Sekilas tentang Moralitas dalam Pandangan Umum - Buntet Pesantren Sekilas tentang Moralitas dalam Pandangan Umum - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, July 1, 2008

    Sekilas tentang Moralitas dalam Pandangan Umum





    filsafatOleh : Nuning Mumarisal Haq



    Kita sedang membicarakan masalah yang tidak kecil, yakni mengenai
    bagaimana kita harus hidup.
    Kata Socrates, seperti dilaporkan Plato dalam
    Republic (sekitar 390 S.M).  Ungkapan  ini menarik untuk dibahas terkait dengan pandangan terhadap filsafat moral secara umum.  Artinya, bagaimana orang umum (bukan agamawan) memandang moralitas. 



     



    1. Persolan definisi



    Filsafat moral adalah upaya untuk
    mensistematisasikan pengetahuan tentang hakikat moralitas dan apa yang dituntut
    dari kita --- meminjam kata kata Socrates, tentang "bagaimana
    seharusnya kita hidup"
    dan mengapa demikian. Maka akan sangat berguna
    jikalau kita dapat memulainya dengan sebuah definisi yang sederhana dan tidak
    kontroversial mengenai moralitas.Tetapi ternyata tidak mungkin demikian sebab
    akan muncul definisi pesaing, dimana masing masing mengutarakan konsep yang
    berbeda mengenai apa artinya hidup secara moral itu. Parahnya, definisi
    yang melampaui rumusan Socrates yang sederhana itu akan saling menyerang satu
    sama lain.



     



    Hal ini membuat kita harus berhati-hati, namun
    tidak perlu sampai melumpuhkan kita.saya akan coba mengutarakan apa yang  saya sebut dengan istilah "konsepsi
    minimum"dari moralitas.sebagaimana tampak dari rumusan ini konsepsi
    minimum merupakan pokok yang bisa diterima oleh setiap teori moral, paling
    tidak sebagai titik tolak.kita akan mulai dengan secara agak mendetail sebuah
    kontroversi moral.Sosok dari konsepsi minimum ini akan muncul dari pertimbangan
    kita mengenai satu buah contoh di bawah ini



     



    Contoh kasus Bayi
    Theresa



    Theresa Ann Campo Pearson, seorang anak penderita
    rumpang (anencephaly) yang dikenal publik sebagai "bayi Theresa",
    lahir di florida tahun 1992.Rumpang otak merupakan cacat bawaan yang paling
    buruk.Bayi penderita rumpang otak kadang dianggap sebagai "bayi tanpa
    otak" dan hal ini memberi gambaran yang kurang lebih benar, tetapi tidak
    tepat.Bagian penting dari otak --- cerebrum dan cerebellum --- hilang, juga
    bagian atas dari tengkorak.Namun batang otak tetap ada dan fungsi fungsi
    otonomik seperti pernapasan dan detak jantung tetap berjalan.



     



    Kisah mengenai Theresa tidak akan dikenal kalau
    orang tuanya tidak mengajukan permintaan yang tidak lazim. Ketika tahu anak
    mereka tidak akan hidup lama dan kalaupun dapat hidup, dia tidak akan mempunyai
    kesadaran orang tua bayi Theresa kemudian merelakan organ anaknya untuk
    transplantasi. Mereka berpikir ginjal, hati, jantung, paru paru dan mata Theresa
    dapat disumbangkan untuk anak anak lain, yang dapat memanfaatkannya.



     



    Kemudian para
    dokter sepaham, hal ini sebagai sesuatu yang baik. Paling sedikit 2000 anak
    memerlukan transplantasi setiap tahunnya dan organ yang bisa digunakan tidak
    pernah cukup. Meskipun demikian, organ-organ ini tidak juga diambil karena
    hukum di Florida tidak memperbolehkan pengambilan organ-organ kalau si pemberi
    belum meninggal. Ketika bayi Theresa meninggal, 9 hari kemudian saat itu sudah
    terlambat bagi anak anak lain.  Organ-organ
    itu tidak dapat ditransplantasikan lagi karena sudah rusak.



     


    Diskusi
    Publik



    Kisah mengenai bayi Theresa disurat kabar
    menimbulkan banyak diskusi publik: Apakah bisa dibenarkan organ-organ seorang
    anak, yang mengakibatkan kematiannya, demi menolong anak anak lain? Sejumlah
    "etikus" profesional, yang bekerja di unversitas, rumah sakit dan
    sekolah sekolah hukum, yang tugasnya memikirkan soal-soal seperti ini diundang
    oleh surat kabar untuk memberi komentar. Mengherankan, tenyata hanya sedikit
    dari antara mereka yang setuju dengan dokter dan orang tua anak itu. Mereka
    setia pada prinsip filosofis yang menghormati waktu tepat dalam pengambilan
    organ tersebut."



     



    Tampaknya sangat mengerikan, untuk menggunakan
    orang sebagai sarana bagi tujuan orang lain," katakanlah seorang dari ahli
    itu dan yang lain menerangkan, "tidaklah etis membunuh dengan alasan untuk
    menyelamatkan. Tidak etis pribadi A untuk menyelamatkan pribadi B." dan
    yang ketiga menambahkan: "yang sesungguhnya diminta oleh orang tua anak
    itu : bunuhlah bayi yang sedang sekarat ini supaya organ-organnya dapat
    digunakan untuk orang lain. Waaah, permintaan semacam ini memang
    mengerikan."



     



    Apakah memang mengerikan? pendapat orang terbelah
    dua. Para etikus ini berpikir begitu, sementara orang tua dan dokter dokter
    tidak demikian. Akan tetapi, kita tarik lebih dari sekedar apa yang dipikirkan
    orang orang. Kita ingin tahu kebenaran masalah ini apakah orang tua ini benar
    atau keliru jikalau merelakan organ-organ bayinya untuk transplantasi? Jikalau
    kita ingin tahu kebenaran, kita harus memiliki alasan atau argumentasi manakah
    yang diberikan dari kedua pihak itu? Apakah yang dapat dikatakan untuk
    membenarkan permintaan orang tua itu, atau untuk menyatakan bahwa permintaan
    semacam itu keliru.



     


    Argumentasi Keuntungan



    Usulan orang tua Theresa didasarkan pada gagasan
    bahwa karena Theresa segera akan meninggal, organ-organ tubuhnya tidak berguna
    bagi tubuhnya. Namun anak-anak lain dapat memanfaatkan organ-organ itu. Maka
    alasan mereka itu tampaknya: Kalau kita dapat mencari keuntungan dari
    seseorang, tanpa merugikan yang lain, kita harus melakukannya. Transplantasi
    organ-organ ini akan menguntungkan anak anak lain dan tidak merugikan bayi
    Theresa. Maka kita harus melakukan transplantasi organ-organ itu.



     



    Apakah ini benar? Tidak setiap argumen bisa
    dibenarkan;
    dan selain mengetahui argumen mana yang dapat
    diberikan untuk suatu pandangan, kita juga ingin tahu, apakah argumen argumen
    itu baik. Pada umumnya argumen dianggap baik jikalau pengandaian-pengandaiannya
    benar dan kesimpulanya muncul secara logis dari pengandaian itu. Dalam hal ini,
    kita boleh mempertanyakan mengenai pernyataan bahwa Theresa tidak dirugikan.



     



    Memang, dia akan meninggal namun bukankah hal suatu
    keburukan? Tetapi dengan merenungkannya tampaknya jelas, dalam lingkungan yang
    tragis ini, orang tuanya benar --- kehidupan buka membuatnya menjadi baik.
    Hidupnya hanya menguntungkan jikalau membuatnya mampu menjalankan dan mempunyai
    pikiran, perasaan, dan relasi relasi dengan orang lain --- dengan kata lain,
    jikalau hal itu membuatnya memiliki kehidupan. Tanpa adanya kemungkinan untuk
    hal hal demikian itu, keberadaan yang 
    semata-mata biologis tidak ada artinya. Oleh karenanya meskipun Theresa
    dapat bertahan hidup untuk beberapa hari lagi, hal itu tidak membuatnya lebih
    baik. (kita dapat membayangkan lingkungan di mana orang lain akan memperoleh
    sesuatu dengan menjaga kehidupannya, tetapi hal itu tidak sama dengan demi
    keuntungan Theresa).



     



    Pada argumentasi keuntungan mengarah kepada
    tindakan memberikan alasan yang kuat untuk melakukan transplantasi organ.



     



    Bagaimanakah argumen dari sisi yang lain?



    Argumentasi bahwa kita tidak boleh memperlakukan
    orang lain sebagai sarana.







    Para etikus yang melawan transplantasi mengajukan
    dua argumen. Pertama berdasarkan gagasan bahwa kelirulah memperlakukan
    orang sebagai sarana untuk tujuan orang lain. Mengambil organ-organ Theresa
    berarti mempergunakan dia untuk keuntungan anak anak lain; oleh karenanya hal
    itu tidak boleh dilakukan.



     



    Apakah argumen ini benar? gagasan bahwa kita tidak
    boleh "menggunakan" orang memang menarik, tetapi perlu dipertajam
    karena agak kabur maksudnya. Apa arti persisnya?



     



    "Mempergunakan orang" merupakan
    pelanggaran otonomi --- kemampuan mereka untuk memberi putusan untuk dirinya
    sendiri, bagaimana harus menghayati hidupnya sendiri, menuruti hasrat dan
    nilai-nilai mereka sendiri. Otonomi seseorang bisa dilanggar melalui
    manipulasi, kelicikan, dan penipuan. Misalnya, saya berpura-pura menjadi teman
    anda hanya karena saya tertarik bertemu dengan saudara anda. Atau saya mungkin
    menipu anda untuk memperoleh pinjaman. Atau saya berusaha meyakinkan anda akan
    senang menghadiri konser di kota lain hanya karena saya mau anda membawa serta
    saya.



     



    Dalam setiap kasus di atas, saya menipu anda untuk
    memperoleh sesuatu bagi diri saya. Otonomi juga dilanggar ketika orang dipaksa
    melakukan sesuatu yang berlawanan dengan keinginan mereka. Hal ini menjelaskan
    mengapa "menggunakan orang" "itu keliru. Hal itu juga menjadi
    keliru karena adanya penipuan, kelicikan, atau pemaksaan.



     



    Sedangkan mengambil organ-organ dari tubuh Theresa
    tidaklah berkait dengan penipuan, kelicikan atau pemaksaan. Apakah ada arti
    lain dari konsep moral selain "menggunakan dia?" tentu saja kita
    menggunakan organ-organ itu untuk keuntungan seeorang yang lain. Hal semacam
    ini kita lakukan dalam setiap transplantasi. Namun dalam hal ini, kita
    melakukan hal itu tanpa seizinnya. Apakah hal ini keliru? jika kita melakukan
    hal itu dengan berlawanan dengan kehendaknya, hal itu bisa jadi alasan keberatannya.
    Karena hal itu merupakan pelanggaran otonominya. Tetapi bayi Theresa bukan lah
    makhluk otonom; dia tidak mempunyai keinginan dan tidak bisa mengambil
    keputusan untuk dirinya. Karena dia menderita rumpang otak.



     



    Jika orang tidak mampu mengambil keputusan untuk
    diri mereka sendiri dan yang lain harus melakukan hal itu untuknya. Ada dua
    petunjuk yang masuk akal yang bisa diikuti. Pertama, kita bisa bertanya
    apakah kiranya yang bisa menjadi kepentingannya yang paling baik? Jika kita
    terapkan standar ini bagi bayi Theresa, tampaknya tak akan ada keberatan untuk
    mengambil organ-organnya, karena sebagaimana telah kita lihat,
    kepentingan-kepentingannya tidak akan dipengaruhi dengan cara apapun.Bagaimana
    pun juga, dia akan segera meninggal.



     



    Petunjuk kedua menarik bagi kesenangan pribadi
    orang yang bersangkutan;
    Kita bisa bertanya, jika dia
    dapat mengatakan kepada kita apa yag ia inginkan, apa kiranya yang akan di
    katakannya? pemikiran semacam ini sering berguna ketika kita bermasalah dengan
    orang yang kita tau, dia mempunyai kesenangan, namun tidak mampu
    mengungkapkannya (misalnya, seorang yang mengalami koma yang memberi
    tanda-tanda kemauan untuk hidup).Tetapi sayang, bayi Theresa tidak mempunyai
    kesukaan apapun dan tidak akan pernah memilikinya. Maka kita tidak dapat
    memperoleh petunjuk apapun darinya, bahkan dalam angan-angan. Pendek kata, kita
    dibiarkan untuk melakukan apa yang kita anggap paling baik.



      


    Argumentasi tentang kesalahan membunuh



    Para etikus juga
    tertarik pada prinsip bahwa membunuh seseorang untuk menyelamtkan yang lain
    adalah keliru. Mengambil organ-organ Theresa berarti membunuhnya demi
    menyelamatkan yang lain, kata mereka. Oleh karena itu, mengambil organ-organnya
    merupakan sesuatu yang salah.



     



    Apakah argumen ini benar? larangan membunuh tentu
    saja merupakan satu dari antara aturan moral yang amat penting. Meskipun
    demikian sedikit orang yang percaya bahwa membunuh selalu salah --- kebanyakan
    orang yakin bahwa pengecualian kadang dapat dibenarkan. Persoalannya adalah
    apakah mengambil organ Theresa harus dipandang sebagai pengecualian dari aturan
    tersebut.Ada banyak alasan untuk mendukung hal ini, satu dari yang paling
    penting, bahwa dia akan segera meninggal, apapun yang diusahakan, sementara
    mengambil organ-organnya paling tidak akan memberikan kebaikan bagi anak-anak
    yang lain.



     



    Siapapun yang menerima hal ini akan berpandangan
    pengandaian pertama dari argumen tersebut keliru. Biasanya memang salah
    membunuh seseorang demi menyelamatkan yang lain, tetapi tidak selalu demikian.



     



    Tetapi masih ada kemungkinan lain. Barangkali cara
    paling baik untuk memahami keseluruhan situasi adalah memandang bayi Theresa
    seolah sudah mati. Jikalau hal ini tanpaknya gila, ingat bahwa "kematian
    otak" dewasa ini sangat luas diterima sebagai kriterum untuk menyatakan
    secara legal telah meninggal. Ketika standar kematian otak diajukan pertam
    kali, hal itu ditolak atas dasar alasan bahwa orang dapat saja mati otaknya,
    sementara itu banyak hal dalam dirinya masih berlangsung --- dengan bantuan
    alat-alat mekanis, jantungnya dapat terus berdetak, dia masih dapat bernafas,
    dan sebagainya. Tetapi pada akhirnya kematian otak diterima dan orang menjadi
    terbiasa untuk melihatnya sebagai kematian yang "Nyata". Hal ini
    masuk akal karena ketika otak berhenti berfungsi, tidak ada lagi harapan untuk
    kehidupan yang sadar.



     



    Rumpang otak tidak memenuhi tuntutan teknis untuk
    bisa disebut kematian otak sebagaimana ada dalam perumusan dewasa ini. Akan
    tetapi definisi itu barangkali harus ditulis kembali agar rumpang otak dapat
    masuk di dalamnya. Sebab bagaimana pun juga, dalam kasus tersebut kehidupan
    sadar tak dapat diharapkan lagi, karena alasan bahwa ia tidak mempunyai
    cerebrum atau cerebelum. Jika rumusan kematian otak dirumuskan kembali dengan
    memasukkan didalamnya juga rumpang otak, kitapun menjadi terbiasa dengan
    gagasan bahwa bayi-bayi yang malang ini telah mati tatkala lahir, dan karena
    itu kita tidak akan beranggapan bahwa mengambil organ-organ mereka sama dengan
    membunuh. Argumen bahwa membunuh selalu salah pun lantas bisa diperdebatkan.



     



    2.  Akal dan Ketidakberpihakan



    Apakah yang dapat kita pelajari dari semua ini
    menyangkut hakikat moralitas? Sebagai awal, kita dapat mencatat dua pokok utama
    : Keputusan moral harus didukung oleh akal yang baik; moralitas menuntut
    pertimbangan tak berpihak dari setiap kepentingan individual.



     



    Moralitas dan akal



    Kasus bayi Theresa dapat melibatkan emosi tinggi.
    Perasaan seperti ini sering merupakan tanda dari seriusnya masalah moral dan
    karenanya patut di kagumi. Tetapi perasaan kuat semacam ini juga dapat menjadi
    penghambat untuk menemukan kebenaran. Jika kita merasakan emosi yang kuat
    terhadap suatu isu, maka muncul dugaan bahwa kita tahu manakah kebenaran yang
    sesungguhnya, bahkan tanpa harus mempertimbangkan argumentasi dari sisi lawan.
    Sayang, kita tidak dapat mengandalkan perasaan-perasaan kita, betapapun kuatnya
    perasaan ini. Pertama, karena mungkin hal itu irasional; semua itu bukan
    apa-apa selain dari hasil kecurigaan, penekanan kepentingan diri, atau pun
    pengondisian kultural. Lebih lanjut, perasaan orang yang berbeda-beda sering
    menyatakan kepada mereka persis sesuatu yang justru berlawanan.



     



    Jadi jika kita mau menemukan kebenaran, kita harus
    mencoba membiarkan perasaan kita dibimbing sejauh mungkin oleh akal budi, atau
    argumentasi, yang bisa diberikan untuk melawan pandangan pandangan itu
    .
    Moralitas, pertama-tama dan terutama merupakan soal yang bertautan dengan akal;
    hal yang secara moral benar untuk dilakukan, dalam lingkup dari apapun juga,
    ditentukan oleh alasan-alasan terbaik yang ada untuk melakukannya.



     



    Hal yang demikian ini tidak hanya berlaku untuk
    lingkup pandangan moral yang sempit, melainkan merupakan tuntutan umum dari
    logika yang harus diterima oleh setiap orang tak peduli posisi mereka dalam isu
    moral khusus manapun. Pokok yang dasariah boleh jadi dirumuskan dengan amat
    sederhana. Andaikata seseorang berkata bahwa anda harus melakukan hal ini atau
    hal itu (atau bahwa melakukan ini atau itu adalah salah), maka anda berhak
    untuk bertanya mengapa anda harus melakukan hal itu (atau mengapa itu keliru),
    dan jika tidak ada alasan yang baik yang diberikan, anda boleh menolak anjuran
    itu sebagai sesuatu yang tak berdasar.



     



    Denga cara demikian, keputusan keputusan moral
    dibedakan dari sekedar ungkapan dari selera pribadi.

    Jikalau seorang berkata "saya suka kopi," ia tidak perlu mempunyai
    alasan --- dia hanya membuat suatu pernyataan mengenai dirinya, dan tak lebih
    dari itu. Tak ada hal yang disebut "pembelaan secara rasional" dari
    kesukaan atau ketidak sukaan orang akan kopi. Maka tak ada perbantahan mengenai
    hal itu. Sejauh ini ia melaporkan dengan cermat seleranya, apa yang  dikatakan sudah bisa disebut benar.
    Lagipula, tak ada implikasi bahwa orang lain harus merasakan hal yang sama.
    Jika setiap orang lain di dunia membenci kopi, itu pun tak ada masalah. Tapi
    jika seseorang berkata bahwa suatu hal salah secara moral ia membutuhkan alasan
    alasan; dan jika alasan-alasannya jernih, orang lain harus mengakui kekuatan
    alasan itu. Sementara kalau ia tidak mempunyai alasan yang baik atas apa yang
    ia katakan, ia hanya bikin ulah dan kita tak perlu memberikan perhatian
    padanya.



     



    Tentu saja, tidak setiap alasan yang  dikemukakan merupakan alasan yang baik. Ada
    juga alasan yang buruk sebagaimana ada yang 
    baik, dan kebanyakan dari keterampilan berpikir moral berupa
    membicarakan perbedaan antara keduanya. Tetapi orang menyatakan perbedaan itu,
    bagaimana kita harus menaksir argumentasinya, contoh-contoh diatas melukiskan
    beberapa pokok yang relevan.



     



    Yang pertama adalah memperoleh faktanya langsung.
    Sering hal ini tidak mudah seperti kedengarannya. Salah satu sumber dari
    kesukaran itu adalah "fakta"-nya kadang kadang sulit dipastikan ---
    persoalannya mungkin begitu kompleks dan rumit sehingga para ahlipun tidak
    sepaham mengenai fakta itu. Persoalan lainnya menyangkut kecurigaan manusiawi.
    Sering kita bersedia untuk mempercayai beberapa versi dari fakta hanya karena
    hal itu mendukung prekonsepsi kita. Tetapi fakta itu ada terlepas dari
    keinginan kita dan pemikiran moral yang bertanggung jawab, berawal ketika kita
    mencoba melihat hal hal sebagaimana adanya.



     



    Sesudah faktanya ditetapkan, dan sejauh
    dimungkinkan prinsip-prinsip moral diajukan untuk dimainkan. Dalam contoh bayi
    Theresa sejumlah prinsip diajukan: bahwa kita "tidak boleh
    menggunakan" orang; bahwa kita tidak boleh membunuh seseorang untuk
    menyelamatkan orang lain; bahwa kita harus melakukan apa yang  menguntungkan orang yang terkena tindakan
    kita; bahwa setiap kehidupan itu suci; dan bahwa keliru untuk mendiskriminasikan
    orang-orang cacat.



     



    Kebanyakan argumen moral terdiri dari prinsip
    prinsip yang dikenakan pada fakta dari kasus kasus khusus.

    Maka pertanyaan yang paling jelas untuk diajukan adalah apakah prinsip prinsip
    itu benar dan apakah digunakan secara cerdik. Tetapi hal semacam ini tidaklah mengherankan.
    Penerapan metode yang sudah biasa di luar kepala tidak pernah menjadi pengganti
    yang memuaskan untuk inteligensi yang kritis di wilayah manapun. Tak terkecuali
    dalam pemikira moral.



     


    Tuntutan
    untuk tidak berpihak



    Hampir setiap teori penting dari moralitas meliputi
    pula gagasan untuk tidak berpihak. Gagasan dasarnya adalah bahwa setiap
    kepentingan individual mempunyai kepentingan yang sama: dari sudut pandang
    moral, tidak ada orag yang istimewa. Oleh karena itu, setiap dari kita harus
    mengenal bahwa kesejahteraan orang lain sama pentingnya dengan kesejahteraan
    kita.
    Tetapi pada saat yang sama, tuntutan untuk tidak berpihak
    mengecualikan skema apapun yang mengancam anggota kelompok yang kurang
    beruntung dan dianggap sebagai lebih rendah (inferior) secara moral ---
    sebagaimana orang kulit hitam, kaum yahudi (di Amerika) dan lainya dalam
    berbagai kesempatan telah diperlakukan secara demikian.



     



    Tuntutan untuk tidak berpihak sangat erat kaitannya
    dengan pokok bahwa putusan moral harus didukung oleh alasan alasan yang baik.

    Tuntutan untuk tidak berpihak, dengan demikian, pada dasarnya tidak lain
    daripada suatu penolakan terhadap sikap semena-mena dalam perlakuan terhadap
    sesama. Tuntutan semacam ini menjadi aturan yang melarang kita memperlakukan
    satu orang secara berbeda dari yang lain jikalau tak ada alasan yang  tepat untuk melakukan hal itu.
    Tetapi
    jika hal ini menjelaskan apa yang 
    keliru pada rasisme, maka hal ini juga mejelaskan mengapa dalam
    kasus-kasus khusus perlakuan berbeda terhadap yang lain bukan serta merta suatu
    sikap rasis. Misalnya, seorang direktur film membuat sebuah film mengenai hidup
    Martin Luther King, Jr. Ia tentu saja mempunyai alasan baik untuk mengecualikan
    Tom Cruise, untuk peran bintang tersebut --- karena pemilihan pemain seperti
    itu tidak masuk akal. Karena ada alasan yang tepat untuk itu,
    "diskriminasi" sang direktur bukanlah sesuatu yangsemenamena dan
    karenanya tidak bisa sikenai kritik



     



    3. Konsepsi Minimal
    Untuk Moralitas



    Konsep minimum dapatlah sekarang dinyatakan dengan
    pendek: moralitas, setidak-tidaknya (sebeli-belie tah red
    J ),
    merupakan usaha untuk membimbing tindakan seseorang dengan akal, --- yakni,
    untuk melakukan apa yang paling baik menurut akal, seraya memberi bobot yang
    sama menyangkut kepentingan setiap iindividu yang akn terkena oleh tindakan itu



     



    Hal ini antara lain memberi kepada kita suatu
    gambaran mengenai apa artinya menjadi pelaku moral yang sadar. Pelaku moral
    yang sadar adalah seseorang yang mampu mempunyai keprihatinan, tanpa pandang
    bulu kepada kepentingan setiap orang yang terkena apa yang ia lakukan; dia
    dengan hati-hati menggeser fakta dan meneliti imlikasi implikasinya; dia
    menerima prinsip-prinsip tingkah laku hanya setelah menyelidikinya dengan
    seksama untuk memperolah kepastian bahwa prinsip prinsip itu sehat; dia mau
    "mendengarkan akal bahkan juga kalau itu berarti bahwa keyakinan keyakinan
    sebelumnya perlu diperbaharui. Akhirnya dia juga bersedia untuk betindak demi
    hasil-hasil peryeimbangan ini.



     



    Tentu saja, sebagaimana dapat diharapkan, tidak setiap
    teori dapat menerima "minimum" ini ---  namun, teori-teori yang menolak konsepsi minimum akan menemui
    kesulitan-kesulitan yang berat karena menolak itu. Kebanyakan filsuf menyadari
    hal ini, maka kebanyakan teori moralitas memasukkan konsepsi minimum kedalam
    suatu bentuk atau bentuk yang lain. Mereka tidak setuju bukan menyangkut
    minimum itu tetapi mengenai bagaimana teori-teori itu harus diperluas, dan
    mungkin dimodifikasi supaya memperoleh suatu perhitungan yang sangat memuaskan.
    Waallohu a’lam bishshawab. (bagaimana menurut Anda? )



     



     


    Nuning Mumarisal Haq, Putri ke-5 KH. Fuad Hasyim, Mahasiswa S2 Fakultas FIlsafat dan ilmu budaya, Universitas Indonesia
     
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sekilas tentang Moralitas dalam Pandangan Umum Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top