Wong Buntet Pesantren ning London - Buntet Pesantren Wong Buntet Pesantren ning London - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, December 6, 2013

    Wong Buntet Pesantren ning London

    Assalamualaikum War, Wab.

    Hi Adik - adik semua,

    Sebetulnya sih, saya sudah lama ingin mengirim berita dari London, tapi saya kira web BuntetPesantren itu sudah tutup sama sekali. Yang terahir saya mendapat berita, bahwa web Buntet Pesantren itu sudah tidak dilanjutkan lagi, karena kekurangan biaya dan tidak ada yang mempunyai waktu lagi untuk mengelolanya. Pada waktu itu, saya merasa kecewa sekali dengan bubarnya web Buntet Pesantren itu, karena, paling tidak saya terasa pulang di Buntet Pesantren, kampung saya lahir kalau membaca beritanya, tapi mungkin itu saya being selfish saja. Tapi ya why not, saya kan jarang sekali datang ke Buntet Pesantren, malah se ingat saya, selama lebih dari 43 tahun saya di London, saya hanya sekali saja menyaksikan Haul  lagi di Buntet Pesantren, yaitu pertengahan tahun delapan puluhan.

    Apakah tidak mungkin, demi tidak terjadi kejadian serupa, yaitu penutupan Situs Buntet Pesantren ini, menawarkan kepada perusahaan-perusahaan yang ada baik di Cirebon sendiri atau dimana saja sekitar Indonesia. Untuk mengandfertensikan (mempromosikan) perusahaannya di Situs Buntet Pesantren ini, dengan harapan mereka bersedia membantu terus terbitnya Situs Buntet Pesantren ini. Bukan kah Situs NU sendiri banyak dibantu oleh perusahaan-perusahaan, yang mengadfertensikan perusahaannya pada penerbitan Situs NU. Yang punya Facebook juga, hidup mewahnya itu dari hasil-hasil Advertensi yang ada di Facebook.

    Di London, ada evening paper (koran yang terbitnya siang dan sore), namanya Evening Standard, tadinya sih ada lagi yang namanya Evening News, tapi Evening News, sudah lama bangkrut. Jadi sekarang yang masih ada itu Evening Standard saja setahu saya, yang terbitnya siang itu. Evening Standard, terbit tiga kali sehari, yaitu pagi jam 9, siang sekitar jam 1, dan sore sekitar jam 5. Beritanyapun beda diantara tiga penerbitan itu. Yang terbit pagi beritanya, apa yang terjadi sampai hari itu sekitar jam 8, sedang yang terbit siang juga begitu, beritanya apa yang terjadi ampai sekitar jam 12, disamping berita selanjutnya dari berita penerbitan yang pagi, dan yang terbit sore juga begitu selanjutnya. Evening Standard itu sekarang di beli orang Rusia yang kaya, dia memutuskan bahwa koran Evening Standard itu tidak dijual lagi, tapi dikasihkan gratis saja kepada pembacanya yang mau. Yang punya koran itu, sudah banyak menerima uang, dari perusahaan-perusahaan dan orang-orang yang mengadfertensikan pada Evening Standard. Dari hasil uang dari perusahaan-perusahaan dan orang-orang yang mengadfertensikan di Evening Standard itu, lebih dari cukup untuk membayar gaji wartawan-wartawannya, juga biaya untuk memproduksi koran itu.

    London banyak mempunyai koran, baik koran-koran lokal (maksudnya yang beritanya banyak mengenai yang terjadi di London saja), maupun koran-koran Nasional (yang terbit untuk semua orang di Inggris Raya), malah ada juga koran-koran International. Bagi saya koran yang biasa saya dan istri saya beli sekarang adalah Dailly Mirror atau The Sun. Waktu saya baru datang di Inggris dan beberapa tahun sesudahnya sih, koran yang suka saya beli ialah The Guardian dan The Daily Telegraph, dan kadang-kadang juga The Times. Tapi akhir-akhir ini, koran-koran seperti itu, terlalu banyak isinya yang untuk saya kurang perlu membacanya dan juga bentuknya terlalu lebar, jadi bagi saya susah untuk membacanya. Tidak seperti The Daily Mirror atau The Sun, yang bentuknya kecilan meskipun tebal.

    Dulunya, koran-koran itu kebanyakan di produksi di Fleet Street. Jadi Fleet street itu, terkenal di seluruh dunia sebagai tempat di produksinya berita, baik untuk rakyat Inggris Raya sendiri, maupun untuk berita bagi rakyat di seluruh dunia. Fleet Street itu terletak antara Charring Cross dan St Paul. St Paul itu Gereja Anglican yang besar di London, yang sering dipakai oleh pemerintah dan keluarga kerajaan untuk mengadakan slamatan. Mungkin kakak adik-adik masih ingat waktu Princess Diana kawin dengan Prince Charles, juga di adakan di St Paul. Gereja Anglican besar lainnya, yang malah lebih sering dipergunakan pemerintah dan keluarga kerajaan, ialah Gereja Westminster Abbey, itu mungkin karena letak Westminster Abbey, dekat sekali dari gedung Parlemen dan Buckingham Palace.

    Di Inggris, sampai sekarang, wartawan dan orang-orang yang kerja di perusahaan koran, di panggil Fleet Street men, meskipun sekarang ini perusahaan koran itu sudah banyak piundah dari Fleet Street. Beberapa tahun yang lalu, memang perusahaan koran sudah banyak pindah ke daerah yang baru yang lebih luas dari Fleet Street, yaitu daerah baru namanya Canary Wharf. Sekarang Canary Wharf itu menjadi daerah baru di London yang mahal untuk tinggal disitu, karena rumah dan apartment di situ mahal sekali. Bukan hanya perusahaan koran saja yang pindah kesana, tapi juga Bank-bank Inggris dan Internatinal pun pindah kesana yang tadinya di daerah, yang terkenal dengan nama London City.

    Tahun 2013 yang akan habis ini, bagi keluarga saya di London, sebagai tahun yang banyak peringatan manis bagi semua kelarga saya di London. Pada hari-hari sebelum orang-orang Inggris yang Kristen meramaikan hari natal, adik istri saya kedua yang terkecil, Miriam Dunggio baserta suaminya Dokter Mohammad Isa Parri dan dua anaknya, berholiday ke London untuk beberapa hari, dan malah mereka sempat pergi ke Belanda dan Paris. Dengan sendirinya, istri saya dan saya pun senang sekali, atas kedatangan saudara sendiri dari Indonesia. Mereka tinggal dengan kami selamna 3 minggu, dan untungnya pada hari-hari selama mereka di London, tidak seharipun turun salju yang lebat, tapi tetap dingin sekali. Menurut saya, kalau mau ke London untuk holiday, janganlah datang antara bulan November sampai bulan awal Maret, kecuali kalau ingin merasakan dinginnya London di musim dingin. Yang baik untuk datang ke London adalah bulan April sampai awal September, Insya Allah, pada bulan itu tidak begitu dingin.

    Karena Saudara Isa Parri itu juga supporter of sport, maka dia di antar oleh anak saya Bayu, untuk melihat stadium-stadium sport yang juga terkenal di Indonesia, seperti gedung sepak bola Arsenal dan Chelsea. Juga gedung olah raga tennis di Wimbledon, yang tiap tahun diadakan kejuaraan Inggris Terbuka Tennis, yang terkenal seluruh dunia, di mana pemain-pemain tennis terbaik di Dunia merebutkan kejuaraan itu. Hadiah uangnya pun banyak sekali untuk yang jadi juara. Tahun 2013 ini, untuk juara single tennis di Wimbledon, mendapat 1 setengah juta pounds lebih, baik juara perempuan atau laki-laki. Bayangkan kalau sekarang 1 pound itu sama dengan lebih dari 18000 rupiah. Untuk yang kalah di round pertama saja dapat hadiah 23500 pounds. Sedang menjadi juara badminton, barang kali dapatnya sama dengan pemain tennis yang kalah di round pertama tennis di Wimbledon.

    Pada awal bulan Mei adik istri saya yang ke tiga, Masni Dunggio SH, juga datang menengok rumah saya yang kecil di London. Dia juga tinggal bersama kami selama 4 minggu, yah lumayan lama untuk sedikit menghilangkan rindu kami kepada keluarga pada khususnya dan Indoneesia pada umumnya. Masni datang ke London dengan Silk Airline dari Manado, terus ganti Singapore Airline dari Singapore ke London, pulangnyapun begitu juga, dari London menumpang Singapore Airline, dan dari Singapore menumpang Silk Airline.  jadi tidak mampir ke Jakarta sama sekali.

    Lalu pada akhir bulan puasa, anak saya yang pertama,  Buyung Nahdi Sastraprawira, well, anaknya Mang Din (KH. Nahduddin Abbas / Sesepuh Buntet Pesantren) sebenarnya sih (tapi waktu kecilnya dia itu saya yang nyebokin dan mengganti pakaiannya), datang ke London beserta istri dan dua anaknya. Dia datang ke London, yang seterusnya mereka ke Perancis untuk katanya berkumpulan dengan Rabets family (Rabets itu nama family ibu Buyung) yang dari Perancis. Katanya, keluarganya mengadakan perkumpulan dengan keluarganya yang tersebar di mana-mana. Setelah selesai, Buyung dan keluarga juga kembali, malah ikut lebaran di rumah duta Indonesia London, yang bagi Buyung juga sebagai kenangan memori waktu dia kecil tiap tahun berlebaran di rumah duta Indonesia, Jadi bagi saya, tahun 2013 itu banyak yang membikin keluarga saya senang. Mudah-mudahan,  tahun yang akan datang juga akan membawa kesenangan untuk kita semua.

    Sementara sekian dulu, lain waktu saya akan sambung. Tidak lupa saya meminta doa dari adik-adik semua untuk well being saya sekeluarga, juga mohon di doakan mudah-mudahan saya sempat mengikuti Haul di Buntet Pesantren, yang saya sudah terlalu lama sekali tidak menyaksikan.

    Wassalamualaikum War Wab.


    Ghozy Mudjahid
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 comments:

    1. Kami sangat berharap sekali mang ghozy bisa ikut ber"haul"an lagi, yang jelas haul sekarang sudah jauh berbeda dari haul pertengahan tahun 80 an, maksud saya "kemasannya (packaging)" yang berbeda, kalo semangat dan contennya insyaallah tidak banyak berubah. senang sekali bisa membaca kabar dari london mang, mungkin sekali2 karina atau bayu juga perlu menulis disini mang....

      ReplyDelete
    2. Muga-muga selalu diberikan kesehatan serta bisa datang di Buntet dalam acara haul. senang sekali membaca berita dari Londong versi wong Buntet, namun sayang tidak ada cerita coklat yang disenangi oleh Queen dan Kinan...
      Iya, setuju dengan kang Mhammad Mustahdi, mudah2an Bayu dan Karina juga bisa menulis untuk web Buntet. Bayu dan Karina bisa menulis apa saja, setidaknya bercerita tentang London tapi rasa Indonesia dan Buntet

      ReplyDelete
    3. Mang Ghozy, Assalamu'alaikum warhmatullahi wabarakatuh...
      Alhamdulillah bisa liat foto mang Ghozy yang dikenal hanya lewat cerita...pripun sehat tah.. Mang.
      Alhamdulillah, kapan bisa pulang ke buntet atau anak2 bisa ke buntet...? pengen juga silaturahmi...

      O.k Mang...ditunggu kabar dari London dan salam Baktos ngangge Mang Dien...

      Wassalam
      Udhien


      ReplyDelete

    Item Reviewed: Wong Buntet Pesantren ning London Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top