Kenapa Harus Kitab Kuning? Tidak Langsung Al-Qur'an dan Sunnah Saja - Buntet Pesantren Kenapa Harus Kitab Kuning? Tidak Langsung Al-Qur'an dan Sunnah Saja - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, November 9, 2015

    Kenapa Harus Kitab Kuning? Tidak Langsung Al-Qur'an dan Sunnah Saja

    Sebenarnya judul yang lebih tepat seharusnya ''Kenapa Harus Bermadzhab dan Taqlid Kepada Ulama?'' karena yang dimaksud dengan menggunakan kitab kuning ialah ikut salah satu Madzhab dalam arti taqlid kepada Ulama. Mari kita ulas kenapa kita harus Taqlid dan bermadzhab.

    Fenomena penolakan sebagian kalangan terhadap konsep Taqlid untuk kaum awam menimbulkan polemik bagi ummat Islam, terutama bagi orang seperti kita yang tiada memiliki kemampuan untuk memahami agama langsung dari sumbernya yakni al qur’an dan as sunnah(Hadits).

    Disamping itu keengganan untuk bermadzhab (baca ; Taqlid) telah serta merta membangkitkan semangat sebagian ummat islam untuk beristinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya, yakni al qur’an dan as sunnah) tanpa disertai sarana yang memadahi. Dan akibatnya dapat kita rasakan, betapa spirit agama yang semestinya adalah “Rahmatan Lil ‘Alamiin” berubah menjadi “Fitnah Perpecahan” diantara sesama ummat islam.


    Oleh karenanya sebelum kita melepaskan diri dari mata rantai bermadzhab (Taqlid) sebaiknya kita bercermin diri setidaknya tentang beberapa hal :

    Pertama : ADAKAH KITA TELAH MEMAHAMI BAHASA ARAB DENGAN BENAR ?
    Memahami bahasa arab dengan benar adalah sarana pertama yang mesti kita kuasai, mengingat dua sumber utama dalam islam yakni al qur’an dan as sunnah yang notabene menggunakan Berbahasa Arab dengan mutu yang sangat tinggi. Ilmu yang mesti kita kuasai dalam bidang ini setidaknya meliputi Gramatika Arab (Nahwu-Shorof), Sastra Arab /Balaghoh (Badi’, Ma’ani, Bayan), Logika Bahasa (Manthiq) Sejarah Bahasa, Mufrodat, dst... Hal ini penting guna meminimalisir kesalahan dalam mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara Harfiyah (Tekstual), juga untuk mengidentifikasi nash-nash yang bersifat ‘Am, Khosh, berlaku Hakiki, Majazi dst...

    Adalah hal yang naif jika kita berani mengatakan “Halal-Haram, Sah-Bathil, Shohih-‘Alil” hanya berdasar pemahaman dari terjemah al qur’an atau as sunnah. Sebagai ilustrasi sederhan berikut kami kutipkan peran pemahaman bahasa arab yang baik dan benar dalam memahami al qur’an dan as sunnah :
    Contoh Fungsi Gramatika Arab
    Firman Alloh yang menjelaskan tata cara berwudhu :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ


    “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)

    Coba anda perhatikan kalimat وَاَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dalam firman Alloh diatas, dimana kata tsb dibaca Nashob (dibaca Fathah pada huruf lam) padahal kata tersebut lebih dekat dengan kata بِرُءُوسِكُمْ (kepala kalian)yang dibaca Jar (dibaca kasroh pada huruf Ro’) dengan konsekwensi makna sebagai berikut :


    a. Jika kata وَاَرْجُلِكُمْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Jar (kasroh) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Mengusap bukan Membasuh, hal ini disebabkan kata وَاَرْجُلِكُمْ disambung dengan kata بِرُءُوسِكُمْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah وَامْسَحُوا (dan Usaplah)

    b. Jika kata وَاَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dibaca nashab (fathah) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Membasuh bukan Mengusap, hal ini disebabkan kata وَاَرْجُلَكُمْ disambung dengan kata وُجُوهَكُمْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah فَاغْسِلُوا (Basuhlah)


    Coba anda perhatikan: betapa dengan sedikit perbedaan, berimplikasi makna dan kewajiban yang berbeda. Dimana ketika kata وَاَرْجُلَكُمْ dibaca fathah/Nashab maka kewajibannya adalah Membasuh, sedang jika kata وَاَرْجُلِكُمْ dibaca Kasroh/Jarr, maka kewajibannya adalah Mengusap. Adakah hal ini kita dapati dari al qur’an terjemah ?....

    Contoh Fungsi Balaghoh/Sastra Arab
    Masih dalam tema ayat diatas, coba anda perhatikan kata إِذَا قُمْتُمْ dengan menggunakan Fiil Madhi (kata kerja masa lampau) yang jika dialih bahasakan secara harfiyah memberi makna : “Apabila kalian telah berdiri /menjalankan”... sedang yang dimaksud adalah sebelum sholat. Inilah yang dalam pelajaran sastra arab disebut dengan “Ithlaqul Madhii Wa Uridal Mustaqbal”


    Contoh Fungsi Manthiq
    Diantara fungsi “Manthiq”/Logika Bahasa dalam konteks ayat diatas adalah guna men-Tashowwur-kan (menjelaskan dengan makna yang Jami’ dan Mani’) dari masing-masing kata dalam ayat diatas, misal yang dimaksud dengan “Yad” (tangan) adakah ia adalah “Tangan” dalam bahasa kita? “Wajah” seberapakah daerah yang masuk kategori “Wajah”? dan “Ru’us” (kepala), Membasuh, Mengusap, dst.... adakah semuanya dapat kita definisikan dengan kamus bahasa indonesia? Sedang al qur’an menggunakan bahasa arab dengan mutu paling tinggi ?


    Kedua : SUDAHKAH ANDA MENGHAFAL AL QUR’AN (Seluruhnya) DAN JUGA SEKURANG-KURANGNYA SERATUS RIBU HADITS ?
    Syarat kedua diatas sangatlah diperlukan karena dengan terpenuhunya syarat tersebut akan tergambar semua ayat dan hadits terkait jika anda hendak memutuskan suatu perkara, dengan demikian keputusan/pendapat anda akan terhindar dari bertabrakan dengan nash-nash yang lain.


    Sebagai ilusrtrasi sederhana kita gunakan ayat ayat diatas dengan terjemah sbb : “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)

    Jika kita memahami hanya dari ayat tersebut, maka akan kita dapati hukum wajibnya berwudhu adalah bagi setiap orang yang hendak melaksanakan sholat, baik ia orang yang masih dalam keadaan suci maupun berhadats. mengingat keumuman perintah pada ayat diatas yang ditujukan pada setiap orang yang hendak melaksanakan sholat.

    Syarat kedua tsb, juga berguna untuk menghindarkan anda menempatkan dalil bukan pada tempatnya, misal menempatkan ayat-ayat yang sejatinya untuk orang-orang kafir namun anda hantamkan untuk orang-orang islam. Bukankah Abdulloh Ibn Umar –rodhiyallohu ‘anhu- pernah berkata, ketika beliau ditanya tentang tanda-tanda kaum Khowarij ?

    وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ وَقَالَ إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ


    Dan adalah Ibnu Umar, ia memandang mereka (Khowarij) sebagai seburuk-buruk makhluk Alloh, dan ia berkata : “Mereka (Khowarij) berkata tentang ayat-ayat yang (sejatinya) turun terhadap orang-orang kafir, mereka timpahkan ayat tersebut untuk orang-orang beriman”. (HR. Al Bukhori, Bab Qotlil Khowaarij)

    Ketiga : SUDAHKAH ANDA MENGUASAI ILMU-ILMU PENDUKUNG YANG LAIN GUNA MEMAHAMI AL QUR’AN DAN AS SUNNAH ?

    Perangkat lain yang mesti anda kuasai dalam menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah yang memang luas dan dalamnya melebihi luas dan dalamnya samudera, diantaranya adalah ; - anda harus mengetahui “Asbaabun Nuzul” dari setiap ayat dan juga “Asbaabul Wuruud” dari setiap hadits, hal ini penting agar anda mampu menempatkan dalil-dalil sesuai porsinya dan mampu membedakan dalil-dalil yang “Nasikh” (Pengganti/penyalin) dari dalil-dalil yang “Mansukh” (diganti/disalin)


    - anda juga harus menguasai sekurang-kurangnya “Qiro’ah Sab’ah” dalam ilmu qur’an, mengingat akan Naif rasanya seorang “Calon Mujtahid” melafadzkan al qur’an tidak dengan pengucapan yang fashih.
    Disamping itu anda juga harus menguasai ilmu-ilmu pendukung guna memahami As Sunnah, seperti Mushtholah Hadits, Jarh Wat Ta’dil, Taroojim, dst... hai ini penting setidaknya agar anda tidak berhukum dengan hadits yang lemah dengan menabrak hadits yang shohih.


    Keempat : SUDAHKAH ANDA MENGUASAI KAIDAH BER-ISTINBATH DARI PARA IMAM MUJTAHID ?

    Syarat keempat diatas juga sangat penting setidaknya guna mengetahui cara mensikapi nash-nash yang Mujmal, Mubayyan, ‘Am, Khosh, dan cara men-Jami’-kan (mencari titik temu) jika terdapat nash-nash yang dzahirnya Mukholafah (berselisih) atau Ta’aarudh (bertentangan).
    Sebagai ilustrasi sederhana kami kutipkan Firman Alloh berikut :
    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ


    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqoroh : 62)
    Sepintas ayat diatas memberi pemahaman adanya peluang yang sama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, untuk mendapat pahala disisi Alloh atas kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga seakan ayat tsb menyatakan bahwa orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, bisa masuk sorga. Adakah kenyataannya memang demikian ? sedang dalam ayat lain Alloh berfirman :
    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ


    “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Alu Imron : 85)
    Perhatikan dua ayat diatas !!! adakah pengetahuan yang memadahi pada diri anda untuk men-Jami’-kan dua nash yang dzahirnya Mukholafah (tidak sejalan) tsb ?.... sungguh apa yang kami sampaikan diatas hanyalah sebagian kecil perangkat yang harus anda kuasai untuk Ber-Istinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya)


    Saudaraku... kami sampaikan hal-hal diatas bukan dalam rangka mematahkan semangat belajar anda, akan tetapi ketika anda mencoba menggali hukum dari sumbernya langsung tanpa perangkat yang memadai, maka yakinlah Kelancangan Anda Hanya Akan Berakibat Perpecahan Ummat Islam.

    LIKULLI SYAIIN AHLUN, IDZA WUSIDAL AMRU ILAA GHOIRI AHLIHI.. FANTADZHIRIS SAA’AH : “Setiap segala sesuatu ada ahlinya, Jika suatu perkara diembankan (diserahkan) pada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah saat kehancurannya”.

    Sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini banyak kehancuran, musibah, dan saling menjatuhkan pendapat di dunia maya(media sosial) dikarenakan banyak orang berfatwa menyesatkan yang sebenarnya disebabkan ia langsung menggali hukum dari alqur'an dan Hadits tanpa melalui prosedur ijtihad dan tanpa mempelajari kitab Kuning.


    Wallahu A’lam...

    oleh KH. Tubagus Rifqi Ahmad Chowas, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Buntet Pesantren
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    5 comments:

    1. Perkembangan fiqh yang begitu pesat dan kompleks sehingga dibutuhkan suatu formulasi dalam menghadapinya, termasuk ketika suatu permasalahan muncul ke permukaan dan hal itu menguap pada sebuah komunitas, yang permasalahan tersebut tidak disebutkan dalam al-Qur’an ataupun al-Sunnah, maka yang harus dilakukan adalah menggali dan mengkaji permasalahan tersebut dengan berbagai metode yang tetap bersandar kepada dasar-dasar yang ada.
      Adapun persoalan-persoalan dalam menetapkan hukum syari’ah yang tidak dapat atau tidak ada dalam nash yakni al-Qur’an dan al-Sunnah dapat dilakukan penggalian-penggalian hukum dengan cara melakukan ijtihad. Hal ini dapat dilihat pada masa sahabat seperti Abu Bakar, Utsman, Umar dan Ali Ibn Abi Thalib, juga pada generasi berikutnya yang mampu membentuk aliran hukum, mengadakan studi, mengajar dan memberikan fatwa-fatwa hukum seperti Sufyan ats-Tsauri, Daud az-Zahiri, al-Auza’i dan lain-lain. Mereka adalah para tokoh dari sebagian kecil dari sebagaian orang yang memiliki cakrawala pemikiran yang luas dan mendalam dalam bidang hukum. Sehingga mereka mempunyai formulasi atau rumusan dalam menghadapai suatu permasalahan fiqh yang tidak terdapat didalam nash atau lebih sering dikenal dengan istilah ijtihad. (Yusuf Qardawi, 1987: 70-72)
      Disitulah kebutuhan ijtihad-ijtihad baru harus dilakukan para Mujtahid, baik dari angkatan sahabat maupun tabi’in. Disisi lain, jumlah para sahabat yang banyak mengetahui masalah Syari’ah terus berkurang, baik kuantitatif (jumlahnya) atau kualitatifnya (mutunya) akibat banyak diantara mereka yang wafat karena usia atau juga karena sakit, juga banyak diantaranya gugur dalam medan pertempuran di beberapa wilayah penaklukan atau dalam konflik internal umat Islam sendiri. ( Muhammad Tholhah Hasan, 2003: 63)
      Akan tetapi muncul persoalan, siapakah yang dapat melakukan ijtihad dan bagaimana persyaratan-persyaratan yang harus ditempuh atau dipunyai seseorang ketika akan melakukan ijtihad. Karena dalam melakukan pengambilan hukum terhadap masalah yang baru dan sebelumnya tidak ada didalam al-Qur’an dan al-Hadits tidaklah semudah itu, yakni diperlukan persyaratan-persyaratan yang memadai sehingga menghasilkan hukum yang berkualitas pula dan tidak diragukan. hal ini pula telah di sampaikan oleh Syaikhuna K.H. hasyim asy'ari dalam kitab Ihya’ A’mal Fudala fi Tarjamah Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jami’iyyah Nahdlatul Ulama

      ReplyDelete
      Replies
      1. This comment has been removed by the author.

        Delete
    2. Bismillah. Adapun Abdul Wahab Khalaf (1994 : 340-342) berpendapat tentang kelayakan di dalam berijtihad haruslah memenuhi syarat sebagai berikut :
      1. Seseorang yang akan berijtihad haruslah mengetahui bahasa Arab, cara-cara dalalahnya, susunan kalimatnya dan satuan-satuan katanya. Ia juga harus mengetahui uslub-uslub, adabul lughah dan atsar kefasihannya.
      2. Ia harus mempunyai pengetahuan tentang al-Qur’an. Maksudnya ia harus mengetahui ayat-ayat hukum serta cara mengambil/ memetik hukum itu dari ayat-ayatnya dan sebab-sebab turunnya ayat-ayat hukum tersebut.
      3. Harus mengetahui betul tentang Sunnah, yaitu ia harus mengetahui hukum-hukum syara’ yang disebut oleh sunnah Nabi.
      4. Ia juga harus mengetahui tentang qiyas.
      Iyad Hilal (2005: 85-87) dalam bukunya Studi tentang Ushul Fiqh menjelaskan secara umum beberapa persyaratan ijtihad. Adapun persyaratannya sebagai berikut :
      1. Seorang mujtahid haruslah seorang Muslim yang berakal sehat serta memiliki kemampuan intelektual yang tinggi.
      2. Mujtahid haruslah mempunyai pengetahuan Bahasa Arab yang memadai sampai ia dapat memahami al-Qur’an dan as-sunnah dengan benar.
      3. Mujtahid harus membutuhkan pengetahuan yang luas tentang al-Qur’an. Misalnya tentang kandungan surat-surat Makiyyah dan Mafaniyyah dalam al-Qur’an, asbabun nuzul serta harus mempunyai pemahaman yang luas tentang kandungan hukum di dalam al-Qur’an.
      4. Seorang Mujtahid juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang as-Sunnah, khususnya yang berkaitan dengan ijtihadnya, serta akrab dengan berbagai aturan mengenai as-Sunnah. Mujtahid juga harus mengetahui proses nasikh dan mansukh dalam as-Sunnah serta kualifikasi para perawinya.
      5. Ia juga harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang ushul fiqh, sehingga ia dapat memahami dengan baik prosedur penarikan hukum syar’ dari nash-nash yang ada berikut pengertiannya.
      6. Seorang mujtahid harus mengetahui keberadaan pendapat-pendapat para mujtahid lainnya.
      7. Seorang mujtahid pula harus memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang perkara yang hendak dihukumi. Artinya apabila seorang mujtahid tersebut tidak mamahami dengan perkara yang dihadapi, maka tidak boleh melakukan ijtihad atas perkara tersebut.
      Hipotesis moderatnya adalah. ketika seseorang tidak mengetahui tentang hukum sesuatu sedang ia tidak mempunyai kemampuan berijtihad maka ia diharuskan untuk bertanya kepada ulama sebagai mata rantai ilmu Rasulullah. Salah satunya ya Kitab Kuning.

      ReplyDelete
    3. Sing penting dakwah sing bener. Gak perlu mengomentari golongan lain. Karena kebenaran kita belum tentu benar dan kesalahan mereka belum tentu salah. Wallahu a'lam

      ReplyDelete
      Replies
      1. enggih mas. Ini lagi mengomentari kelompok sendiri mas biar tidak bingung karena melakukan sesuatu tetapi tidak faham hujjahnya :)

        Delete

    Item Reviewed: Kenapa Harus Kitab Kuning? Tidak Langsung Al-Qur'an dan Sunnah Saja Rating: 5 Reviewed By: AriezQ ALq
    Scroll to Top