• Latest News

    Sunday, July 13, 2008

    Unsur Islam Dalam Pewayangan

    Oleh: Nuning Mumarisa Al Haq


    SEmarKALAU  kita melihat lagi ke
    belakang, bahwa perjalanan sejarah pewayangan yang berkembang di
    indonesia, menurut para peneliti dan para ahli sejarah, telah mengalami
    perjalanan 3 zaman.


    1. Zaman Animisme.


    Dijaman itu nenek moyang
    kita mempecayai bahwa semua yang berada dialam ini mempunyai Roh.
    Mereka beranggapan pula, bahwa Roh itu ada yang baik dan jahat. Agar
    Roh jahat tidak mengganggu manusia, maka mereka membuat gambar Roh
    jahat tersebut mirip raksasa, kemudian gambar itu ditempatkan di suatu
    tempat untuk dipuja dan di sembah.


    Dibawah gambar roh itu di sediakan
    sesjen (sesajian) berupa makanan dan minuman.Sampai saat ini hal
    tersebut masih di kerjakan oleh sebagian orang yang hidup di zaman
    modern seperti sekarang ini.


    2. Zaman Hindu.

    Pada tahun
    1500 SM, datanglah seorang hindu dari india yang bermaksud berdagang di
    Nusantara . Lama kelamaan mereka menikahi wanita pribumi sampai
    mempunyai keturunan.Yang mereka bawa dari negaranya bukan hanya barang
    barang yang hendak di perdagangkan, tetapi juga mereka membawa agama,
    bahasa, dan budaya.



    Agama yang mereka anut adalah agama Hindu, bahasa
    yang mereka gunakan adalah bahasa sansekerta dan budayanya
    adalahceritera mengenai keturunannya yang berkaitan dengan pra dewa
    yang mereka sembah. Ketiga unsur tesebut agama, bahasa dan budaya mula
    mula mereka ajarkan pada istri dan anak anaknya. Kemudian kepada
    tetangga lalu kepada masyarakat di sekitarnya. Sehingga tidak sedikit
    nenek moyang kita pada waktu itu menganut agama Hindu, mempelajari
    bahasa dan budayanya.



    Untuk menyebar ketiga unsur tadi, gambar Roh
    yang menyerupai raksasa itu di pergunakan sebagai alat peraga sehingga
    bukan hanya sekedar untuk tontonan saja tetapi juga menjadi tuntutan.
    Begitu pula dengan sesajian masih di pertahankannya hingga saat ini.

    Hal
    tersebut telah cukup lama berkembang di bumi nusantara. Sebagai
    referensi ceritanya adalah budaya keturunan mereka yang mereka bawa
    dari india. Saat itu mulai terbentuklah wayang dari kulit yang
    menyerupai roh yang nenek moyang mereka gambar. Dan di gunakan sebagai
    alat peraga untuk menyampaikan agama, bahasa, dan budaya hindu, hingga
    saat ini masih digunakan sebagai bahan cerita wayang oleh para
    pedalang, seperti Arjuna sasrabahu, Ramayana dan Mahabaratha.


    Semar3. Zaman Islam

    Pada
    700 M datanglah agama islam yang di bawa para saudagar dari gujarat.
    Pra penyebar agama islam yang ada di nusantara, khususnya di pulau jawa
    tidak serta merta menbuang bahasa dan budaya Hindu yang telah
    berkembang dan membudaya pada masyarakat Nusantara (indonesia) kala
    itu, akan tetapi sebaliknya bahasa dan budayanya tetap di pelihara
    dengan baik kecuali agamanya,tetapi juga tidak di rusak.

    Yang
    pertama kali menggunakan wayang dan sekaligus sebagai dalangnya,adalah
    Raden syahid atau yang lebih kita kenal dengan nama Sunan Kalijaga dsi
    bantu oleh para wali lainnya dan juga seorang muridnya yang keturunan
    Tiong-hwa yang bernama Jim Bun , pengelola Klenteng Sam Pho Kong di
    kadilangu. Saat itu mulailah unsur Islam masuk Dimasukan dalam ceritera
    wayang, berikut contoh penetrasi unsur islam dalam pewayangan


    a. Dikala salah satu tokoh wayang sedang bertapa, Ki Dalang mengucapkan (nyandra) :


    KEP SIDAKEP TANGAN LORO DADIA TUNGGAL. ANA UCAP MBOTEN DIUCAP, ANA
    TINGAN MBOTEN DI TINGAL, ANA AMBUNG MBOTEN DIAMBUNG. ATI NGAIT KA YANG
    WIDHI, MANAH MUNTANG KANU KAWASA, KALBU MENEKUNG KANU AGUNG,
    ANGBRANTANG KANU MURBENG ALAM”.


    artinya “ dua tangan menjadi satu,
    di simpan diantara dada dan perut tidak boleh berbicara sekalipun ada
    yang harus di bicarakan, tidak boleh melihat apapun, tidak boleh
    mendengarkan sesuru sebab kita sedang menghadapkan diri kepada ILLahi
    Robbi”

    b. Gedong duwur kali sambung, pagulingan sepi
    tringtim, balingbing lan jeruk manis..... Dst artinya: Gedung tinggi di
    sambung pakai kubah, tempat yang sepi untuk orang yang berdzikir.
    Blingbing lan jeruk manis, menggambarkan bintang dan bulan, yang bisa
    di pakai diatas kubah masjid. Semua itu menggambarkan masjid tempat
    sholat.

    c. Selain itu, nama negara dan nama tokoh tokoh wayang banyak yang dikiratakan dengan bahasa Arab contohnya adalah:

    1. ASTINA lebih dekat kepada kata ASYSYAITHAN

    Raja
    Astina bernama DURYUDANA/DURYODANA, lebih dekat kepada kata DURJANA =
    ORANG JAHAT.Dan setiap orang jahat adalah teman atau bala daripada
    setan. Dan setiap teman atau bala setan masuk ke DARONA JAHANAMA =
    NERAKA JAHANAM.



    Sebagai mana kita ketahui, bahwa dalam cerita
    wayang, Kurawa dan Astina selalu berbuat jahat kepada Putra Pandhawa,
    Astina merampas semua hak Pandhawa, kemudian mereka mencoba menghabisi
    Pandhawa.

    Kita bisa perhatikan jika seorang Dalang memainkan wayang
    pasti posisi Bala astina berada di sebelah kiri bergabung dengan dengan
    Bala raksasa, sedangkan Pandhawa selalu berada di sebelah kanan Dalang,
    keduanya memberikan gambaran melaksanakan tugas yang baik dan yang
    buruk.


    2. PANDHAWA
    bisa diartikan asal kata dari “DAWA”= DAWAUN
    (bahasa arab) yang artinya Obat. Manusia mempunyai kewajiban harus
    selalu berupaya , saling mengobati dan memberikan obat kepada seseorang
    yang terkena suatu penyakit terutama adalah penyakit yang merusak
    AQIDAH.


    Putra Pandhawa semuanya tinggal di negara AMARTA asal kata
    dari AMR yang artinya adalah perintah, yang maksudnya adalah perintah
    untuk berhubungan baik terhadap Alloh dan sesama manusia.

    3. DARMA KUSUMA,atau SAMI AJI
    Darma
    Kusuma.Darma Bhakti Kusuma harum. Apabila menginginkan nama kita
    menjadi harum, kita harus membaktikan diri kepada, Negara, bangsa dan
    agama.

    Sami aji. Sami’un = mendengar Azizun ( Yang Maha Agung ).
    Memakai jimat Layang Jamus kalimasada (Kalimat syahadat), yang berarti
    agar nama menjadi harum, kita berbakti terhadap agama, bangsa, dan
    negara dengan berpegang teguh pada keyakinan dan kesaksian kita pada
    ALKHOLIQ dan utusannya.



    4. BIMA atau ARIA WERKUDARA.

    Werkudara bisa di artikan Walkodaro
    Orang yang percaya akan kodar, kepastian dari Alloh SWT.
    Jimat yang selalu di pakai oleh Bima diantaranya
    - Anting anting manggis mateng
    - Kangkalung Naga Bandang
    - Dodot Bangbing tulu aji
    - Kuku Pancanaka

    a. Anting anting Manggis mateng
    Artinya
    apabila kita melihat buah manggis matang tampak akan tidak bagus dari
    luar tetapi apabila kita membukanya maka akan tampak putih bersih dan
    manis rasanya, yang maksudnya kita tidak boleh menilai manusia hanya
    dari luar saja (Dont judge the book from the cover.Kata tukulnya).

    b. Kangkalung Arko Naga Bandang
    Kita bisa perhatikan Wayang Bima terutama dalam wayang golek . di
    lehernya memakai kalung seperti ular naga. Hal itu menggambarkan ular
    tersebut yang bernama “Si jalur arko” , sebagai saksi apabila kita
    berbicara dusta maka ular itu akan mematuk orang yang berdusta tersebut.

    c. Dodot Bangbing tulu aji
    maksudnya adalah Bima diselimuti tiga ilmu yaitu: Iman ,Islam, Ihsan.

    d. Kuku Pancanaka
    Artinya; Kuku = Kuat, Panca = Lima, Naka = Roba = Waktu
    Yang
    bisa diartikan Apabila manusia telah mempunyai Iman, Islam, Ihsan yang
    kuat maka tidak akan pernah meninggalkan Sholat yang Lima waktu.


    Jika
    demikian wayang itu bisa dijadiakan alat peraga oleh orang yang
    menamakan dirinya dalang yang mendapatkan amanat, apakah sebagai juru
    bicara dalam menyampaikan kritik dan saran, pendidikan agama dan lain
    sebagainya, Oleh karena itu seorang yang menamakan dirinya dalang,
    hendaknya tidak hanya pintar memainkan tokoh wayang dan senda gurau
    saja akan tetapi dalang harus betul betul multi compleks dalam segi
    penguasaan ilmu, khususnya ilmu agama. Sebagai mana yang telah
    diamanatkan sunan kali jaga.



    Tidak perlu heran jika masih ada
    kalangan santri yang mengharamkan pagelaran wayang karena kadang
    seorang dalang menyajikan ceritanya jauh dari missi dan harapan Sunan
    kalijaga dulu, atas adanya kejadian itu dalang tidak perlu untuk
    tersinggung apalagi marah, tetapi dalang harus introspeksi diri dan
    belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang berkembang di masyarakat,
    dan membaca lingkungan masyarakatnya apabila akan menggelar sebuah
    pagelaran wayang.

    WALLAHU A’LAM BISHSHAWAB.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Unsur Islam Dalam Pewayangan Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top