Gudang Tua Yai - Buntet Pesantren Gudang Tua Yai - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, December 2, 2015

    Gudang Tua Yai

    1
    Sebuah momen ketika dirimu sampai pada titik menduga-duga, apa kiranya makna eksistensimu di dunia. Tak berusaha sekuat tenaga sebetulnya, tetapi mulai mencoba memikirkannya di waktu senggangmu. Di sela detik-detik membosankan mengantre membayar belanjaan, di antara detik-detik setelah bangun tidur dan sebelum mandi, dalam kelas yang membosankan, dan lain-lain dan lain-lain. Dan itu berlangsung sekarang. Ya “sekarang”. Sekarang di saat aku tengah terbaring menatap langit-langit kamarku, memandangi hiasan bintang-bintang yang sengaja kugantung di sana. Mereka berpendar dalam gelap.

    Ini memang tak mainstream bagi orang seusiaku untuk memikirkan hal semacam itu. Umumnya para gadis sibuk dengan dunia percintaan di masa-masa puber mereka. Aku ini 16 tahun, gadis normal yang menjalani hari-hari dengan cara berpikir sedikit aneh. Cukup normal, karena aku mengalami menarche dan tanda-tanda puber lainnya. Pintar? Entah. Aku unggul di semua mata pelajaran di sekolah, tetapi aku lebih suka menganggap diriku sendiri dengan sebutan cerdas atau brilian. Ha, okey ini narsis. Tetapi anggapan itu bukan tanpa dasar, karena aku sama sekali tidak pernah mengikuti kursus atau menyeriusi suatu subjek pelajaran tertentu di sekolah. Aku respek pada orang-orang yang sanggup menjalani rutinitas atau apapun dengan sungguh-sungguh karena aku tak pernah bisa melakukannya.

    Aku tak punya masalah dengan laki-laki. Mereka menyukaiku, tak satu. Dan aku tahu sebagian besar dari mereka tak cukup punya nyali untuk sekedar mencoba mendekatiku dan menyatakan perasaannya. Gayaku yang cuek dan vokal di kelas membuat ego mereka sebagai pejantan merasa terusik. Hanya mereka yang betul-betul berjiwa alpha yang berani menggodaku. Dan dengar ini, aku jauh mencintai diriku sendiri dibanding siapapun. Semacam terobsesi terhadap diri sendiri.

    Dan suatu malam, aku mengalami fenomena aneh...
    Aku betul-betul merasa “tak ada”. Lebih tepatnya tiada arti. Seakan aku terlahir untuk mati. Aku ada untuk apa? Ini absurd. Aku muslim. Percaya Tuhan? Ya, mungkin. Aku dilahirkan di tengah keluarga yang tak begitu religius. Ibuku seorang pensiunan model yang sekarang sibuk dengan bisnis salonnya. Ayahku pengusaha yang berkecimpung di segala lini kebutuhan. Saat ini ia tengah sibuk-sibuknya mengurusi bisnis travel yang dirintis beberapa tahun lalu. Kami selalu berusaha untuk makan bersama di rumah sesibuk apapun urusan kami. Atau mereka, karena aku tak pernah sibuk.

    Lalu beberapa minggu setelah itu, ada kejutan menyenangkan. Yangti – sebutanku untuk nenek, ini kependekan dari Eyang Puteri --  menelepon ayah.

    “Keke gimana kabarnya, nak? Pasti sudah gede ya”.

    Ayah berusaha menelan sarapannya cepat-cepat dan menjawab pertanyaan Yangti dengan nada ceria.

    “Iya, bu. Pinter dia di sekolah. Tapi males banget. Masa berangkat ke sekolah harus selalu berantem sama penjaga gerbang”.

    Mereka melanjutkan obrolan seputar diriku, dan aku berusaha tidak mendengarnya. Hingga obrolan menjadi berubah ke arah mengerikan.

    “Tolong difikirkan, Randi. Anakmu sudah gadis, pergaulan di ibukota sudah tak terbayangkan. Dan pesantren Madinatul Ilmi tak begitu jauh dari rumah ibu. Bisa selalu dijenguk”.

    APAAA??!!! Teriakku dalam hati
    ~~~~~~~

    Aku menghilang dari peredaran. Seperti lenyap dari dunia. Tak satupun sahabat, teman, teman musiman, musuh, pacar, gebetan, atau apalah sebutannya yang kuberi tahu tentang keberangkatanku ke pesantren rujukan Yangti. Surat pindahan sudah beres diurus Ibu, seakan tak ada bagian yang bisa kukerjakan untuk terlihat seperti ingin ”pindahan” begitu.

    Ayah dan Ibu tak menginap. Begitu sampai di pesantren, Yangti sungkem dengan Pak Kiai dan Ibu Nyai pondokan untuk menitipkanku. Aku celingak-celinguk memperhatikan keadaan pesantren yang begitu ramai, sesak akan manusia bersarung. Ruang tamu Pak Yai dihiasi rak buku super masif yang penuh dimuati kitab-kitab berbahasa Arab. Apa yang kurasakan? Asing. Anehnya, rasa itu berdampingan dengan perasaan damai yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

    Senyum Pak Yai adem sekali. Tiap memandangnya, seperti mendapat guyuran air hujan di ubun-ubun. Ibu Nyai pun demikian.

    “Jadi Keke, yang betah di sini. Pak Yai ini Bapakmu...”. Ujar beliau. Aku tersenyum. Tulus.
    ~~~~~~~

    2
    Banyak, bahkan banyak sekali yang berubah dari kehidupanku. Tak hanya soal aktivitas, tetapi juga penampilan, pengetahuan, spiritual, emosional, bahkan cara pandangku akan segala sesuatu. Singkat kata, duniaku berubah 1800. Aku banyak belajar hal baru di sini. Ini perubahan yang menyenangkan.

    Aku antusias pada tiap pelajaran di pesantren ini. Mulai dari Fiqih, Nahwu, Shorof, Hadits, Tarikh, dan lain sebagainya. Di atas semua itu, aku menaruh hati pada pelajaran Tarikh. Ini tentang sejarah Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW. Sekedar informasi, aku pecinta sejarah sejak dulu. Rak buku kamarku kebanyakan merupakan buku-buku sejarah dan sastra Eropa. Sejarah Islam merupakan hal baru dan sangat menarik bagiku.

    Suatu pagi di hari jum’at, hari di mana para santri berlibur, aku sedang tenggelam di dalam buku karya Paulo Freire, "Pendidikan Bagi Kaum Tertindas". Ini sebetulnya tak terlalu pagi. Jam Tangan digitalku menunjukkan angka 09:12. Santri yang lain menikmati libur paginya dengan tertidur pulas. Sebagian yang lain menyendiri, menghafal nadzoman Alfiyah Ibnu Malik atau ayat Al-Qur’an, Aku sendiri melancarkan hafalan wajib dirosah hanya pada hari aktif. Hari libur adalah hari yang ku khususkan untuk mencari “jembar-jembar”.

    “Niku Sinten nggeh?”

    Suara yang tak asing. Oalah rupanya Ibu Nyai menyadari keberadaanku yang sedikit menyempil di pintu belakang asrama puteri. Aku membetulkan posisi kerudungku dan menyembunyikan buku di belakang punggung.

    “Keke, bu”.

    “Oalah, Keke toh. Coba ke sini, Ke. Bantu Ibu beres-beres gudang”.

    “Enggih, Bu”.

    Beginilah damainya pesantren. Santri dididik untuk punya tatakrama terhadap orang yang lebih tua. Lebih dari itu, kami belajar berempati kepada semua. Ngaji rasa istilahnya.

    Berdua, kami membereskan dan membersihkan gudang. Memposisikan benda-benda tua dan mengeliminasi yang dikiranya sudah tak dibutuhkan. Ibu Nyai begitu anggun, bersahaja. Ia lembut tapi digdaya.

    Tak terasa, adzan dzuhur berkumandang. Tiga jam kami bergumul dengan benda-benda tua berdebu hingga bercucuran keringat. Ibu Nyai menyuguhkan es degan sebagai penghilang dahaga.

    “Sudah cukup bersih gudangnya, Ke. Terimakasih ya sudah membantu Ibu di hari liburmu ini. Itu buku-buku tua tolong kamu bawa saja ke gerbang belakang asrama, nanti juga dikilo sama bibi”.

    “Enggih, Bu”.

    Selepas shalat dzuhur, aku membawa tumpukan buku tua itu ke gerbang belakang. Seluruhnya, kecuali satu buku tua usang. Kuselipkan di bawah ketiakku, entah punya siapa. Buku ini menarik sekali karena sudah kubaca sekilas di gudang tadi. Ini tulisan laki-laki. Tak ada petunjuk sebetulnya, hanya firasat kuat.
    ~~~~~~~

    “Ini loh, mbak Keke. Susu murni dari mas Abyan. Masa aku terus yang minum tiap malem”.

    Teman sekamarku, Sarah, bersungut-sungut. Ia sebagai mak comblang merasa tak enak hati pada para santri putera yang berusaha mendekatiku. Tak ada respon apapun yang mereka terima.

    “Santai. Minum sajalah. Kalau ada kematnya kan kamu yang kena, Sar”. Ujarku.

    Kami berdua ngakak bersama. Ternyata aku belum tertarik sama sekali untuk menjalin hubungan dengan siapapun di sini. Sebagian dari mereka memang unggul di pengajian, tetapi belum sreg saja.

    Malam dan siangku malah disibukkan dengan menyelami buku tua yang kutemukan di gudang Ibu Nyai. Ini buku diari. Penulis banyak mengungkapkan perasaan maupun pengalamannya di sini. Uniknya, buku ini juga dilengkapi info-info dan kliping yang rupanya penting bagi si penulis. Banyak info tentang kejayaan Bani Abbasiyah dan pemimpin Islam yang tercatat dalam sejarah. Nama-nama sufi dan kisah-kisahnya yang menyentuh hati. Pemiliknya pasti cerdas sekali, gumamku.

    Sebuah lembaran memperlihatkan puisi si penulis tentang dirinya. Rupanya ia marah akan sesuatu.

    Apa aku ini...
    Tak berilmu, tak punya suatu apa untuk dibanggakan.
    Lemah, kecil, rapuh.
    Apa aku ini...
    Tak pantas dianggap, tak usah dipandang.
    Aku ini apa...
    Aku santri. Yang punya mimpi.
    Maria, sudah pilih saja dia.
    Aku memilih Makkah.
    7 September 2012

    Di lembaran lain bahkan ada sketsa wajah wanita berkerudung. Di bawahnya tertulis “Maria Danurdara”.
    ~~~~~~~

    3
    Bulan demi bulan berlalu. Waktu melesat seperti anak panah. Aku tetap berkutat dengan buku tua itu. Bahkan, ajaibnya, aku menaruh rasa kagum dan ketertarikan pada sosok misterius penulis buku ini. Siapa kiranya ia? Siapa si Maria ini, yang dengan kurang ajar telah berhasil membuat si penulis marah kepada dirinya sendiri? Jujur, aku cemburu. Memang aneh tapi nyata. Ini adalah pengalaman pertamaku menaruh perasaan kepada orang yang bahkan belum pernah kutemui.

    Seminggu terakhir Madinatul Ilmi tengah hiruk-pikuk dengan euforia pernikahan puteri pertama Pak Yai, namanya Ning Raudoh. Mbak Ning dipinang oleh putera Kiai dari Jawa Timur. Kabarnya, pernikahan besar-besaran telah dipersiapkan oleh kedua belah pihak keluarga. Seluruh sanak saudara keluarga besar Pak Yai sengaja hadir dari jauh-jauh hari.

    Santri diberi tugas piket untuk ikut bantu-bantu dalam proses resepsi pernikahan Mbak Ning Raudoh. Meski begitu, aku tak henti menggeluti buku tua penuh misteri itu. Hal yang paling membuatku penasaran adalah aksara jawa yang terukir di belakang buku. Si Penulis benar-benar multi talenta, Ia mahir menulis aksara Jawa. Apa ya ini?

    Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pernikahan Mbak Ning sungguh meriah. Pada hari H aku ditugaskan menjaga prasmanan.

    “Loh, itu siapa ya, Sar?”

    Tanyaku penasaran, menunjuk ke arah sosok pemuda dengan kemeja abu-abu berpeci rapi.

    “Mbak Keke enggak kenal, toh? Dia putera Pak Yai yang sedang bersekolah di Makkah. Namanya Gus Muhammad. Ganteng ya, mbak”.

    Sarah menjawab antusias. Aku angguk-angguk tanda mencerna jawabannya.

    “Si Gus ini tadinya dijodohkan dengan keponakan Ibu Nyai, Mbak Maryam namanya. Tetapi Mbak Maryam malah menerima pinangan lelaki lain. Gak tau deh, bagaimana kelajutan ceritanya”.

    Sarah menambahkan kisahnya tanpa aba-aba. Anehnya, aku seperti mendapat penerangan entah dari mana. Ku keluarkan buku tua yang selalu ku bawa dalam kantong bajuku.

    “Sar, setahuku kamu bisa membaca huruf jawa katanya. Ini apa ya?”
    Sarah mengerutkan kening, berusaha mengeja susunan aksara jawa yang selama ini kusembunyikan.

    “Muhammad Mikail???”

    Sarah bertanya-tanya. Aku tersenyum riang, serasa tersambar petir tetapi gembira mendapat tantangan tak terduga.

    “Ini dia!”


    Cerita Pendek ini karya dari Sekar Aisya, warga Buntet Pesantren yang kebetulan pada hari ini tengah berulang tahun
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 comments:

    Item Reviewed: Gudang Tua Yai Rating: 5 Reviewed By: AriezQ ALq
    Scroll to Top