• Latest News

    Saturday, November 8, 2008

    Pesantren Al Zaytun Membangun Peradaban


    Oleh Slamet Iman Santoso

    Al ZaitunKaya ngenteni tukule jamur ing mangsa ketiga. Sebuah pepatah jawa
    yang arti harfiahnya adalah seperti menunggu tumbuhnya jamur di musim
    kemarau. Suatu hal yang sulit kita temukan adalah upaya membangun
    kepribadian bangsa yang santun dan cerdas menatap masa depan.

    Pada tahun 1996-1998 adalah masa mulai redupnya kekuasaan orde baru.
    Berbagai ormas-ormas tumbuh berkembang. Sebuah reformasi besar-besaran
    menyeret segenap aspek bangsa untuk berubah dan berontak terhadap
    keadaan.





    Seorang tokoh reformasi Amien Rais didukung dengan kekuatan
    mahasiswa, cukup kuat menyuarakan berbagai aspirasi-aspirasi rakyat
    dengan demonstrasi-demonstrasi. Bulan Mei 1998 sejarah mencatat tragedi
    besar yang menewaskan 4 korban dari mahasiswa. Berbagai kerusuhan
    terjadi, Jakarta menjadi ajang menumpahkan kekesalan dan anarkisme.
    Kerugian materiil maupun immateriil tidak dapat kita perhitungkan
    dengan angka-angka.

    Pada tanggal 12-13 Nopember 1998, ribuan bahkan puluhan ribu mahasiswa
    berarak menuju gedung DPR/MPR. Mereka menolak hasil sidang istimewa dan
    meminta Soeharto selaku presiden mundur dari jabatannya. Himpitan
    ekonomi, kebebasan berpendapat dan krisis ekonomi ( krismon) yang tidak
    berkesudahan menjadi picu memburuknya kualitas dan moralitas bangsa
    secara menyeluruh. Runtuhnya kekuasaan Orde Baru yang berganti Orde
    Reformasi belum pula menampakkan perubahan signifikan. Tuntutan-demi
    tuntutan yang bersifat cepat, mewarnai setiap kepemimpinan dimasa
    reformasi. Maka dalam tempo kurang dari lima tahun Indonesia telah
    memecahkan rekor empat kali melakukan pergantian presiden.

    Al Zaitun
    Di sebuah pelosok desa tepatnya di desa Gantar (sekarang menjadi desa
    Mekar Jaya) kecamatan Haurgeulis kabupaten Indramayu, Jawa Barat
    beberapa gelintir orang berkonsentrasi membangun sarana pendidikan.
    Salah satu penggagas utamanya adalah DR. A.S Panji Gumilang. Putra
    Gresik ini memiliki ide-ide besar membangun Indonesia melalui
    pendidikan. Hanya dengan mendidik anak bangsa inilah, Indonesia akan
    mampu bangkit dari keterpurukannya. Dalam beberapa ceramahnya yang
    disampaikan di masjid Al-Hayat adalah Kalau kita ingin hidup 100 tahun
    maka tanamlah pohon, tapi kalau kita ingin hidup ribuan tahun maka
    didiklah generasi bangsa ini.

    Tidak tanggung-tanggung areal yang dibebaskan untuk keperluan
    pendidikan yang komprehensif ini di bangun diatas lahan seluas 1200 Ha.
    Kondisi di desa Gantar sendiri saat itu semi perawan. Karena daerahnya
    adalah termasuk IDT, dan akses jalan ke lokasi juga sangat sulit. Jalan
    pun masih tanah berbatu, sempit dan bila musim hujan kendaran sepeda
    tidak dapat melaluinya. Bila memaksakan diri maka sepeda-lah yang harus
    kita naikkan diatas pundak kita. Bahkan tukang ojek pun tidak berani
    melaluinya diatas jam 6 sore. Karena di beberapa tempat masih terasa
    keangkerannya.

    Dari sini saja kita dapat menilai untuk membangun sarana
    pendidikan di tempat itu membutuhkan keberanian dan kebulatan tekad.
    Dapat kita pastikan ini bukan proyek business oriented tapi murni darma
    bakti pada bangsa ini. Pemda setempat juga tidak melirik tempat
    tersebut untuk dibangun pusat pendidikan. Maka dengan sebuah idealisme
    membangun budaya bangsa yang berperadaban itulah satu model pendidikan
    komprehensif dapat terwujud.
    spirit but modern system

    Az Zaitun
    Model pendidikan kepesantrenan menarik pula untuk kita kaji. Melihat
    dari sejarah kepesantrenan, nampaknya model ini adalah pionir dalam
    gelanggang pendidikan bangsa Indonesia. Pada masa awal-awal masuknya
    Islam ke bumi nusantara ini para mubaligh mengajarkan ilmunya di
    rumah-rumah mereka dan masjid atau suro-suro. Pesantren mulai
    dikembangkan pertama kali oleh Raden Rahmat yang mendirikan pesantren
    Ampel Denta. Beliau pun dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Kaderisasi
    yang dilakukan secara serius ternyata mampu menelorkan para pendakwah
    tangguh seperti Sunan Bonang, Sunan Giri dan Sunan Drajat.

    Keilmuan di pesantren dalam perkembangan awalnya hanya berkutat masalah
    ilmu-ilmu agama. Banyak orang menyebutnya sebagai pesantren salaf atau
    pesantren tradisional. Namun semakin kesini pesantren juga memasukkan
    kajian ilmu sains, komputer, bisnis dan interpleneur. Para pendirinya
    sebenarnya berasal dari pesantren tradisional namun mau membuka diri
    untuk perkembangan dan kemajuan zaman. Sering mereka mencantumkan kata
    modern dibelakang nama pondok pesantren.

    Pesantren yang menerapkan sistem berasrama atau pondok amat
    memungkinkan melakukan pengawasan melekat (pekat) terhadap para
    santrinya. Aktifitas mereka terpantau selama hampir 24 jam. Sehingga
    pesantren merupakan laboratorium kehidupan bagi pengelolanya maupun
    bagi para santrinya. Santri atau siswa dididik dengan kemampuan memenej
    dirinya dalam segala hajat sehari-harinya. Dari mulai kegiatan belajar,
    ritual peribadatan, urusan pemakanan, kebersihan dan kesucian pakaian,
    tempat tinggal dan kesehatan badannya.

    Tidak kalah pentingnya
    peningkatan ketrampilan hidup seperti bertani, berternak, dan berdagang
    juga diajarkan. Untuk hal kepemimpinan biasanya diterapkan santri
    senior untuk menangani santri-santri yunior dalam wadah organisasi
    pelajar. Semua aktifitas tersebut ditempakan selama mereka dalam
    pondok. Pada akhirnya santri diharapkan menguasai kemampuan ilmu agama,
    menejerial personal, menejerial organisasi dan ketrampilan hidup untuk
    surviv.

    Pengelolaan pesantren dengan sistem yang modern tentunya akan
    menyempurnakan sistem kepesantrenan. Pesantren dijadikan sebagai
    spiritnya dan menejemen ditingkatkan dengan standarisasi yang jelas.
    Tentunya bolehlah kita mengacu standar iso 9000, sebagai ukuran
    menejemen berskala internasional. Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan
    kepesantrenan nampaknya telah melaksanakan standar iso 9000. Semua
    aktifitas yang dilaksanakan dibuat prosedur-prosedur yang jelas.


    Penerimaan santri baru menghajatkan banyak prosedur untuk menyeleksi
    dan menertibkan calon-calon civitas. Bagi para penghuni semua harus
    mengikuti semua prosedur yang telah ditetapkan oleh Al-Zaytun. Seperti
    prosedur keluar-masuk kampus, prosedur lalu lintas jalan atau
    berkendaraan, prosedur kirim-mengirim barang, prosedur berkunjung antar
    asrama, prosedur pergaulan, prosedur pemakanan, prosedur
    belajar-mengajar, prosedur kerja bagi karyawan, prosedur kontrol
    belajar bagi penilik dan lain-lain. Untuk penghuni dan para tamu semua
    diberlakukan peraturan untuk tidak merokok dan bersih dari racun
    narkoba.

    AL ZAYTUN
    Berkenaan yang terakhir ada pengecekan rutin setiap kali
    santri datang dari menunaikan tugas liburannya, dengan pengecekan
    urine. Al-Zaytun dengan motonya pusat pendidikan dan pengembangan
    budaya toleransi dan perdamaian telah melaju dan memposisikan dirinya
    sebagai pioner di berbagai bidang. Pendidikan yang menganut Pendidikan
    tanpa kekerasan menjadi ukuran untuk setiap lembaga pendidikan. Dimana
    saat itu kekerasan didunia pendidikan masih demikian kental. Minimal
    sekali terjadi saat kegiatan-kegiatan ospek. Sering kali menjadi ajang
    bagi senior memberi pelajaran bagi yuniornya.

    Kalau kita mengikuti acara khutbatul arsyi untuk santri baru di
    Al-Zaytun, demikian kental dengan penerapan kedisiplinan dan pemberian
    kajian ilmiah. Kedisiplinan melingkupi disiplin waktu, disiplin
    berpakaian, disiplin pelaksanaan ibadah shalat, disiplin dalam forum,
    tertib administrasi, dan disiplin di jalan raya. Sama sekali tidak
    ditemukan intimidasi, kekerasan fisik, maupun berbagai kesan
    perploncoan.

    Semua pelaksanaan prosedur dikontrol di level-level menejemen. Semua
    memiliki pertanggungjawaban terpusat hingga pimpinan tertinggi
    Al-Zaytun secara rutin tiap hari. Bahkan untuk hal-hal yang sangat
    urjen akan langsung dilaporkan dan difoloapi saat itu juga. Seperti
    dalam hal pemakanan, bila ada boks nasi yang kurang akan segera
    dilakukan pelacakan keberadaannya saat itu juga. Termasuk juga ketidak
    hadiran siswa disekolah, akan di lacak posisi santri yang tidak hadir
    dalam pembelajaran. Dengan demikian semua terpantau dan tertangani
    dengan segera. Alur kontrol yang berjalan rapi dan rutin meningkatkan
    efisiensi dan efektifitas kerja disetiap lini menejemen.

    Untuk mencapai standar hasil lulusan dan meningkatkan grade santri
    dilakukan sidang-sidang litbang yang dipimpin langsung oleh Syaekh Al
    Zaytun sebagai penanggung jawab utama. Sidang dihadiri oleh seluruh
    menejer-menejer dan jajaran exponen. Pada sidang litbang syaekh
    memberikan termin pada peserta yang telah terbagi ke beberapa kelompok
    untuk menyampaikan usulan-usulan bahasan. Pembahasan dilakukan setelah
    seluruh persoalan di kelompok-kelompokkan. Dengan seperti itu
    seluruhnya dapat diakomodir, dan hasil dari litbang merupakan arah
    kebijakan pendidikan dalam tahun tersebut.

    Pendidikan yang
    kompleksitasnya tinggi membutuhkan menejerial yang efektif dan ditail.
    Maka sering syaekh menyimpulkannya dengan menejemen ilahiah. Menejemen
    yang mampu menyerap aspirasi bawah dan memberikan solusi yang tepat
    untuk semua persoalan yang berkembang. Maka kemoderenan pesantren sudah
    tidak lagi dilihat dari nama modern yang dibubuhkan pada nama pondok
    tersebut. Namun lebih kearah aktifitas memenej itu sendiri. Bila
    dipandang perlu, pondok pesantren dapat mengacu standar menejemen ISO
    9000. Karena untuk saat ini standar inilah yang digunakan bersekala
    internasional.

    Tentang alzaytun

    Bangunan sekolah memang merupakan komponen pendidikan yang tidak
    bergerak. Sebagian orang mungkin berpikir tidak terlalu urjen dalam
    mencetak para inteleketual bangsa ini. Karena mungkin ada beberapa
    intelektual yang sejarahnya bersekolah di tempat yang tidak
    representatif, namun mampu tampil. Jadi mereka menilai semua itu
    tergantung dari siswa itu sendiri, ia mau belajar atau tidak. Dalam hal
    ini kita akan menfokuskan terhadap bagaimana proses pendidikan dapat
    berlangsung. Salah satu komponen pendidikan yang dipersyaratkan adalah
    tempat yang layak. Seperti di Jerman memiliki standar luas ruang kelas
    11m x 8m.

    Masjid
    Kita pahami bahwa pendidikan disana memiliki kualitas tinggi,
    dan perhatian terhadap proses pendidikan sangat konsen. Maka perlu juga
    kita menjadikan Jerman menjadi pembanding dalam membangun sebuah kampus
    pendidikan. Seperti yang saya ketahui tentang Al-Zaytun dalam membangun
    kampusnya. Semua ukuran kelasnya adalah 12m x 8m. Untuk panjang kelas,
    satu meter lebih panjang dari ukuran kelas di Jerman.

    Harapannya secara
    kualitas pun nanti akan melebihinya minimal satu strip. Bangunan dengan
    rangka baja menggambarkan visi pendidikan sepanjang masa. Diharapkan
    bangunan mampu bertahan dalam ukuran ratusan tahun lamanya. Bangunan
    dibuat dengan mutu beton tingkat tinggi. Semua menampakkan seriusnya
    pihak penyelenggara menjalankan pendidikan. Pernah dalam sebuah
    tausyiah, Syaekh menyampaikan kurang lebihnya begini; "Kami ini swasta
    yang tidak banyak dana, maka kalau kami bangun pendidikan dengan
    kualitas gedung yang kurang baik, kami harus selalu merenovasinya tiap
    tahunnya. Untuk itulah kami bangun sarana pendidikan yang mampu
    bertahan ratusan tahun lamanya, tanpa renovasi yang berarti.

    Sarana-prasarana yang dihajatkan untuk pendidikan juga cukup lengkap.
    Sarana olah raga disiapkan seperti 6 lapangan sepakbola , 2 lapangan
    hokey, 4 lapangan basket outdoor, 2 lapangan basket indoor, 2 lapangan
    tenis lapangan dan stadion utama palagan agung beserta kelengkapan.
    Sarana laboratorium dibagi 3; laboratorium ilmu dasar, laboratorium
    alam dan laboratorium komputer . Laboratorium ilmu dasar dihajatkan
    untuk memenuhi kenutuhan praktikum pelajaran fisika, biologi dan kimia.


    Sedangkan laboratorium alam disiapkan untuk para santri dalam mengenal
    lingkungannya, pertanian, peternakan-perikanan dan kehutanan.
    Laboratorium komputer diperuntukkan siswa dalam mengikuti cepatnya laju
    teknologi informasi. Program pendidikan komputer yang dilaksanakan pun
    bertaraf internasional. Al Zaytun bekerjasama dengan lembaga
    sertifikasi internasional ICDL dan ICCS. Bahkan dalam satu situs resmi
    ICDL, Al Zaytun menjadi Test Center pertama di Indonesia untuk program
    ICDL.

    Desa Mekar Jaya adalah desa pemekaran dari desa Gantar. Letaknya yang
    cukup jauh dari ramainya kota merupakan tempat yang kini Al-Zaytun
    berada. Walaupun demikian mampu menyedot perhatian penduduk negeri ini.
    Terbukti santri-santri yang membanjiri ponpes ini dari seluruh
    propinsi. Bahkan negeri tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapore,
    Timor Leste dan Afrika juga ikut menambah kebhinnekaan santri
    Al-Zaytun. Komunikasi antar daerah dan antar negara inilah yang akan
    membentuk jiwa-jiwa toleran yang tinggi. Pada akhirnya budaya hidup
    damai yang bertoleransi benar-benar akan terwujud. Mereka memiliki
    tugas untuk menjadi duta ke linkungan tempat mereka tinggal. Duta yang
    akan mensosialisasikan budaya damai dan toleransi.

    ( Penulis adalah staf pengajar sosiologi di PKBM Sekolah Kita Cibanoang, Jawa Barat) sumber: Pelita


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pesantren Al Zaytun Membangun Peradaban Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top