalemnya, beliau tetap terus istiqomah mengajarkan Al-Qur’an kepada santri-santrinya setiap hari ba’da shubuh dan ba’da ashar; Sebuah rutinitas yang sudah dijalani beliau semenjak beliau masih muda; sudah ribuan santri yang mendapatkan Ijazah Al-Qur’an dari beliau dengan sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW sehingga beliau dikenal dengan Kiai yang menguasai Al-Qur’an secara mendalam. Beliau adalah murid langsung dari KH Murtadlo bin KH Said, seorang Ulama Al-Qur’an yang sangat disegani di zamannya. 

    Beliau dikenal dengan sikap tegas dan pemberaninya. Pada masa orde baru, beliau adalah pemuda yang gagah berani melawan intimidasi dan intervensi penguasa kedalam pesantren, beliau juga dikenal sebagai aktifis gerakan di wilayah Cirebon terutama bersama basis PMII, sebuah organisasi yang dirintis langsung oleh beliau dan pernah dipimpin beliau. Pada saat itu pula, beliau pernah ditawari posisi sebagai komandan Banser NU pusat, hanya saja Kiai-Kiai di Buntet tak menyutujuinya karena keilmuan beliau sangat dibutuhkan saat itu untuk mengajar Al-Qur’an. Selain pengabdian yang sudah disebutkan di atas, beliau juga mengajar di madrasah hingga mencapai puncaknya ketika beliau mengemban amanah sebagai Kepala MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren.

    Secara silsilah keluarga, Kiai Faqih merupakan keturunan ketiga dari Mbah Wali Kriyan, seorang waliyullah dan guru dari para guru di tanah Cirebon. Nasab beliau hingga ke Mbah Wali Kriyan adalah sebagai berikut Faqih Ibrahim bin Abdurrahman Malibari bin Abdullah bin Muhammad Anwaruddin (Kriyan); Kiai Faqih merupakan adik dari Abah Hasan (KH Hasanuddin Kriyani). Dari arah ibunya, Nyai Nci, Kiai Faqih merupakan cucu dari KH Abdul Jamil bin KH Mutaad , Sesepuh ketiga Pondok Buntet Pesantren.

    Berbagai macam pengobatan medis maupun alternatif sudah di-ikhtiyari demi kesembuhan beliau, bahkan secara medis beliau dinyatakan tidak memiliki penyakit apa-apa, wallahu a’lam. Meski dalam keadaan sakit, jika ditanya sanak saudara, santri maupun para tamu, beliau menjawab dengan tegas : “Saya sehat-sehat saja! Tidak apa-apa…”. Beliau tak pernah mengeluh sedikitpun tentang rasa sakit yang dideritanya. Hingga satu bulan menjelang wafatnya, beliau semakin menurun kesehatannya, beberapa kali dipanggilkan dokter, namun dalam waktu itu pula aktifitas beliau untuk mengaji Al-Qur’an bersama santri-santrinya tak pernah putus, bahkan satu hari menjelang wafatnya / beberapa saat sebelum dirujuk ke rumah sakit beliau masih mengajar Al Qur’an selepas shubuh.

    Abah Hasan menuturkan bahwa satu hari menjelang wafatnya, badan Kiai Faqih sangat bercahaya, memancarkan sinar yang terang sehingga Abah Hasan sudah memiliki firasat bahwa Kiai Faqih akan segera dipanggil kehadapan-Nya, tetapi prasangka ini beliau simpan saja dalam hatinya. Para santri dan keluarga yang mengiringi beliau saat itu juga menyaksikan betapa beliau bercahaya sedemikian terang. Belum genap satu hari dirawat di RSUD Gunung Jati, pada tanggal 14 Januari 2016 sekitar pukul 13.00, beliau akhirnya dipanggil memenuhi panggilan rindu sang Kuasa, pada usia 69 tahun. Prosesnya begitu cepat, bahkan pada saat itu beliau masih berbincang-bincang dengan keluarga dan santrinya.

    Kemudian pada prosesi Talqin , oleh KH Ahmad Mursyidin, beliau berkata bahwa “saya malu untuk men-talqin Kiai Faqih, beliau adalah ahli Al-Qur’an, tak pantas saya men-talqin-nya, beliau tidak membutuhkan talqin karena beliau sudah ahlul jannah bighoiri hisab, tapi karena keluarga memaksa akhirnya tetap saya laksanakan”.

    Bukan hanya umat manusia yang bersedih atas wafatnya Kiai Faqih, alam pun menunjukkan kesedihannya. Tepat beberapa saat setelah prosesi pemakaman selesai, Buntet Pesantren diguyur hujan, seolah langit Buntet turut menangisi kehilangan salah satu ulamanya, putra terbaiknya, meskipun selama beberapa minggu terakhir belum ada hujan di wilayah Buntet.

    Selamat jalan wahai guru dan orang tua kami,,,
    Selamat menghadap Allah SWT wahai Sang Pendekar Al-Qur’an,,,
    Doakan kami,,,
    Agar terus berjuang meneruskan perjuangan Kiai dijalan kebenaran,,,
    إنا لله وإنا إليه راجعون
    اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بماء وثلج وبرد ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس وأبدله دارا خيرا من داره وأهلا خيرا من أهله وقه فتنة القبر وعذاب النار اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم آمين يا رب العالمين

    Ditulis oleh keponakan beliau : M Abdullah Syukri Hasanuddin Kriyani
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    4 comments:

    1. Saya tidak terlalu banyak tahu tentang beliau, tp yang saya tahu dan saya lihat ketika mondok adalah kesederhanaan beliau yang beliau contohkan pada santrinya,, saya juga banyak mendengar kisah beliau dari sahabat saya yang masih kerabat beliau, Kang Tami, Kang Ahmad Rofahan, Dan Kang Ardisela (alm). beliau salah satu ulama yang ahli dalam al-qur'an. kini indonesia kembali kehilangan ulama yang sholih, rendah hati dan luas ilmu, semoga apa yang beliau amalkan pada santrinya dapat diamalkan pula oleh para santri dan alumni.
      اللّهم اغفِر له وارحَمه , وعافِه , واعفُ عنه , وأكرِم نُزُلَه , ووسِّع مُدخَله, واغسِله بالماء والثَّلج والبَرَد , ونقِّه من الخطايا كما يُنقّى الثَّوبَ الأبيضَ من الدَّنَس... امين الفاتحة...

      ReplyDelete
    2. Masih tidak percaya bahwa beliau telah tiada. Kau wafat sesungguhnya kau hidup dihati kami semua...ilmulah yg mengisahkan keabadian itu. Ilmu yg manfaat & berkah atas segala doa. Tenang selalu wahai guruku, wahai penjaga al_quran.

      ReplyDelete
    3. Kyai kami , guru kami serta orang tua kami KH. Faqih Ibrahim.. kami sangat kehilangan beliau, beliau selalu membimbing kami dan memberikan nasehat2 yg tegas dan yg benar...kami selalu mengingat semua ilmu bermanfaat oleh beliau.. kini beliau telah tenang di surga Nya...
      terakhir sowan ke beliau haul 2015, padahal beliau yg tak pernah mengeluh dengan sakitnya, tetapi saat haul 2015 mengeluh dengan sakitnya beliau berkata "capek dgn sakitnya yg tak kunjung sembuh sdh lama...mungkin itu adalah pertanda beliau sdh tdk ada di haul tahun 2016...ya Allah ya Rabb berikan beliau tempat paling terindah di surga Mu...

      ReplyDelete
      Replies
      1. masih teringat ketika mondok 86-89 Saya adalah teman diskusi beliAu di asbes sampai larut dengan berbagai tema, rindu dengan tawanya dan wawasan ilmunya, selamat. jalan kang faqih semoga Allah memuliakn beliau dengan rahmatnya. Saya bukhori afroni dijakarta

        Delete

    Item Reviewed: HARI-HARI TERAKHIR SANG PENDEKAR AL-QUR’AN - Mengenang Almarhum Almaghfurlah KH. Faqih Ibrahim Rating: 5 Reviewed By: AriezQ ALq
    Scroll to Top