Belajar Bahasa Asing di Sekolah, adakah yang Salah? - Buntet Pesantren Belajar Bahasa Asing di Sekolah, adakah yang Salah? - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, March 2, 2009

    Belajar Bahasa Asing di Sekolah, adakah yang Salah?


    BANYAK orang
    bertanya-tanya, mengapa lulusan SMA sekarang tak mampu berkomunikasi
    dalam bahasa Inggris. Padahal, bahasa asing yang merupakan bahasa dunia
    itu sudah diajarkan sejak SMP. Artinya, selama enam tahun, bahasa
    Inggris sudah diajarkan di sekolah. Bahkan, saat ini banyak anak sudah
    menerima pelajaran bahasa Inggris sejak SD. Adakah yang keliru dalam
    proses pembelajaran?















    KEADAAN ini jelas
    berbeda dengan apa yang dialami kebanyakan orangtua kita, terutama yang
    sempat mengenyam pendidikan di zaman Belanda. Di zaman Belanda, lulus
    AMS (Algemene Middelbare School-setingkat SMA) untuk kelompok
    non-eksakta, bisa dipastikan akan fasih berbahasa asing. Bahasa asing
    yang dikuasai pun tidak hanya Belanda yang digunakan untuk proses
    belajar-mengajar setiap hari, tetapi juga mampu dan fasih berbahasa
    Jerman, Perancis, dan tak jarang ada bahasa asing lain.











    Keadaan ini amat
    jauh berbeda dengan kemampuan lulusan SMA sekarang. Banyak anak
    mengeluhkan ujian listening Bahasa Inggris dalam Ujian Akhir Nasional
    (UAN) kali ini.











    "Materinya
    sendiri sebenarnya tidak begitu sulit. Hanya karena banyak anak tidak
    terbiasa dengan mendengarkan, mereka gelagapan, tidak bisa memahami apa
    yang dikemukakan. Belum lagi kalau sekolah tidak menyediakan peralatan
    memadai, bisa dipastikan anak- anak akan kesulitan," ujar Rudi, guru
    Bahasa Inggris di sebuah SMA swasta di bilangan Matraman, Jakarta Timur.











    Sedikit
    mengungkap apa yang terjadi saat ujian listening Bahasa Inggris dalam
    UAN lalu, dikisahkan, ada sekolah yang terpaksa menghentikan pemutaran
    kaset karena terganggu derum knalpot bajaj yang sedang lewat. Belum
    lagi tape recorder yang digunakan pun tidak mampu menghasilkan suara
    dengan kualitas bagus.





    Belum terbiasanya
    anak- anak mendengarkan percakapan bahasa asing, tidak siap/mampunya
    guru memberikan contoh percakapan yang bagus, dan minimnya fasilitas
    yang tersedia, untuk saat ini dianggap menjadi penghambat anak-anak
    menguasai bahasa asing.











    "MENURUT
    pengamatan saya, bahasa Inggris yang dilakukan di Indonesia ini mau
    meniru dan mencoba sistem yang berlaku di luar negeri. Tentu saja
    keliru karena bahasa ibu yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa
    Indonesia. Sedangkan apa yang akan dilakukan oleh Departemen Pendidikan
    Nasional itu mengandaikan bahasa ibu yang digunakan siswa adalah bahasa
    Inggris, seperti cara Amerika Serikat atau Australia. Sejak kecil
    anak-anak di sana sudah hidup dalam lingkungan yang menggunakan bahasa
    Inggris. Dengan demikian, metode yang digunakannya pun tak banyak
    mengalami masalah," ujar guru lainnya.











    Diakui, banyak
    sekolah kini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang bagus dan
    canggih. Banyak sekolah kini sudah memiliki laboratorium bahasa. Akan
    tetapi, kenyataannya, banyak laboratorium bahasa itu tidak digunakan.
    Alasan utama, guru tidak tahu bagaimana mengucapkan bahasa Inggris
    secara benar. Akibatnya, peralatan yang canggih, bagus, dan berharga
    mahal itu mubazir, terlihat rapi tetapi belum pernah digunakan.











    "Para siswa pun pada akhirnya tidak pernah mendapat telaah pembicaraan dan listening secara benar," lanjut Rudi.











    Persoalannya,
    secanggih apa pun peralatan yang dimiliki sekolah, apabila guru yang
    seharusnya mengajar tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara
    benar, bicara pun tidak fasih, bagaimana mungkin bisa mengajarkan
    bahasa Inggris secara benar.











    Memang, mengajar
    bahasa Inggris tidak perlu harus menggunakan penutur asli (native
    speaker). Sebab, penutur asli belum tentu memahami apa yang menjadi
    kesulitan para siswa Indonesia saat belajar bahasa asing. Apalagi
    belajar bahasa adalah kegiatan yang bersifat individual dan perlu
    pemahaman lebih mendalam, tidak sekadar kognitif. Maka, apabila
    kelancaran berbahasa asing dijadikan keutamaan dengan mengundang native
    speaker (yang kadang hanya turis), dikhawatirkan justru akan melahirkan
    gejala baru, mengentalnya kesalahan (bila ada) yang pada saatnya akan
    sulit diperbaiki.











    MESKI demikian,
    sejumlah pengamat melihat adanya "ketidakberesan" dalam proses
    belajar-mengajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris, di sekolah.
    Alasan utamanya, seperti gugatan awal, lulusan SMA tak mampu
    berkomunikasi dalam bahasa Inggris.











    Padahal, sebagai
    bahasa asing yang mendunia, bahasa Inggris akan tetap diperlukan, baik
    untuk bisa membaca teks berbahasa Inggris di perguruan tinggi maupun
    sebagai salah satu faktor "plus" dalam mencari pekerjaan. Tengok saja,
    betapa banyak iklan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan menguasai
    bahasa Inggris aktif maupun pasif bagi para pelamar.











    Diakui, untuk
    memenuhi kebutuhan itu, kurikulum yang berlaku di sekolah sudah banyak
    mengalami perubahan. Berbagai pendekatan pun sudah banyak dilakukan.
    Hasilnya, tetap sama saja. (Baca juga Pengajaran Bahasa Asing, Antara
    Sekolah dan Kursus)











    "Kurikulum 1984
    itu sebenarnya bagus. Sebab, di sana anak-anak dilatih untuk memahami
    dasar atau gramatika secara benar. Seandainya kurikulum itu
    diberlakukan sekarang, terutama di sekolah-sekolah yang memiliki
    fasilitas laboratorium bahasa lengkap, dan guru-guru yang mengajar
    memiliki kompetensi, bisa dipastikan hasilnya pasti akan bagus," ungkap
    Rudi.











    Kurikulum 1984
    berkeinginan membangun siswa untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa
    Inggris. Dengan kurikulum itu, hasil yang ingin dicapai ialah, para
    siswa mampu menguasai bahasa Inggris secara aktif. Namun, lagi-lagi
    kendala besar masih menghadang. Banyak guru Bahasa Inggris sebenarnya
    kurang mampu mengajarkan bahasa Inggris dan buku pelajaran yang
    digunakan masih mementingkan struktur bahasa alias gramatika.











    "Bagaimana bisa
    mengajarkan bahasa Inggris dengan baik kalau guru sendiri tidak mampu
    berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar, dan tidak paham akan apa
    yang diajarkan. Kalau situasinya seperti ini, bagaimana mereka bisa
    mengajak para siswa berkomunikasi dalam bahasa Inggris?" ujar pengamat
    yang lain.











    Ketidakmampuan
    sekolah mengajarkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, mendorong
    munculnya kursus-kursus bahasa. Para pengelola kursus menyadari betul
    kebutuhan masyarakat akan bahasa Inggris, baik untuk keperluan sekolah
    maupun untuk mencari pekerjaan.











    Maka, tak mengherankan bila
    lembaga-lembaga kursus bahasa tumbuh menjamur. Tak terbilang berapa
    jumlah kursus bahasa Inggris yang terserak di seluruh Indonesia ini.
    Bahkan, bagi masyarakat Jakarta yang suka mendengarkan radio,
    akhir-akhir ini muncul iklan yang menawarkan kursus bahasa Inggris
    dalam waktu tiga minggu. Meski dalam waktu tiga minggu, kata iklan itu,
    peserta kursus dijamin pasti bisa berbahasa Inggris.











    Para pengelola
    kursus tahu betul apa yang diperlukan masyarakat. Ketika sekolah dalam
    kenyataannya masih berkutat pada masalah gramatika dan berbagai aturan
    berbahasa, kursus bahasa menawarkan keterampilan berbicara.











    Meskipun
    demikian, sejumlah pusat kebudayaan yang juga hadir dengan
    kursus-kursus bahasanya benar-benar jauh dari tujuan komersial. Goethe
    Institut di Jakarta, misalnya, tidak sepenuhnya berjalan berdasarkan
    uang pendaftaran peserta kursus. Lembaga itu masih disubsidi oleh
    Goethe Institut pusat di Jerman. Hal yang sama terjadi pada Pusat
    Kebudayaan Perancis (CCF) atau Erasmus Huis.











    "Yang kami
    lakukan di sini adalah menyiapkan anak-anak muda Indonesia yang ingin
    belajar bahasa Jerman dengan baik. Kebanyakan dari mereka umumnya mau
    melanjutkan studi ke Jerman. Selain itu, kami juga memberikan
    kesempatan kepada anggota masyarakat Indonesia lainnya yang ingin
    mempelajari bahasa Jerman. Maka, usia pun tidak pernah dibatasi," ujar
    Maria Fischer dari Goethe Institut.











    Metode yang
    dilakukan di sejumlah kursus bahasa asing yang menginduk pada
    pusat-pusat kebudayaan perwakilan negara sahabat umumnya lebih
    menekankan practical skill atau skill oriented, bukan pemahaman secara
    mendalam mengenai gramatika. Maka, kepada para peserta kursus umumnya
    didorong untuk mampu berbicara, mampu mengungkapkan pendapat dan
    pikirannya. Kalaupun ada gramatika yang keliru, akan dibetulkan "sambil
    jalan".











    Itu sebabnya
    bobot penilaian saat ujian pun amat berbeda dengan yang terjadi di
    sekolah. Kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara
    mendapat bobot paling tinggi, sementara gramatika "dianggap" sebagai
    penunjang.





    Agaknya, pendekatan yang berbeda ini mampu melahirkan pembelajar bahasa yang fasih berbahasa asing. (KCM)
















    a

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comments:

    Item Reviewed: Belajar Bahasa Asing di Sekolah, adakah yang Salah? Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top