• Latest News

    Monday, November 23, 2009

    Karomah Mbah Hasan

    Mbah Hasan adalah kyai kharismatik  Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
    sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
    Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

    Pada Zaman revolusi fisik, di Buntet pesantren ada seorang Kyai Sepuh
    bernama KH.Abdul Mun'im. Beliau adalah adik KH. Abdul Jamil dan mertua
    KH.Abbas.


    Di masa muda Abd Mun'im kecil melanglang buana menuntut ilmu
    diantaranya di Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhuna Kholil.
    Sehingga beliau menjadi ulama besar yg kharismatik dan sempat
    menggantikan posisi kakaknya menjadi pengasuh pondok Buntet pesantren
    sebelum akhirnya diserahkan kepada keponakannya yg nota bene adalah
    menantunya sendiri yaitu : KH.Abbas bin KH.Abdul Jamil.

    Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau
    sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.
    Kyai Abd Mun'im meninggalkan keturunan para kyai dan ulama dan nyai nyai yg shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN.

    Beliau semasa kecil dipanggil dg nama Mas'ud, namun sepulang dari Mukim
    di tanah suci Mekkah di kenal dg nama Mbah Hasan. Selama Puluhan tahun
    beliau menimba ilmu di tanah suci dan praktis tdk bertemu keluarga,pada
    akhirnya beliau pulang ke tanah air untuk melepaskan rindu yg terpendam
    bertahun tahun. Namun setelah pulang ke Buntet,beliau lebih memilih
    tinggal diluar Buntet yg mungkin dirasakan oleh beliau telah banyak
    kyai dan ulama di Buntet pesantren. Kemudian Mbah Hasan memilih daerah
    Ciledug Cirebon ( _+ 25 km dr Buntet Pesantren) untuk menetap dan
    berda'wah.

    Di Ciledug,beliau berda'wah dg santun dan sopan dg menggunakan
    AKHLAQULKARIMAH,sehingga masyarakat menyambut da'wahnya dg sukacita.
    Beliau berda'wah dg halnya yg baik(da'wah bilhal) dan beliau beternak
    puluhan ekor sapi. Masyarakat Ciledug pada sa'at itu tidak habis
    fikir,mengapa sapi sapi mbah Hasan tidak digembalakan. Bahkan dibiarkan
    berkeliaran mencari makan sendiri. Namun anehnya sapi sapi mbah Hasan
    cukup beretika dan beradab,dikarenakan tidak pernah memakan dan merusak
    tanaman masyarakat,sehingga masyarakat berterima kasih kegirangan bila
    melihat sapi sapi Mbah Hasan yg hanya membersihkan rumput rumput yg
    mengganggu tanaman.

    Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi entah kemana,namun sebelum
    pergi beliau sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada
    masyarakat.

    Tahun demi tahun berlalu,akhirnya mbah Hasan yg sebaya dg sepupunya
    KH.Abbas bin Ky.Abduljamil(wafat th 1947 di usia 60 tahunan) dg
    mengejutkan datang di Buntet pesantren. Beberapa orang kyai sempat
    cemas dg kedatangan beliau,sbb kedatangannya adalah pertanda akan ada
    mushibah(kematian kyai besar atau serangan Belanda) di Buntet. Meskipun
    begitu sanak famili dan masyarakat saling berebut cium tangan barokah
    mbah Hasan. Mbah Hasan mengunjungi beberapa kyai dan kerabat.
    Diantaranya beliau berkunjung ke KH.Anas bin Kyai Abd Jamil kakak
    sepupunya. Kyai Anas menyambut gembira dg kedatangan mbah Hasan yg sdh
    lama tdk ada khabar beritanya, hingga Kyai Anas mengumpulkan seluruh
    anggota keluarga untuk menyambut kedatangannya.

    Mbah Hasan, menurut
    penuturan para kyai Buntet adalah seorang Kyai yg Shomut(pendiam)
    beliau tdk berkata apapun kecuali 2 kata saja: enggih dan boten (ia dan
    tidak) meskipun begitu,mulutnya selalu mengulum senyuman yg menyejukkan
    hati.


    Mbah Hasan bertemu dg kyai Anas sepupunya yg menjadi Muqaddam(guru
    besar)thariqah tijaniyah dan org yg pertama kali membawa Thariqah
    Tijaniyah di Indonesia,sebuah pertemuan yg mengharukan dan merapatkan
    'alaqah ruhiyah dan jasadiyah diantara dua orang wali tsb. Pertemuan
    terakhir di dunia.

    Saat itu kyai Anas meminta oleh2 kenang2an dr mbah
    Hasan,dia berkata "kang Hasan,mana oleh2nya dr Banyu wangi ?,namun mbah
    Hasan tdk menjawab sepatah katapun,hanya senyuman san Wali yg menghiasi
    wajah mbah Hasan. Ketika Kyai Anas berkali kali memohon,akhirnya mbah
    Hasan mengeluarkan bungkusan kain putih dr kantong bajunya seraya
    berbisik "jangan dibuka kecuali didepan anak2 dan menantu".

    Setelah
    mbah Hasan pamitan,kyai Anas membuka bungkusan tsb,ternyata berisi
    minyak wangi dan kapas. Kyai Anas mengerti isyarat tsb dan
    berucap,"anak2ku ketahuilah,bapak sebentar lagi meninggal dunia" kyai
    Anas mengucapkannya sambil berderai air mata haru dan bahagia sambil
    terus menerus menciumi kapas dan minyak wangi pemberian mbah wali
    Hasan. Benar saja,beberapa minggu kemudian kyai Anas wafat dg
    Husnulkhotimah berpulang ke rahmatullah dg damai dan tenang, yg
    kuburannya sudah tergali seminggu sebelum beliau wafat. Rodhiyallahu
    anhu wa askanahu 'alaa farodisiljinan,amien. Bahkan juga Almarhum
    almaghfur lah Kyai haji Anas sempat mimpi bertemu Rosullah saw dan
    Sayidah Fathimah Azzahro seminngu sebelum wafat,dalam mimpi itu Kyai
    Anas mencium tangan mulia Baginda Rosul saw dan tangan Sayyidah
    Fathimah Azzahro ra. Anehnya siti fathimah memberi isyarat dg 7 buah
    jari tangannya. Bangun dr mimpi,Kyai Anas terperanjat tiba2 tangan
    beliau harum wangi semerbak hingga hari ke tujuh,ribuan santri dan
    kerabatpun terheran heran dg bau wangi yg khas dan beraroma lain dr
    minyak wangi pada umumnya. SUBHAANALLOH.....Bersambun
    g.



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comments:

    Item Reviewed: Karomah Mbah Hasan Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top